Ndeleng Njobo

Loading...

ngolak-ngalik data

Memuat...

Jumat, 30 April 2010

MEKANISME DAN CARA KERJA LAMPU KEPALA PADA ENGINE STAND TOYOTA KIJANG 4K.

MEKANISME DAN CARA KERJA LAMPU KEPALA
PADA ENGINE STAND TOYOTA KIJANG 4K.

A. Landasan Teori
Sistem penerangan (lighting sistem diperlukan untuk keselamatan pengendara di malam hari. Sistem ini dibagi ke dalam sistem lempu penerangan luar, lampu penerangan dalam dan lampu peringatan. Lampu penerangan luar terdiri atas lampu besar/depan, lampu belakang, lampu jarak/kota dan lampu ruangan. Sedangkan lampu peringatan terdiri atas lampu rem, lampu tanda belok, lampu mundur dan lampu hazard.
1. Lampu besar atau lampu kepala
Lampu besar merupakan sebuah sistem lampu penerangan untuk menerangi jalan pada bagian depan kendaraan khususnya pada malam hari maupun pada keadaan jalanan berkabut. Umumnya dilengkapi lampu jauh dan lampu dekat, dan dapat dihidupkan dari salah satu switch oleh dimmer swicth.
Lampu ini ditempatkan di depan kendaraan yang berfungsi untuk menerangi jalan di malam hari. Umumnya lampu depan dilengkapi dengan lampu jarak jauh dan dekat. Nyala lampu jarak jauh dan dekat ini dikontrol oleh dimmer swicth.










LAMPU DEKAT





LAMPU JAUH
Gambar 1 . Lampu Besar

a. Tipe – tipe lampu besar
1) Lampu besar tipe Sealed Beam
Di dalam lampu ini, penggunaan bola lampu tidak terpisah. Keseluruan terpasang menjadi satu seperti bola lampu, filamen dipasang di depan kaca pemantul untuk menerangi kaca lensa.







Gambar 2 : Lampu Besar tipe Sealed Beam
Pada lampu tipe seale beam terdiri dari :
a) Reflektor dan lensa berselubung bentuk parabola, reflektor bola mempunyai permukaan aluminium yang sangat mengkilap, lensanya secara umum dirancang menjadi satu blok dengan lampu jauh yang menyinari secara horozontal.
b) Lampu pra fokus, mempunyai filamen dobel. Filamen lampu jauh yang berbeda di tengah dan filamen lampu dekat yang berada di bawahnya. Lampu ini dimasukkan pada adaptor pada bagian belakang reflektor dan dinamakan dengan penyangga atau klip berpegas.
2) lampu besar tipe semi Sealead Beam
Lampu jenis semi sealed beam merupakan unit lampu yang terbungkus secara keselurahan. Reflektor, lensa, filamen dobel dan tiga terminal yang dibuat merupakan satu bagian reflektor parabola kaca atau gelap. Reflektor parabola ini mempunyai permukaan aluminium yang sangat mengkilap, lensa mempunyai rancangan yang menyatu (integrated) serta menyinari secara horizontal dengan lampu dekat.
Perbedaan dengan tipe sealed beam adalah pada kontruksinya, dimana pada tipe semi sealed beam bola lampunya dapat diganti dengan mudah, sehingga tidak perlu penggantian secara keseluruhan bila lampunya putus atau terbakar.






Gambar 3 . Lampu besar tipe semi Sealed Beam
Bola lampu semi sealed beam terbagi dalam tipe sebagai berikut :
a) Bola lampu biasa, dan





Gambar 4 . Bola lampu biasa

b) Bola lampu Quartz-Hologen





Gambar 5 . Bola lampu Quartz-Holegen
Filamen lampu jauh berada di tengah-tengah dan lampu dekat dibawahnya tetapisatu sisi. Ada soket yang menghubungkan tiga terminal pada sirkuit lampu jauh dan lampu dekat.
Tingkatan daya secara umum pada lampu dan reflektor tiap terangnya lampu kepala adalah 65 W untuk lampu jauh dan 55 W untuk lampu dekat, lampu dipasang pada panel lampu kepala.
Pegas pengembang atau klip pegas khususnya pada lampu ini membuat bodi lampu bergerak ketika lampu distel dan dua sekrup penyetel untuk menyetel lampu ketengah tengah.
b. Rangkaian utama dari unit lampu kepala
1) Dua buah filamen terletak pada reflektor, dijaga posisinya oleh kabel penyangga yang menghubungkan tiap ujung filamen untuk saling berhubungan. Pada umumnya tahanan untuk filamen pada lampu dekat lebih besar dari pada tahanan pada filamen lampu jauh.
2) Unit sil yang berisi gas, dimana lensa dan reflektor menjadi satu dan kedap udara serta terdapat gas. Misalnya gas nitrogen atau argon, tipe halogen argon mempunyai struktur gas krypton dan halogen. Gas halogen pada umumnya tidak mengandung zat besi.
3) Lensa dengan prisma dan permukaan berlekuk-lekuk atau flute, dimana prisma akan mengatur bentuk vertical cahaya lampu dan lekukan akan mengatur bentuk horizontal cahaya lampu.
4) Reflektor yang berbentuk parabola dan berguna untuk memastikan bahwa cahaya harus melalui alat ini. Reflektor mempunyai bentuk dasar yang berlawanan dengan lensa untuk penempatan posisi kabel penyangga filamen pada bagian dalam dan jaringan yang terletak pada bagian luar. Reflektor mempunyai tempat atau dudukan putar yang terletak pada luar di samping lensa.
Ketika aliran listrik dilewatkan, filamen akan berwarna putih, panas, serta mengeluarkansinar. Beberapa cahaya langsung melalui lensa, tetapi kebanyakan disalurkan kembali lensa dari reflektor. Ketika cahaya melalui lensa, prisma dan lekukan akan membentuk pendar cahaya yang diinginkan. Gas yang berada didalamnya akan mencegah filamen dari oksidasi dan kebakaran. Campuran gas halogen akan membantu filamen ketika digunakan pada suhu tinggi untuk menghaslkan cahaya lampu lebih terang.
Tiga buah kondisi kerja dari lampu utama adalah sebagai berikut :
1) Lampu putih, cahaya yang dihasilkan dari filamen yang panas direfleksikan secara perallel pada titik tengah dari cahya.
2) Lampu dekat, cahay yang dihasilkan oleh filamen dipantulkan terhadap titik pusat dari atas dan samping dari reflektor. Hal ini menyebabkan cahaya lampu jatuh dan bergerak ke bagian kiri.
3) Pendaran atau pengendipan lampu, dihasilkan dari kedua filamen yang berpendar ketika saklar dinyalakan.
c. Jenis bola lampu
1) Bola lampu berfilamen tunggal, mempunyai bagian-bagian berikut :
a) Filamen
Filamen terbuat dari kawat tungset dan ditempatkan di dalam bola lampu. Posisi filamen ini ditopang oleh kawat yang menghubungkan tiap filamen sehingga dapat berhubungan satu sama lainnya.
b) Lampu yang mengandung gas
Bola lampu ini tahan terhadap udara dan diisi dengan gas, misalnya gas nitrogen dan argon.
c) Kontak dasar lampu
Kontak dasar lampu ini berguna sebagai tempat pemanasan. Kontak ini dipasang dalam gelas bola lampu oleh bahan yang tahan air (bola yang mempunyai kontak tunggal hanya mempunyai satu kawat penyangga filamen terhadap bagian dasarnya yang akan menjadi salah satu kawat kontaknya). Kontak ini terdapat pada posisi ujung dasar dan dibuat dari material yang tahan air dan direkatkan pada kawat penyangga filamen.
2) Bola lampu berfilamen dobel mempunyai konstruksi seperti bola lampu berfilamen tunggal tetapi tetap mempunyai hal-hal sebagai berikut :
a) Dua Dua buah filamen
Filamen yang berdaya rendah akan mempunyai ketahanan yang lebih tinggi dari pada filamen yang berdaya tinggi. Salah satu ujung filamen berhubungan dengan kontak yang sama dan ujung lainnya berhubungan dengan kontak yang setara.
b) Tiga kontak
Dua buah kontak berada pada bagian ujung dasar dan lainnya berhubungan dengan bagian dasarnya. Kontak dasarnya digunakan pada kedua filamen yang ada.
d. Perhitungan arus pada lampu besar
Saat lampu besar menyala, maka arus yang dihasilkan sebesar :
P = 2 x 90W = 180 W
I = P/V =180W/12V = 15 A
P = Daya ( Watt )
I = Arus ( ampere )
V = Tegangan yang berasal dari baterai ( Volt )
Jumlah lampu yang ada pada lampu besar adalah 2 buah, sedangkan daya pada masing – masing lampu adalah 90 W.
Maka arus yan dihasilkan pada penggunaan lampu besar adalah 15 A
2. Lampu jarak atau lampu kota
Lampu kecil untuk dalam kota ini mempunyai fungsi yang sama dengan lampu belakang. Lampu ini sebagai isyarat adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada malam hari bagi kendaraan lain. Lampu ini menyala bersamaan dengan lampu belakang.







Gambar 6 . Lampu jarak atau lampu kota

Perhitungan arus pada lampu jarak atau lampu kota depan adalah :
P = 2 x 8 W = 16 W
I = P/V =16W/12W = 1,33 A
P = Daya ( Watt )
I = Arus ( Ampere )
V = Tegangan yang berasal dari baterai ( Volt)
Jumlah lampu yang ada pada lampu kota adalah empat buah, sedangkan daya pada masing – masing lampu adalah 8 W
Maka arus yang dihasilkan adalah 1,33 A
3. Lampu Belakang
Lampu kecil ini untuk memberi tanda adanya serta lebarnya dari sebuah kendaraan pada waktu malam hari bagi kendaraan lain, baik yang ada di depan maupun di belakang. Lampu – lampu tersebut untuk yang bagian depan disebut lampu jarak (clearence light) dan untuk bagian belakang disebut lampu belakang (tail light).
Lampu ini ditempatkan di belakang, berfungsi untuk memberi isyarat adanya lebar sebuah kendaraan jika dilihat dari belakang.
a. Unit lampu belakang secara umum :
Unit ini adalah bagian integral dari lampu belakang, unit ini dikelompokan dalam lampu belakang. Unit pemisah rangkaian belakang mempunyai :
1) Lensa
Lensa pada lampu belakang menggunakan sejenis plastik dan biasanya berwarna merah.
2) Bodi dan reflektor
Bodi dan reflektor pada lampu belakang dibungkus plastik atau dibalut campuran plastik (alloy).
3) Penyangga lampu
Penyangga lampu ini berfungsi untuk menyangga dan menempatkan lampu dalam bodi. Penyangga ini dibungkus plastik dan mempunyai pegas kontak dan terminal tegangan rendah atau kabel.
4) Lampu
Lampu yang digunakan pada lampu belakang biasanya adalah lampu dengan dua buah filamen yang merupakan gabungan antara lampu belakang dengan lampu rem. Lampu belakang memiliki daya
Secara umum dua lampu belakang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi sinar lampu dengan tingkat pencahayaan medium. Tiap unitnya mempunyai : lensa, reflektor, bodi lampu, pemegang bolam dan bolam.
Urutan hubungan listrik tersebut adalah sebagai berikut :
1) Saklar penyalaan dihubungkan pada sekering.
2) Sekering dihubungkan pada salah satu terminal saklar dengan kabel berukuran ± 2 mm.
3) Terminal penahan lampu lainnya dihubungkan oleh kabel berukuran ± 2 pada bodi atau chasis (massa).
b. Perhitungan Arusnya
Saat lampu belakang menyala, maka arus yang dihasilkan sebesar :
P = 2 x 6W = 12 W
I = P/V = 12W/12V =1 A
P = Daya ( Watt )
I = Arus ( Ampere )
V= Tegangan yang berasal dari baterai ( Volt )
Jumlah lampu yang ada pada lampu belakang adalah dua buah, sedangkan daya masing – masing lampu adalah 6 W
Maka arus yang dihasilkan adalah 1 A







Gambar 7 . Lampu belakang

4. Lampu Rem
Lampu ini dilengkapi pada bagian belakang. Digunakan untuk isyarat kendaraan dibelakangnya bahwa kendaraan sedang mengurangi kecepatan sehingga dapat mencegah terjadinya benturan dengan kendaraan di belakangnya.
a. Saklar lampu rem
Adalah saklar listrik berpegas yang digunakan pada system pengereman kendaraan bermotor untuk mengontrol lampu rem. Metode pengoprasian saklar adalah secara mekanis dan hidrolis.
Tipe mekanis ditempatkan pada rangka penyangga pedal rem dan dioperasikan melalui plunyer atau tuas yang digerakkan oleh pedal rem. Kedua terminal kabel tegangan rendah atau kabel dihubungkan ke sirkuit/ hubungan lampu rem. Ketika tipe mekanis dipasangkan pada tipe hidrolis, satu saklar dipasangkan pada tiap-tiap system hidrolik, contohnya system pengereman dual dapat mempunyai dua saklar hidrolik.
b. Unit lampu rem
Unit lampu rem merupakan bagian internal rangkaian lampu belakang dan mempunyai pemisah dalam rangkaian atau akan digabungkan dalam unit lampu belakang. Kontruksi unit ini sama dengan unit lampu belakang, kecuali bolam lampu secara umum tunggal atau kontak dobel : lampu 6 W digunakan tiap unit.
c. Perhitungan arusnya
Saat lampu rem menyala, maka arus yang dihasilkan sebesar :
P = 2 x 6 = 12 W
I = P/V = 12/12 = 1 A
P = Daya ( Watt )
I = Arus ( Ampere )
V= Tegangan yang berasal dari baterai ( Volt )
Jumlah lampu yang ada pada lampu belakang adalah dua buah, sedangkan daya masing – masing lampu adalah 6 W
Maka arus yang dihasilkan adalah 1 A

5. Jaringan Kabel
Jaringan Kabel ( wiring harness ) adalah sekelompok kabel – kabel dan kawat yang masing – masing terisolasi, menghubungkan ke komponen – kompenen, dan melindungi komponen-komponen sirkuit, dan sebagainya, semuanya disatukan dalam satu unit mempermudah dihubungkannya antara komponen-komponen kelistrikan dari suatu kendaraan.
Masing – masing jaringan kabel ( wiring harness ) terdiri dari item sebagai berikut :
a. Kawat dan kabel
Ada 3 macamyang utama, kawat dan kabel – kabel yang digunakan pada kendaraan yaitu :
1) Kawat tegangan rendah
2) Kawat tegangan tinggi (pada sistem kelistrikan mesin)
3) Kabel-kabel
Beberapa tipe kabel dan kawat dibuat dengan tujuan untuk digunakan dalam beberapa kondisi yang berbeda (besarnya arus yang mengalir, temperatur, penggunaan dan lain-lain).
1) Kawat tegangan rendah
Sebagaian besar kawat dan kabel yang terdapat dalam kendaraan adalah kawat yang bertegangan rendah (low-voltage wire). Masing-masing kawat yang bertegangan rendah terdiri dari elemen kawat dan isolasinya.




Gambar 8 . Kawat tegangan rendah
b. Komponen – komponen penghubung, seperti :
1) Relay
2) Konektor
3 Baut massa
c. Komponen – komponen yang melindungi sirkuit, seperti :
1) Sekering
2) Fusible link.
5. Kelengkapan Pendukung Sistem Penerangan
Sistem kelistrikan pendukung ini merupakan rangkaian yang mengarah ke perlengkapan rangkaian kelistrikan utama. Kedudukan sistem kelistrikan pendukung tidak bisa dipisahkan dengan rangkaian sistem kelistrikan utama karena fungsinya untuk membantu dan mutlak harus ada dalam satu rangkaian pengkabelan dari suatu kendaraan.
Pada sebuah rangkaian pengkabelan sebuah kendaraan harus ada komponen-komponen tertentu yang tidak ditinggalkan, sedangkan fungsi dari komponen bermacam-macam pula, misalnya sebagai pengaman, sumber arus dan lain sebagainya. Komponen pendukung dalam rangkaian ini antara lain pembatas arus (connector). Rangkaian ini sangat terbatas pemakaian arus listrik dan berfungsi sebagai pembatas arus yang mengalir dalam ragkaian arus listrik, karena apabila arus berlebihan dalam komponen tertentu komponen tersebut dapat terbakar dan putus.
1. Sekring
Sekring berfungsi sebagai pengaman komponen kelistrikan. Masing-masing komponen kelistrikan mempunyai sekring sendiri, tetapi ada juga yang disambung paralel yaitu satu sekring dipakai untuk beberapa komponen. Sekring dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dalam memeriksa dan memasang serta melepasnya. Sekring tersebut terbuat dari timah putih dan sudah diukur kekuatannya. Dalam bentuk memanjang dan dibungkus kaca sebagai pelindung. Pada kedua ujungnya ditutup dengan logam, ketika kedua ujung timah tersebut dialiri arus yang besar maka timah tersebut akan putus dan meleleh. Jadi kekuatan timah tersebut diukur sesuai dengan kekuatan komponen listrik yang dibutuhkan. Dalam rangkaian pengkabelan sekring berfungsi sebagai pengaman utama. Untuk mempermudah pengoperasiannya sekring diletakkan dalam sebuah papan tertentu yang isinya jajaran sekring untuk mencukupi semua kebutuhan pengkabelan.
Sekring dapat dikelompokkan dalam dua tipe yaitu tipe sekring blade dan sekring cartidge.




a. Sekring tipe Catridge
Sekring tipe catridge banyak digunakan karena pada tipe ini dirancang lebih kompak dengan menggunakan elemen metal dan rumah pelindung yang tembus pandang sehingga mempermudah dalam pengamatan.





Gambar 10 . Sekering Cartridge

b. Sekring tipe blabe
Sekring tipe blade dikenal dengan tipa U yang lebih ringan dan mudah untuk menggantikannya. Nilai besarnya arus ditentukan oleh warna dari rumahnya.




Gambar 11 . Sekering Blade



Tabel warna rumah sekring dan besarnya arus.
Rate current 5 A 7,5 A 10 A 15 A 20 A
Housing colour Yellowwish brown Brown Red Blue Yellow

2. Relay
Relay adalah suatu komponen yang digunakan sebagai saklar penghubung dan pemutus untuk arus beban yang cukup besar, dikontrol oleh sinyal listrik dengan arus yang kecil. Dengan menggunakan relay , kabel yang menuju saklar tidak perlu menggunakan kabel yang tebal/besar, sebab arus yang terhubung kesaklar sangatlah kecil. Relay juga bisa berfungsi sebagai pengaman saklar. Relay mempunyai 4 terminal / kaki yaitu 30 yang terhubung dengan positif baterai, terminal 85 terhubung dengan saklar, terminal 86 terhubung dengan massa, terminal 87 terhubung dengan beban.
Relay elektromagnetik akan bekerja apabila arus listrik megalir diantara titik A dan B arus mengalir melalui kumparan dan menimbulkan daya kemagnetan di sekelilingnya. Akibatnya plunyer tertarik ke atas dan menghubungkan titik kontak sehingga titik kontak A dan B dialiri arus listrik.



Gambar 12 . Relay
Round shped relay ada dua tipe yaitu tipe dengan 3 terminal dan tipe dengan 4 terminal. Apabila switch diputar ke ON arus mengalir melalui:
1. Untuk tipe 3 terminal
B(a)coil(b)(s)massa
2. Untuk tipe 4 terminal
Terminal (s)(a)coil(b)(e)massa
Akibat gaya magnet pada coil menarik plat (c) ke atas dan point tertutup untuk mengalir arus listrik.
Penggunaan relay biasanya terdapat pada lampu besar. Bila tidak menggunakan relay dalam sirkuit lampu besar maka akan menyebabkan beberapa kesukaran sebagai berikut :
a. Sirkuit akan menjadi lebih panjang dan akan menyebabkan turunnya voltage.
b. Diperlukan jaringan kabel yang lebih besar karena arus yang besar mengalir melaluinya.
c. Arus listrik yang besar menyebabkan bunga api pada swicth, dimana akan memperpendek umur swicth dan menimbulkan bahaya saat mengendarai.
3. Connector
Connector atau yang sering disebut dengan soket digunakan untuk menghubungkan kelistrikan antara dua jaringan kabel atau antara sebuah jaringan kabel dan sebuah komponen. Connector diklasifikasikan dalam connector laki-laki dan perempuan karena bentuknya berbeda. Semua connector dilihat dari ujung yang terbuka dengan pengunci di bagian atas. Salah satu contoh connector yang digunakan pada saklar kombinasi terdiri atas 6 terminal yang masing-masing terhubung dengan beban.







Gambar 13 .Connector


4. Baterai
Baterai atau biasa yang disebut dengan “aki” bekerja dengan cara menggabungkan sel-sel secara seri satu dengan yang lain sehingga membentuk voltase yang diinginkan. Sel-sel tersebut mengandung asam dan menghasilkan daya voltase (out put) hampir 2,1 volt tiap selnya.
Dalam hal ini baterai sangatlah diperlukan, karena apabila pada sistem penerangan khususnya lampu-lampu menyala maka memerlukan arus agar lampu-lampu tersebut dapat menyala. Oleh karena itu harus selalu memeriksa keadaan batrai, apakah keadannya masih baik atau tidak. Jika baterai tersebut menggunakan tipe basah, maka kita harus selalu memeriksa keadaan air yang ada di dalamnya dan harus rajin menambah air accu apabila sudah mulai berkurang.






Gambar 14 . Baterai
5. Swicth
Switcht ( saklar ) berfungsi untuk menyambung dan memutus arus, sehinnga sistem penerangan dapat dihidupkan dan dimatikan sesuai dengan kebutuhan. Swicth ( saklar ) yang terdapat dalam suatu kendaraan umumnya menggunakan satu atau dua tipe, switch yang dioperasikan langsung oleh tangan dan swicth yang dioperasikan oleh tekanan, tekanan hidraulis atau temperatur. Swicth yang dioperasikan langsung oleh tangan diantaranya :
a. Swicth putar
Swicth putar (Rotary Swicth) mempunyai contack point yang diatur satu sumbu di atas sebuah permukaan yang bundar (plat) dan dioperasikan dengan cara memutar tombol atau kunci. Sebagai contoh kunci kontak.
b. Swicth tekan
Swicth tekan (push swicth) dilengkapi dengan contack point dan diopersikan dengan jalan menekan tombol swicth. Contah, swicth lampu hazard.
c. Swicth ungkit
Sesuai namanya, swicth ungkit (seesaw switch) mempunyai dua ujung. Contack point-nya akan menutup saat ON ditekan, dan membuka saat ujung OFF ditekan.
d. Swicth tuas
Contack point dari swicth tuas (lever swicth) dioperasikan oleh gerakan tuas ke atas, ke bawah, ke kiri dan ke kanan. Sebagai contoh swicth tanda belok.





Gambar 1 5 . Saklar kombinasi.
B. Proses Pembuatan, Konstruksi, dan Cara Kerja
Pembuatan alat peraga sistem kelistrikan pada engine stand ini menggunakan bahan utama Egine stand. Pengunaan engine stand ini akan mempermudah dan mempercepat proses pembuatan.
1. Proses Pembuatan
Pembuatan alat peraga sistem penerangan pada engine stand ini pertama yang kita lakukan adalah membuat tempat atau dudukan untuk lampu-lampu penerangan dengan cara menyiapkan besi siku ukuran 4/4 dan dipotong sesuai ukuran yang kita butuhkan. Selanjutnya setelah kita mendapatkan potongan yang kita inginkan kita memasangnya di stand dengan cara pengelasan, setelah terpasang semua kita melakukan pengecatan kemudian pemasangan komponen kelistrikan bodi.
a. Alat yang digunakan
Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan alat peraga sistem kelistrikan body adalah sebagai berikut:
Alat Jumlah
Kunci pas
Kunci ring
Obeng plus dan min
Tang
Palu
Mesin gerinda
Bor tangan
Gerinda tangan
Las listrik 220V 250A
Gergaji besi
Mistar
Meteran
Kikir
Solder
Gunting 1 set
1 set
1 set
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1.buah
1.buah
1 buah
Tabel 2. Alat yang digunakan
b. Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan alat peraga system kelistrikan bodi adalah sebagai berikut:
Bahan Jumlah
Besi siku 4x4 12 meter
Lampu depan kijang
Bohlam 12 V
Terminal +,-
Sen bemper belakang
Reteng
Kabel 2 mm
Flaser 12V
Klakson
Lampu belakang
Relay
Isolasi
Elektroda
Soket relay
Lampu sein depan
Saklar kombinasi
Sekring 2 buah
2 buah
2 buah
20 buah
2 buah
2 buah
2 roll
1 buah
1 buah
2 buah
2 buah
4 buah
¼ kg
2 buah
2 buah
1 buah
1 Buah
Tabel 3. Bahan yang digunakan
2. Konstruksi
Sebelum melakukan pemasangan lampu-lampu pada kelistrikan bodi, kita tentukan dahulu konstruksi alat peraga dari sebagai tempat pemasangan lampu penerangan. Konstruksi rangka menggunakan Engine stand yang telah ada dengan melakukan penambahan pada bagian depan belakang dan samping sebagai dudukan lampu depan, lampu belakang maupun lampu tanda belok. Penambahan untuk bahan menggunakan besi siku dengan ukuran 4x4 cm. Untuk saklar kombinasi, rem, dan klakson diberi lubang untuk panel sebagai dudukan dan jalan kabel menuju beban.













Gambar 16. Kontruksi alat peraga.

C. Cara Kerja dan Diagram Wiring
1. Lampu besar atau lampu depan
Arus lampu besar diambil langsung dari baterai tidak melalui kontak. Arus positif baterai mengalir melalui fusible link dan masuk ke relay terminal 30 dan 85. Dari terminal 85 arus melewati lilitan dan keluar diterminal 86 lalu ke swicth kontrol. Apabila swicth kontrol ON maka lilitan relay menjadi magnet dan menarik kontak relay yang menghubungkan antara terminal 30 dengan terminal 87 sehingga arus dari baterai masuk ke relay terminal 87 menuju lampu dan sebagai sumber arus lampu. Lampu jauh dan dekat akan menyala menunggu swicth kontrol untuk lampu jauh dan dekat ON.














Gambar 17. Rangkaian lampu kepala
Keterangan :
a. Relay
b. Fuse (sekering)
c. Switch kontrol
d. Lampu kepala
e. Lampu indikator high beam
f. Baterai
2 Lampu jarak atau lampu kota
Saat kunci kontak ON arus mengalir dari baterai melalui fusible link lalu relay diterminal 30 dan 85. dari terminal 85 arus melewati lilitan dan keluar diterminal 86 lalu menuju ke swicth kontrol. Apabila swicth kontrol ON maka lilitan relay menjadi magnet dan menarik kontak relay yang menghubungkan antar terminal 30 dan terminal 87 lalu arus dari baterai akan mengalir ke lampu kota, massa lampu kota dimassakan atau dihubungkan dengan negatif maka lampu kota menyala.












Gambar 18. Rangkaian lampu kota atau lampu jarak
Keterangan :
a. Fuse (sekering)
b. Relay
c. Saklar
d. Lampu jarak atau lampu kota
e. Baterai
D. Trouble Shoting
Bila gejala dari suatu masalah diketahui penyebabnya harus segera dipastikan dan tetap dengan cara yang ditentukan. Untuk sistem penerangan problem dapat dikatagorikan sebagai berikut :
1. Semua lampu mati
2. Lampu besar mati
3. Lampu besar redup
4. Lampu kota mati
5. Lampu tanda belok mati semua
6. Lampu tanda belok mati sebelah ( kanan atau kiri )
7. Klakson mati





1. Semua lampu mati











Gambar 19 . Alur pemeriksaan saat semua lampu mati

Poin yang harus diperiksa :
1. Periksa tegangan baterai apabila baterai lemah maka cek sistem pengisian, bila sistem pengisian tidak baik maka ganti baterai atau isi ulang air accu pada baterai
2. Periksa kabel pada tegangan positif baterai atau kabel massa dari pengencangan baut yang longgar, apabila longgar maka kencangkan.
3. Periksa fuible link, kemungkinan longgar atau putus, apabila longgar maka kencangkan dan apabila putus diganti.
4. Periksa tegangan pada konektor, kemungkinan ada sirkuit yang terbuka, cek dengan menggunakan multitester. Jika tidak ada tegangan di conektor berarti ada kabel yang putus.
5. Apabila semua uraian di atas telah diperiksa tapi lampu masih mati dapat kita simpulkan bahwa kerusakan terjadi karena pemasangan wiring harness yang salah.
2. Lampu besar mati

















Gambar 20 . Alur pemeriksaan kerusakan saat lampu besar mati

Poin yang perlu diperiksa :
2. Periksa fusible link dari kemungkinan putus atau baut pengencangannya longgar.
3. Periksa relay lampu besar dengan cara memassakan terminal 85 atau 86 dan lampu harus menyala, apabila relaynya mati maka ganti. Sedangkan apabila relaynya hidup tapi lampu masih mati maka coba periksa dari kabel massa lampu.
4. Periksa pada konektornya dari kemungkinan longgar atau rusak.
5. Periksa swicth kontrol untuk lampu besar dari kotoran atau ada sirkuit yang putus, bongkar lalu bersihkan dari kotoran.
6. Apabila semua pengecekan sudah dilakukan dan hasilnaya semua dalam keadaan baik maka kerusakan ada pada pemasangan wiring harnessnya yang salah.
3. Lampu besar redup

















Gambar 21. Alur pemeriksaan kerusakan saat lampu besar redup

Poin yang harus diperiksa :
1. Periksa keadaan dari baterai lemah atau rusak, apaila lemah periksa pengisian baterai. Bila tidak baik isi air accu atau ganti baterai yang baru.
2. Periksa kabel tegangan dari positif baterai dan massa dari kelonggaran.
3. Periksa relay lampu dari kerusakan, kemungkunan plat kontak relay yang menghubungkan arus dari terminal 30 ke terminal 87 sudah aus. Caranya dengan mengganti dengan relay yang baru.
4. Periksa kabel massa dari lampu itu sendiri.
5. Periksa dudukan lampu dari keausan atau kelonggaran, jika dudukan lampu longgar (reflektor yang kendor) betulkan dan keraskan.
6. Periksa swicth lampu dim.
4. Lampu kota mati
















Gambar 22 . Alur pemeriksaan kerusakan saat lampu kota mati


Poin yang perlu diperiksa :
1. Periksa fusible link dari kemungkinan putus atau baut pengencangnya longgar.
2. Periksa relay lampu kota dengan cara memassakan terminal 85 atau 86 dan lampu harus menyala. Apabila relaynya mati maka ganti, sedangkan bila relaynya hidup tapi lampu masih mati, maka coba periksa dari kabel massa lampu.
3. Periksa pada konektornya dari kemungkinan longgar atu rusak. Maka perbaiki atau ganti.
4. Periksa swicth kontrol untuk lampu kota dari kotoran atau ada sirkuit yang putus, bongkar lalu bersihkan dari kotoran.
5. Apabila semua pengecekan sudah dilakukandan hasilnya semua dalam keadaan baik, maka kerusakan pada pemasangan wiring harnessnya yang salah.
Perawatan pada sistem penerangan
Perawatan pada sistem penerangan terbagi atas perawatan prefektif dan perawatan kuratif.
Perawatan prefektif antara lain :
1. Jangan menggunakan arus yang melebihi beban standar.
2. Cek air accu setiap dua minggu sekali, bila kurang maka tambahkan.
3. Cek kekencangan terminal positif dan negatif baterai, bila kendor kencangkan.
Perawatan kuratif atau perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan (perbaikan) :
1. Lampu besar tidak menyala, yang perlu diatasi adalah :
a. Cek filamen bola lampu kemungkinan putus dengan bola lampu yang baru.
b. Kemungkinan sekeringnya putus. Jika putus ganti sekering yang baru. Jika ternyata sekering bagus maka perlu dicek ulang lagi.
c. Cek relay lampu besar, yaitu dengan menggunakan multitester. Cara mengeceknya adalah terminal 85 akan berhubungan dengan terminal 86 dan terminal 30 dengan 87 tidak berhubungan. Bila terminal85 dengan 86 dialiri arus maka terminal 30 akan berhubungan dengan terminal 87. jika rusak maka ganti relay yang baru, jika relay bagus maka perlu cek ulang.
d. Konektor kemungkinan longgar, jika longgar kencangkan konektor.
e. Kemungkinan swicth kontrol dan ada sirkuit yang terbuka maka perbaiki, bila swicth kontrol rusak maka ganti swicth kontrol dengan yang baru.
2. Lampu kota tidak menyala, hal yang perlu di cek sama seperti yang dilakukan pada pengecekan lampu besar.

E. Hasil Perhitungan
Yang pertama – tama dihitung adalah mencari jumlah daya pada setiap komponen yang ada (lampu-lampu).
Lampu Besar : 2 x 90 W = 180 W
Lampu Jarak / kota : 2 x 8 W = 16 W
Lampu Belakang : 2 x 6 W = 12 W
Lampu Rem : 2 x 6 W = 12 W

220 W
Total keseluruhan daya dari komponen diatas adalah 220 W.
Kebutuhan arus pada lampu-lampu yang ada secara keseluruhan adalah :
I = P/V
I = 220/12
I = 18,33 A
Jika semua lampu menyala secara bersamaan maka akan memerlukan arus sebesar 18,33 A. Maka kemampuan alternator masih mampu untuk menghidupkan seluruh lampu-lampu yang ada pada engine tersebut, karena arus yang dihasilkan masih jauh dari kemampuan alternator yang ada. Arus yang dihasilkan masih lebih kecil dari kemampuan yang ada pada alternator, karena kemampuan alternator yang ada adalah 12 Volt 50 A. Sedangkan arus yang diperlukan adalah hanya sekitar 18,33 A.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar