Ndeleng Njobo

Loading...

ngolak-ngalik data

Memuat...

Jumat, 30 April 2010

SISTEM PENGAPIAN MAZDA MR 90

SISTEM PENGAPIAN MAZDA MR 90

A. Latar Belakang Masalah.
Suatu mesin dapat menghasilkan tenaga disebabkan di dalam mesin tersebut terjadi pembakaran. Mesin bertenaga panas menghasilkan pembakaran yang di ubah menjadi tenaga mekanik, disebut motor bakar. Motor bakar ada beberapa macam salah satunya adalah motor bensin. Pada motor bensin energi panas diperoleh dari hasil pembakaran campuran bensin dan udara di dalam silinder. Proses pembakaran pada motor bensin dimulai adanya loncatan bunga api.
Beberapa elemen yang sangat penting pada motor bakar yaitu tekanan kompresi. Saat pengapian yang tepat dengan bunga api yang kuat, dapat membakar campuran bahan bakar dan udara dengan baik. Dalam sistem pengapian akan menghasilkan suatu tenaga pada kendaraan yang akan menggerakkan mesin mobil. Sumber tenaga yang dihasilkan oleh mesin yang merupakan alat untuk merubah tenaga panas atau tenaga lainnya menjadi tenaga mekanik. Untuk menghasilkan loncatan bunga api dibutuhkan beberapa komponen, yaitu (1) Baterai, (2) Ignition coil, (3) Distributor, (4) Sentrifugal governor advancer, (5) Vacuum advancer, (6) Rotor, (7) Distributor cap, (8) Busi, yang dapat membakar campuran bahan bakar dan udara didalam ruang bakar. Semua elemen tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi, untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga di peroleh daya yang optimal. Sistem pengapian yang digunakan pada mobil Mazda MR 90 adalah sistem pengapian baterai. Sistem pengapian baterai pada umumnya banyak digunakan pada mobil bensin, karena kontruksi yang sederhana perawatan dan penanganannya yang lebih mudah. Dengan adanya kontruksi yang sederhana kemungkinan terjadi kerusakan pada sistem pengapian, maka penulis mencoba menganalisis dan mengatasi sistem pengapian dengan alasan sebagai berikut:
1. Memahami lebih dalam sistem pengapian pada mesin Mazda MR 90.
2. Sistem pengapian merupakan salah satu dari sistem kelistrikan mesin yang paling utama pada motor bensin.
B. Tujuan Dan Manfaat.
Proyek akhir ini diajukan untuk mempelajari lebih dalam tentang sistem pengapian dan gangguan yang terjadi pada mobil Mazda MR 90 meliputi gangguan pada: busi, kabel tegangan tinggi, ignition advancer, kondensor, ignition coil, breaker point, maka penulis membatasi permasalahan dengan judul Analisa Dan Cara Mengatasi Gangguan Sistem Pengapian Mazda MR 90.
Berdasarkan uraian diatas permasalahan yang perlu diperhatikan dalam sistem pengapian pada mesin Mazda MR 90 adalah sebagai berikut :
a. Kontruksi dan cara kerja sistem pengapian yang digunakan pada mesin Mazda MR 90.
b. Memahami kerusakan yang sering terjadi pada komponen sistem pengapian pada Mazda MR 90 seperti: ignition coil, distributor, busi, platina.
c. Cara mengatasi atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada komponen - komponen pada Mazda MR 90.
1. Tujuan.
Tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam pembahasan sistem pengapian baterai pada mesin Mazda MR 90 yaitu:
a. Dapat memahami prinsip kerja dan mengenal komponen - komponen sistem pengapian pada Mazda MR 90.
b. Dapat melakukan pengamatan komponen - komponen secara langsung dan membongkar serta merakit kenbali komponen yang terdapat pada sistem pengapian baterai pada mesin Mazda MR 90.
c. Dapat mengetahui dan cara mengatasi gangguan kerusakan sistem pengapian pada Mazda MR 90.
2. Manfaat.
Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan sistem pengapian baterai pada Mazda MR 90 yaitu:
a. Dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang sistem pengapian yang digunakan pada Mazda MR 90.
b. Dapat memahami prinsip kerja dan mengenal komponen - komponen sistem pengapian pada Mazda MR 90.
c. Dapat memperbaiki apabila terdapat kerusakan sistem pengapian pada Mazda MR 90.



BAB II
ANALISA DAN CARA MENGATASI GANGGUAN
SISTEM PENGAPIAN PADA MAZDA MR 90

A. Kajian Teori.
1. Pengertian Motor Bensin.
Motor bensin adalah motor pembakaran dalam, yang beroperasi dengan bahan bakar bensin. Temperatur pada ruang bakar kira - kira 4000C, pada saat terbakarnya campuran bahan bakar dan udara. Sementara naiknya temperatur yang terdapat pada motor bensin dikarenakan adanya bunga api listrik yang masuk melalui busi kedalam ruang bakar.
Bunga api yang baik diperlukan agar memperoleh tegangan yang tinggi. Pada saat bahan bakar dan udara dikompresikan di dalam silinder bunga api sulit untuk melewati udara. Karena saat kompresi, udara mempunyai tahanan listrik yang sangat kuat. Maka busi membutuhkan tegangan yang tinggi untuk menghasilkan bunga api yang baik. Sistem pengapian berfungsi untuk membakar campuran bahan bakar dan udara yang sudah dikompresikan di dalam ruang bakar.
Motor bensin 4 (empat) langkah, untuk satu kali usaha memerlukan dua kali putaran poros engkol dan empat kali langkah torak proses yang terjadi pada motor empat langkah terdiri dari langkah hisap, langkah kompresi, langkah usaha dan langkah buang.

Gambar 1. Cara Kerja Mesin Bensin 4 Langkah.
(Toyota Astra Motor New Step 1, 1995 )

a. Langkah hisap.
Pada langkah hisap piston bergerak pada titik mati atas ( TMA ) ke titik mati bawah ( TMB ). Sementara posisi katup masuk membuka dan katup buang menutup, maka bahan bakar dan udara masuk ke ruang bakar karena adanya hisapan dari torak atau kevakuman yang terjadi di dalam silinder oleh gerakan piston.
b. Langkah kompresi.
Pada saat langkah kompresi piston bergerak dari titik mati bawah (TMB) ke titik mati atas (TMA), Posisi katup buang dan katup masuk menutup. Temperatur campuran udara dan bensin menjadi naik karena terjadinya tekanan kompresi di dalam silinder sehingga campuran bahan bakar dan udara mudah terbakar, pada langkah ini poros engkol berputar satu kali.

c. Langkah usaha.
Saat piston mencapai titik mati atas ( TMA ) waktu langkah akhir kompresi busi memercikkan bunga api untuk membakar campuran bahan bakar dan udara yang telah dikompresikan di dalam ruang bakar. Dengan terjadinya pembakaran maka hasil dari kekuatan dari tekanan gas hasil pembakaran yang tinggi mendorong piston ke bawah sampai ke titik mati bawah ( TMB ) usaha ini yang menjadi tenaga mesin.
d. Langkah buang.
Pada saat langkah buang gas sisa pembakaran dibuang dari dalam silinder melalui katup buang. Posisi katup buang terbuka dan piston bergerak dari titik mati bawah ( TMB ) ke titik mati atas ( TMA ) sehinga gas keluar dari dalam silinder karena adanya tekanan atau dorongan dari dalam silinder yang di lakukan oleh piston. Saat piston mencapai titik mati atas ( TMA ) katup masuk mulai membuka kembali untuk melakukan langkah hisap sedangkan katup buang belum menutup dengan rapat kembali, ini di sebut dengan overlap.
2. Prinsip Pembangkit Tegangan Tinggi.
a. Induksi bersama.
Bila dua belah kumparan disusun dalam satu garis dan besarnya arus yang mengalir pada satu kumparan primer di ubah, maka tegangan induksi akan mengalir pada kumparan sekunder. Apabila arus mengalir pada kumparan primer, maka tidak akan terjadi perubahan garis gaya magnet dengan demikian tidak ada tegangan induksi pada kumparean sekunder.

Gambar 2. Induksi Bersama pada saat arus Mengalir Pada Kumparan Primer.
( Toyota astra Motor Elektrikal Group, 1996 )

Pada waktu switch terbuka maka arus pada kumparan primer akan diputuskan oleh garis gaya magnet yang telah terbentuk pada saat itu juga, dengan tiba-tiba menghilang pada kumparan sekunder. Adanya tegangan induksi dengan arah melawan magnet.

Gambar 3. Induksi Bersama saat Arus Diputus.
(Toyota astra Motor Step 2, 1996)



b. Besarnya tegangan induksi.
Besarnya tegangan induksi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu:
1). Besarnya garis gaya magnet.
Semakin besar garis gaya magnet yang tebentuk di dalam kumparan, maka makin besar pula tegangan yang diinduksikan.
2). Jumlah lilitan kumparan.
Makin banyak lilitan pada kumparan maka semakin tinggi tegangan yang diinduksikan. jumlah lilitan pada kumparan primary coil 150 - 300 lilitan. sedangkan pada secondary coil 15000 - 30000 lilitan.
3). Perubahan garis gaya magnet.
Makin cepat perubahan garis gaya magnet yang dibentuk oleh kumparan, semakin tinggi kumparan yang diinduksikan. Selain itu juga memperbesar tegangan pada kumparan sekunder arus yang masuk pada kumparan primer harus besar dan pemutusan arus harus secepat mungkin.
B. Komponen dan Cara Kerja Sistem Pengapian Mazda MR 90.
1. Spesifikasi Sistem Pengapian Mazda MR 90.
a. Baterai : Menggunakan baterai tipe basah yang berkapasitas 60 ampere dan mempunyai tegangan sebesar 12 volt.
b. Ignition coil : Menggunakan ignition coil tipe basah atau berpendingin oli yang mempunyai tegangan masuk sebesar 12 volt pada kumparan primer dengan hambatan gulungan sebesar 3.1 ohm, dan tegangan keluar lebih dari 10.000 volt pada kumparan sekunder dengan hambatan gulungan sebesar 7.2 – 10.8 kilo ohm.
c. Breaker point : Celah breaker point 0,5 ± 0,05 mm, sedangkan sudut dwell-nya 49º - 55º.
d. Kondensor : Ukuran yang digunakan adalah 0,20 – 0,24 mikrofarad.
e. Kabel tegangan tinggi : Tahanan kabel tegangan tinggi
No 1 No 2 No 3 No 4
± 11,4 kΩ ±9,0 kΩ ±8,8 kΩ ±6,4 kΩ

f. Busi : Denso seri W 16EX – U, dengan celah 0,7- 0,8 m.

2. Komponen Sistem Pengapian Mazda MR 90.
a. Baterai.
Baterai adalah pembangkit tenaga listrik. Baterai menghimpun tenaga listrik dalam bentuk tenaga kimia. Bila tenaga listrik berkurang, baterai dapat diisi kembali dengan aliran listrik. Baterai terdiri atas beberapa sel pembangkit tenaga listrik yang dihubungkan secara seri.





Gambar 4. konstruksi baterai.
1. Kotak baterai.
Kotak baterai merupakan tempat penampung elektrolit dan elemen baterai. Pada kotak baterai terdapat ukuran ketinggian elektrolit yaitu tanda lower dan upper.
2. Elemen baterai.
Elemen baterai adalah suatu kesatuan dari plat - plat negatif dan positif, dipasang secara berselang - seling yang di batasi oleh separator dan fiberglas di dalam kotak baterai.
3. Tutup baterai.
Pada tutup lubang baterai terdapat ventilasi, untuk memasukkan elektrolit selain itu juga berguna untuk memisahkan gas (hidrogen) yang tebentuk setelah pengisian dan uap asam sulfat di dalam baterai.
4. Elektrolit.
Elektrolit adalah larutan asam sulfat dan air suling berat jenis elektrolit yang baik bila di ukur dengan hidrometer 1,260 sampai dengan 1,280 pada temperatur 200c. Karena baterai merupakan komponen yang paling penting di dalam sistem kelistrikan mobil, untuk itu kondisi baterai harus di jaga. Apabila baterai tegangannya kurang sebaiknya diisi kembali dan dalam pengisian dibatasi dibawah 0,1 dari capasitas baterai.



b. Ignition coil.
Ignition coil berfungsi mengubah tegangan 12 volt yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi 10.000 volt atau lebih besar lagi, untuk menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada busi. Kumparan primer dan kumparan sekunder digulung pada inti besi. Kumparan - kumparan ini akan menaikkan tegangan yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi dengan cara menginduksikan magnet listrik.

















Gambar 5. Penampang Ignition Coil.

Kontruksi ignition coil terdiri dari core (inti besi) yang di kelilingi oleh kumparan inti besi terbuat dari baja silikon tipis yang di gulung ketat atau dikelilingi oleh kumparan. Sementara bahan dari kumparan terbuat adalah kawat tembaga tipis berdiameter 0,05 - 0,1 mm yang dililitkan pada inti besi kira - kira 15.000 - 30.000 kali lilitan. Sedangkan primary coil (kumparan primer) terbuat dari kawat tembaga yang lebih tebal berdiameter 0,5 – 1,0 mm yang dililitkan 150 - 300 kali lilitan menggelilingi kumparan sekunder.
Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat antara lapisan satu dengan yang lainya dengan cara disekat atau diberi batasan dengan menggunakan insulating paper (kertas yang mempunyai tahanan tinggi). Di dalam case (tabung) ignition coil terdapat minyak atau campuran penyekat untuk menambah daya tahan terhadap panas. Agar ignition coil mampu bertahan lebih lama















c. Distributor

Gambar 6. Komponen Distributor
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)















Gambar 7. Distributor.

Komponen - komponen distributor dibagi menjadi beberapa bagian antara lain :
1). Breaker point (Platina).
Breaker point atau platina adalah camlobe (nok). fungsi breaker point atau platina adalah untuk memutuskan dan menghubungkan arus listrik dari kumparan primer ke massa. Apabila terjadi penginduksian pada sekunder coil maka terjadi pada saat breaker point terputus atau terbuka. Membuka dan menutupnya breaker point karena adanya camlobe. Poros governor digerakkan oleh camshaft dengan kecepatan setengah dari putaran mesin. Cam memiliki camlobe yang sama dengan jumlah silinder.











Gambar 8. Breaker Point.

Sudut dwell pada masing-masing mesin bensin mempunyai spesifikasi yang berbeda - beda. Sudut dwell tersebut adalah sudut putaran distributor (cam) mulai breaker point tertutup oleh breaker arm spring sampai terbuka oleh camlobe berikutnya.
Celah platina sangat berpengaruh pada sudut dwell, celah kontak yang terlalu kecil dapat mengakibatkan dwell angle menjadi besar, dan dwell angle yang terlalu besar dapat berakibat pada breaker point, semakin lama arus yang mengalir lebih besar sehingga akan menaikkan temperatur primary coil serta inti besi akan menurunkan tegangan induksi yang diakibatkan oleh menurunnya kekuatan magnet. Sedangkan celah kontak yang telalu besar dapat menyebabkan dwell angle terlalu kecil akan mengakibatkan menutupnya titik kontak akan lebih singkat, akibatnya arus yang mengalir pada primary coil masih kecil dan tegangan induksi yang diciptakan akan lebih kecil dari 300 Volt. Untuk itu celah kontak pada breaker point harus sesuai dengan spesifikasi pada mesin.
2). Rotor
Rotor berfungsi membagikan tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh secondary coil pada ignition coil dan melalui kabel tegangan tinggi kemudian dialirkan ke busi, pada tiap - tiap silinder sesuai dengan urutan pengapian. Rotor terbuat dari ebonite yang bagian atasnya terdapat besi kuningan. Apabila lengan rotor berputar, arus mengalir melalui elektroda ( ujung rotor yang terbuat dari kuningan ) dan memercikkan bunga api yang melompati celah menuju masing – masing terminal busi.








Gambar 9. Rotor.
3). Kondensor.
Kondensor berfungsi untuk mempercepat pemutusan arus primary coil sehingga mencegah terjadinya loncatan bunga api listrik pada breaker point. Kondensor bekerja pada saat breaker point membuka dan arus disimpan sementara di kondensor. Hal ini mempercepat arus primary coil yang menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil bertambah tinggi. Kapasitas kondensor diukur dalam microfarad.

Gambar 10. Kondensor.
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

4). Ignition Advancer.
Output atau tenaga mesin akan semaksimal mungkin, apabila tekanan pembakaran maksimum tetap berada pada 100 setelah TMA, akan tetapi karena ditentukan oleh perambatan api, maka campuran udara dan bahan bakar harus dibakar sebelum titik mati atas. Saat - saat seperti ini disebut saat pengapian ( ignition timing ). Diperlukan beberapa peralatan untuk memajukan atau mengundurkan saat pengapian sehingga saat pengapian dapat disesuaikan dengan tepat, pada beban mesin dan lain - lain. Komponen - komponen yang di ubah dengan cara memajukan dan mengundurkan pengapian.
a. Sentrifugal advancer.
Berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai putaran mesin, yaitu saat putaran mesin naik maka sentrifugal akan menggeser base plate untuk memajukan saat pengapian.







Gambar 11. Sentrifugal Advancer.

Pemeriksaan komponen pada sentrifugal Advancer dapat dilakukan dengan cara menghidupkan mesin, lepas vacuum hose dan sumbat vacuum hose tersebut, naikkan putaran mesin dan periksa saat pengapian dengan timing light apakah terjadi pemajuan saat pengapian sesuai pertambahan putaran mesin, jika tidak terjadi pemajuan saat pengapian maka lepas distributor dan periksa dan gantilah sentrifugal spring.
b. Vacuum advancer.
Berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai beban mesin, yaitu saat kevakuman dalam karburator naik maka tekanan dalam diafragma bertambah dan menekan spring serta controler rod sehingga akan menggeser base plate untuk memajukan saat pengapian.








Gambar 12. Vacuum Advancer.

Pemeriksaan vacuum advancer dapat dilakukan dengan cara menghidupkan mesin, hubungkan vacuum pump ke nipple dan tambahkan vacuum pada vacuum pump secara bertahap dan periksa apakah terdapat pemajuan saat pengapian sesuai penambahan vacuum pada vacuum pump. Jika tidak terjadi pemajuan saat pengapian kemungkinan besar terjadi gangguan pada diafragma atau pada spring. Untuk kerusakan tersebut lepaskan ditributor dan gantilah komponen yang mengalami gangguan.








Gambar 13. Cara Kerja Vacuum Advancer.
d. Kabel Tegangan Tinggi.
Kabel tegangan tinggi mampu mengalirkan atau menghantarkan arus tegangan tinggi yang dihasilkan secondary coil di dalam ignition coil ke masing - masing busi melalui distributor tanpa adanya kebocoran, oleh sebab itu penghantar (core) dibungkus dengan isolator karet yang tebal seperti tampak pada gambar, gunanya untuk mencegah terjadinya kebocoran arus listrik tegangan tinggi. Isulator karet (rubber insulator) kemudian dilapisi oleh pembungkus (sheath).
Kabel resistive terbuat dari fiberglass yang dipadu dengan karbon dan karet sintetis yang digunakan sebagai core untuk memberikan peregangan yang kuat untuk meredam bunyi pengapian (ignition noise) pada radio. Tanda tahanan dicetak pada permukaan pembungkus sebagai pertanda bahwa inti dari kabel tegangan tinggi adalah kabel tahanan (resistive wire).
Kabel tegangan tinggi yang digunakan pada mobil Mazda MR 90 jumlahnya ada lima, satu kabel tegangan tinggi berada di tengah sebagai penyalur arus kuat listrik dari ignition coil yang selalu berhubungan dengan rotor. Empat kabel tegangan tinggi lainnya berada di pinggir sebagai penerima arus kuat listrik melalui elektroda rotor yang akan disalurkan ke busi sesuai urutan pengapian.












Gambar 14. Kabel Tegangan Tinggi.

Pemeriksaan pada kabel tegangan tinggi meliputi pemeriksaan cap terhadap keretakan dan pemeriksaan tahanan kabel tegangan tinggi. Spesifikasi tahanan kabel tegangan tinggi sistem pengapian konvensional Mazda MR 90 adalah 16.000 ohm per 1 meter.







Gambar 15. Pengukuran Kabel Tegangan Tinggi.
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)



e. Busi.
Tegangan tinggi yang dihasilkan pada kumparan sekunder ignition coil dikeluarkan (discharge) diantara elektroda tengah dan elektroda massa busi. Bagian - bagian busi terdiri dari isolator, casing dan elektroda tengah, fungsi dari isolator keramik adalah untuk memegang elektroda tengah dan sebagai isolator elektroda tengah dengan casing menyangga isolator elektronik dan sebagai mounting busi terhadap mesin.








Gambar 16. Busi

Elektroda tengah terdiri dari sumbu pusat yang berfungsi mengalirkan dan meradiasikan panas yang ditimbulkan oleh elektroda. Seal glass merapatkan centershalf dan isolator keramik, resistor mengurangi suara pengapian, juga sebagai penangkal gangguan frekuensi gelombang radio. Coper core (inti tembaga) merambatkan panas dari elektroda dan ujung isolator agar cepat dingin, sementara itu elektroda tengah membangkitkan loncatan bunga api ke massa. Elektroda massa dibuat sama dengan elektroda tengah dengan nama alur U (U groove) dan alur V (V grove) bentuk khusus elektroda tersebut dengan tujuan memudahakan loncatan bunga api ke massa agar menaikkan kemampuan pengapian, agar sistem kerja busi dapat mencapai suhu yang semaksimal mungkin dan kotoran pada busi tidak terlalu banyak atau karbon yang melekat pada busi dapat terbakar secara maksimal. Cepat tidaknya busi menjadi panas tergantung pada busi panjang pendeknya atau diameter isolator yang diukur dari penyekat bawah. Sementara itu busi terdiri dari dua jenis yaitu busi panas dan busi dingin.

Gambar 17. Kontroksi Busi dingin dan panas
(Toyota Astra Motor Elektrical Group)

Busi panas adalah busi yang bisa meradiasikan panasnya hanya sedikit dikarenakan busi tersebut menahan panas busi, busi ini baik digunakan pada motor yang bekerjanya lebih ringan. Sedangkan busi dingin adalah busi yasng meradiasikan panasnya lebih banyak, busi ini lebih cocok pada motor yang daya kerjanya lebih berat.
Kemampuan meradiasikan panas dituliskan dalam nomor kode pada busi disebut busi tingkat panas. Penulisan tingkat panas masing - masing pabrik mempunyai penulisan kode yang berbeda :
Busi NGK : 2 4 5 6 7 8 9
Busi ND : 9 14 16 20 22 27 27
Busi CHAMPION : 95 92 87 82 78
Busi panas Busi dingin
3. Cara kerja sistem pengapian baterai.
a. Breaker point tertutup.
Saat ignition switch (kontak) dihubungkan arus dari baterai mengalir dari ignition switch (kontak) menuju ke terminal positif primary coil (kumparan primer), negatif terminal coil dan breaker point, selanjutnya ke massa. Akibatnya terbentuk garis gaya magnet di sekeliling kumparan.

Gambar 18. Instalasi Sistem Pengapian pada Saat Breaker Point Tertutup.
( Toyota Astra Motor Elektrikal Group)





b. Breaker point terbuka.
Bila poros engkol memutarkan camshaft sehingga distributor cam membuka breaker point, menyebabkan arus yang mengalir melalui primary
coil tiba - tiba terputus dan arus yang mengalir ke breaker point akan diserap oleh konduktor, akibatnya garis - garis gaya magnet yang terbentuk pada primary coil (kumparan primer) mulai berkurang dikarenakan menginduksi sendiri dan induksi bersama secondary coil (kumparan sekunder) maka akan membentuk induksi tegangan pada tiap - tiap kumparan. Saat penginduksian sendiri pada kumparan mencapai 500 volt sedangkan penginduksian bersama mencapai 30 kilo volt, sehingga mampu membentuk loncatan bunga api pada busi.
















Gambar 19. Instalasi Sistem Pengapian pada Saat Breaker Point Terbuka.
( Toyota Astra Motor Elektrical Group)

Saat platina ( breaker point ) dan fluksi magnet pada primary coil (kumparan primer) mulai bertambah karena terjadinya penginduksian sendiri pada primary coil (kumparan primer) maka gaya magnet listrik akan mencegah penambahan aliran arus secara tiba - tiba dalam primary coil (kumparan primer). Akibatnya arus tidak akan bertambah dengan sendirinya, hanya gaya magnetik listrik menginduksi bersama yang diabaikan pada secondary coil ( kumparan sekunder ).
4. Waktu Pengapian ( Ignition Timing ).
Ignition Timing adalah waktu dimana busi memercikkan bunga api, yaitu 5º sebelum titik mati atas, dan terjadi pembakaran di dalam ruang bakar yaitu 10º setelah titik mati atas. Loncatan bunga api listrik pada elektroda busi bersamaan dengan waktu terbukanya breaker point, yaitu dari rapat ke terbuka yang menyebabkan hubungan positif dan negatif terputus sehingga arus listrik yang tadinya sedang mengalir tiba – tiba terputus dan serentak keluar bunga api listrik kecil di breaker point.











Gambar 20. Grafik Ignition Timing.
5. Analisis dan Cara Menggatasi Gangguan Sistem Pengapian Mazda MR 90.
Sistem pengapian baterai konvensional, banyak mengalami kerusakan pada sistem pengapian. Permasalahan yang terdapat pada sistem pengapian antara lain mesin sulit hidup, idle kasar, tenaga kurang dan knocking. Berikut ini beberapa masalah dan cara mengatasi sistem pengapian pada Mazda MR 90.
a. Mesin sulit hidup.
Mesin sulit hidup dapat diakibatkan karena beberapa faktor diantaranya adalah:
1) Pada sistem penyalaan tidak adanya tegangan.
Sistem penyalaan tidak ada tegangan akan mengakibatkan mesin sulit hidup karena arus yang mengalir dari baterai tidak dapat mengalir ke terminal positif primary coil, terminal negatif primary coil dan breaker point. Sehingga tidak terbentuk medan magnet pada ignition coil, dan menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil tidak ada. Sehingga secondary coil tidak dapat mengalirkan tegangan ke busi sehingga busi tidak dapat memercikkan bunga api.
Masalah ini disebabkan adanya kerusakan pada komponen - komponen sistem pengapian antara lain :
a. Baterai rusak.
Kondisi baterai yang tidak baik dapat mengakibatkan tegangan pada sistem penyalaan menjadi kecil atau tidak bisa. Kerusakan baterai dapat diakibatkan oleh beberapa komponen baterai, kebocoran pada kontak baterai, terminal baterai rusak, terminal baterai kotor, apabila jumlah elektrolitnya kurang maka baterai akan mengganggu sistem kelistrikan yang lain juga.
Cara mengatasi gangguan baterai lemah atau rusak adalah :
Melakukan pemeriksaan secara visual keadaan kontak baterai, apabila kontak baterai rusak maka baterai harus diganti dengan yang baru. Memeriksa elektrolit yaitu jumlah elektrolit dan berat jenis elektrolit pada baterai, apabila jumlah elektrolit kurang maka tambahkan dengan suling dan periksa berat jenis elektrolit dengan menggunakan hidrometer, berat jenis elektrolit yang baik yaitu 1,26 - 1,28.









Gambar 21. Pemeriksaan Berast Jenis Elektrolit
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

Pemeriksaan pada terminal baterai, memeriksa keadaan terminal baterai dari kerusakan, bersihkan kotoran atau kerak yang terdapat pada terminal baterai dengan menggunakan air panas sampai bersih.





















Gambar 22. Pemeriksaan Terminal.
(PDS dan Periode Kainternance)

b. Sekering putus.
Sekering merupakan pengaman kelistrikan yang dapat putus dikarenakan adanya hubungan pendek atau tegangan yang berlebihan pada kabel. Sakering putus akan menyebabkan mesin tidak dapat hidup karena arus dari baterai tidak dapat mengalir atau masuk ke kunci kontak, terminal positif primary coil, terminal negatif primary coil dan breaker point. Sehingga tidak terbentuk medan magnet di dalam ignition coil, dan menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil tidak ada. Secondary coil tidak ada tegangan induksi karena tidak ada pemotongan medan magnet saat breaker point terbuka. Hal ini menyebabkan secondary coil tidak dapat mengalirkan arus ke busi sehingga busi tidak dapat memercikkan bunga api. Busi tidak dapat memercikkan bunga api meyebabkan mesin tidak dapat hidup.
Cara memperbaiki masalah tersebut, langkah pertama memeriksa kondisi kabel dari hubungan pendek, apabila kabel rusak maka kabel harus diganti. Dan apabila sekering dalam keadaan mati maka sekering harus diganti menggunakan yang baru. Ukuran sekering harus sesuai dengan spesifikasi.
c. Longgarnya konektor dari kotoran.
Hubungan konektor dapat terganggu karena adanya kotoran dan getaran mesin sehingga konektor lama kelamaan akan menjadi longgar. Longgarnya konektor akan mengakibatkan arus yang mengalir dari baterai ke kunci kontak, terminal positif primary coil, terminal negatif primary coil dan breaker point terhambat. Hambatan itu akan menyebabkan medan magnet yang terbentuk di dalam ignition coil lemah, saat breaker point terbuka, breaker point akan memotong medan magnet yang lemah, hal ini menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil lemah, sehingga secondary coil mengalirkan tegangan yang lemah ke busi, dan mengakibatkan terjadinya percikan bunga api yang lemah di busi. Percikan bunga api yang lemah di busi menyebabkan mesin sulit hidup. Cara mengatasinya, konektor dilepas dan dibersihkan apabila sudah bersih konektor dihubungkan kembali.
d. Kunci kontak dan rangkaian primer.
Memeriksa dari sumber tenaga dengan menggunakan ohmmeter, langkah pertama kunci kontak pada posisi ON hubungkan probe positif (+) voltmeter ke terminal resistor dan negatif ke massa bodi tegangannya sekitar 12 volt. Apabila tidak ada sumber tenaga berarti salah satu dari kabel terdapat kerusakan maka kabel tersebut harus diganti.
2). Pemeriksaan bagian - bagian distributor.
a. Bagian distributor.
Bagian distributor terdapat rotor dan penutup distributor yang mem bagi-bagikan tegangan tinggi kebusi. Bila tutup distributor, center, kontak piece, rotor atau bagian lain keadannya rusak, hangus, retak ataupun berkarat maka sirkuit sekunder akan terjadi kebocoran. Selain itu kelembapan pada tutup distributor juga dapat mengakibatkan kebocoran sehingga tegangan pada sistem penyalaan kurang maksimal. Cara menggatasinya, bersihkan dahulu komponen komponen yang kotor dan apabila ada komponen yang rusak harus diganti.
b. Breaker point rusak.
Breaker point berfungsi sebagai penghubung dan pemutus tegangan dari ignition coil ke massa. Celah kontak yang tidak sesuai dengan kondisi permukaan yang rusak mengakibatkan pemotongan medan magnet yang terjadi di dalam ignition coil kecil, sehingga tegangan induksi yang terjadi pada secondary coil lemah. Hal ini menyebabkan tegangan yang mengalir ke busi lemah, sehingga percikan bunga api yang terjadi di busi menjadi lemah, dan menyebabkan mesin sulit hidup.


















Gambar 23. Permukaan Titik Kontak.

Cara - cara mengatasi yaitu dengan cara membersihklan permukaan breaker point hingga rata bengan menggunakan amplas. Pasangkan dan ukur celah antara rubbing blok dan cam dengan menggunakan fuller gauge, celah ukuran 0,5 ± 0,05mm.


Gambar 24. Penyetelan Celah Breaker Point.
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

Celah kontak yang terlalu kecil dapat menyebabkan dwell angel menjadi besar dan sebaliknya celah breaker point atau platina yang terlalu besar menyebabkan dwell angle menjadi kecil.
c. Bagian Ignition Advancer.
Apabila sentrifugal advancer tidak bekerja dengan baik maka busi menyala dengan tidak tepat atau tidak teratur sesuai kecepatan dari mesin dan beban mesin juga dapat mempengaruhi. Kondisi seperti ini yang menyebabkan output mesin turun atau menyebabkan gangguan yang lain pada mesin, serta mengakibatkan akselerasi yang tidak baik, karena pada saat akselerasi putaran mesin menjadi tinggi sehingga menyebabkan waktu perambatan api semakin panjang, agar pembakaran maksimum akan tetap berada pada 10º setelah TMA, maka pengapian akan dimajukan oleh sentrifugal advancer. Cara untuk mengatasinya yaitu dengan memeriksa governor advancer, dengan cara memutar rotor dengan berlawanan arah jarum jam, melepas rotor dan lihatlah apakah rotor kembali memutar dengan arah jarum jam, periksa kondisi rotor tidak terlalu longgar.






Gambar 25. Memeriksa Governor Advancer.
(Toyota Astra Motor Elektrikal )

Memeriksa vacum advancer, lepaskan selang dan sambung pompa vakum ke diapragma. Berikan kevakuman dan lihatlah gerakan vakum advancer, apabila kevakuman advancer tidak bekerja dengan baik maka harus diperbaiki dan apabila terlalu parah harus diganti.
3). Kondensor rusak.
Kondensor rusak akan menyebabkan mesin sulit hidup, karena pemutuskan arus primer menjadi lambat, sehingga tegangan yang diinduksikan secondary coil turun. Hal ini menyebabkan tegangan yang keluar dari secondary coil lemah, maka tegangan yang mangalir ke busi menjadi lemah, sehingga percikan bunga api yang keluar dari busi menjadi lemah. Cara memeriksa kondensor dengan menggunakan multitester apabila kondisi kondensor rusak maka kondensor harus diganti.
4). Pemeriksaan ignition coil.
Memeriksa kondisi ignition koil secara visual terhadap kebocoran. Sebelum memeriksa ignition coil, panaskan dulu sampai suhu kerjanya. Periksalah tahanan kumparan primer 3,1 ohm dan periksa tahanan sekunder 7.2 – 10,8 kilo ohm. Periksalah tahanan resistor 1,6 ohm. Apabila tahanan primary coil lebih kecil dari ukuran standartnya maka arus yang mengalir lebih besar sehingga akan terbentuk medan magnet yang kuat di dalam ignition coil, saat breaker point terbuka, secondary coil akan menghasilkan tegangan yang kuat sehingga busi manghasilkan loncatan bunga api yang kuat. Apabila tahanan primary coil lebih besar dari ukuran standartnya maka arus yang mengalir akan kecil sehingga terbentuk medan magnet yang lemah di dalam ignition coil, saat breaker point terbuka, secondary coil akan menghasilkan tegangan yang kecil sehingga busi manghasilkan loncatan bunga api yang lemah. Apabila tahanan secondary coil lebih kecil dari ukuran standarnya maka tegangan yang mengalir ke busi lebih besar sehingga busi akan menghasilkan percikan bunga api yang lebih kuat. Apabila tahanan secondary coil lebih besar dari ukuran standarnya maka tegangan yang mengalir ke busi lebih kecil, sehingga busi akan menghasilkan percikan bunga api yang lemah. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti.



5). Kabel tegangan tinggi.
Ukurlah kabel tegangan tingi dengan menggunakan ohm meter apabila tahanannya 16 kilo ohm per 1 meter maka arus yang mengalir dari secondary coil ke busi terhambat, dan menyebabkan busi tidak dapat menghasilkan percikan bunga api yang kuat di dalam ruang bakar, sehingga menyebabkan mesin sulit hidup. Maka kabel tegangan tinggi harus diganti. Apabila ujung kabel ada yang berkarat maka akan menyebabkan tahanan kontak menjadi naik akan menurunkan tegangan sekunder, kabel tegangan tinggi harus diganti.
6). Busi.
Memeriksa busi satu per satu apabila busi yang isolatornya retak, elektroda kotor, atau celah elektrodanya berlebihan tidak dapat memberikan bunga api yang baik, busi sudah aus, celah elektrooda terlalu kecil dapat menyebabkan pemadaman bunga api. Sehingga tidak menimbulkan pembakaran meskipun busi memercikkan bunga api. Cara untuk mengatasinya adalah bersihkan busi dengan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi. kerusakan ulir busi, kerusakan isolasinya apabila terdapat kerusakan pada busi maka busi harus diganti. Ukuran celah busi yang baik adalah 0,8 mm.


















Gambar 26. Celah Busi
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

b. Tenaga mesin kurang.
Terjadinya tenaga mesin kurang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1). Pengapian kurang tepat.
Pada saat sistem pengapian yang kurang tepat maka kerja mesin akan terasa tidak enak atau kurang baik, terutama pada timming terlalu dimajukan, karena pada saat timming dimajukan tekanan pembakaran maksimum akan tercapai sebelum 10º sesudah titik mati atas, karena tekanan di dalam silinder akan menjadi lebih tinggi dan dapat menyebabkan knocking. Apabila timming terlalu dimundurkan tekanan pembakaran maksimum akan terjadi setelah 10º setelah titik mati atas ( torak telah turun cukup jauh ), hal ini dapat menyebabkan penurunan output pada mesin mobil. Cara untuk mengatasi tersebut dengan melakukan pemeriksaan timming pengapian dengan melepas selang fakum subdiapragma distributor, sumbatlah ujung selang. Putaran mesin pada saat idling 900 rpm pasang timming light, periksalah pengapian pada mesin Cara penyetelan pengapian, kendorkan baut pengikat pada distributor, putar putarlah distributor sampai pengapian benar benar pas kencangkan baut distributor kembali.
2). Kabel tegangan tinggi.
Ukurlah kabel tegangan tinggi dengan menggunakan ohm meter bila tahanannya 16 kilo ohm per meter gantilah kabel, karena kabel tersebut sudah rusak. Dan kabel yang ujungnya sudah berkarat maka tahanan kontak akan naik turun terhadap tegangan sekunder itu juga tidak baik untuk pengapian.
3). Kerusakan pada busi.
Kerusakan yang sering terjadi yaitu isolator keretakan, elektroda kotor atau aus, celah elektrodanya berlebihan sehingga tidak dapat memberikan bunga api yang baik, celah elektroda yang kecil menyebabkan busi bisa padam dengan sendirinya sehingga pembakaran kurang baik. Cara mengatasinya yaitu dengan cara membersihkan busi dengan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi. kerusakan ulir busi, kerusakan isolasinya, bila terdapat kerusakan pada busi maka busi harus diganti. Ukuran celah busi yang baik adalah 0,8 mm.




4). Kondensor rusak.
Kondensor yang rusak atau mati akan menyebabkan pemutusan arus primer menjadi lambat, sehingga tegangan yang diinduksikan secondary coil turun. Hal ini menyebabkan tegangan yang keluar dari secondary coil menjadi lemah. Apabila tegangan yang keluar dari secondary coil lemah, maka tegangan yang mengalir ke busi akan lemah, sehingga percikan bunga api dari busi lemah, dan menyebabkan tenaga mesin kurang. Cara memeriksa kondensor dengan menggunakan alat multitester. Apabila kondisi kondensor rusak atau setengah mati maka kondensor harus diganti dengan yang baru atau yang masih baik.
5). Breaker Point rusak.
Bagian pemutus berfungsi sebagai penghubung dan pemutus tegangan dari coil ke massa. Celah kontak yang tidak sesuai dengan kondisi permukaan yang rusak akan memperkecil permukaan persinggungan titik kontak, hal ini menyebabkan arus yang mengalir kecil, sehingga medan megnet yang terjadi di dalam ignition coil kecil, dan meyebabkan tegangan induksi yang terjadi pada secondary coil kecil, sehingga tegangan secondary coil menjadi lemah. Tegangan secondary coil yang lemah akan menyebabkan tegangan yang dialirkan ke busi akan lemah, sehingga percikan bunga api dari busi lemah, dan menyebabkan tenaga mesin kurang. Cara mengatasinya yaitu membersihkan permukaan breaker point hingga rata dengan menggunakan amplas. Pasang dan ukur celah antara rubbing blok dan cam dengan menggunakan filler gauge. Setel
celah dengan menggunakan ukuran 0,5 ± 0,05 mm. Celah breaker point yang terlalu kecil dapat mengakibatkan platina (dwell angle) menjadi besar dan sebaliknya celah platina (dwell angle) menjadi terlalu kecil.
6). Ignition Advancer.
Apabila advancer tidak bekerja dengan baik maka busi menyala dengan tidak tepat atau tidak teratur saesuai kecepatan dari mesin dan beban mesin juga dapat mempengaruhi. Kondisi seperti ini yang menyebabkan akselerasi yang tidak baik, karena pada waktu akselerasi, putaran mesin menjadi tinggi dan mengakibatkan pembakaran maksimum menjadi terlambat ( torak telah turun cukup jauh ), apabila waktu pengapian tidak dimajukan oleh sentrifugal advancer, maka akan menyebabkan menurunnya output mesin atau menyebabkan gejala yang lain. Cara - cara untuk mengatasinya, periksa governor advancer, memutar rotar dengan berlawanan arah jarum jam, melepaskan rotor dan lihatlah apakah rotor kembali memutar dengan arah jarum jam, periksa kondisi rotor tidak terlalu longgar. Pemeriksaan vakum advancer melepas selang dan sambung pompa vakum ke diavragma. Berikanlah kevakuman dan lihat gerakan vacum advancer, bila vacum advancer tidak bekerja dengan baik maka harus diganti.
7) Ignition coil rusak
Ignition coil rusak, dapat menyebabkan tenaga mesin berkurang, karena ignition coil tidak dapat membangkitkan tegangan sekunder dengan baik yang akan dialirkan ke busi. sehingga percikan bunga api yang dihasilkan oleh busi menjadi lemah. Hal ini dapat menyebabkan tenaga mesin lemah. Periksa kondisi ignition coil secara visual terhadap kebocoran. Periksalah tahanan kumparan primer 3,1 ohm pada saat kondisi panas periksa tahanan sekunder pada saat panas 7,2 – 10,8 kilo ohm. Periksalah tahanan resistor pada saat panas 1,6 ohm. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti.
c. Mesin bisa hidup tetapi pincang.
1). Busi dalam keadaan rusak.
Kerusakan yang sering terjadi pada busi yaitu: isolator retak, elektroda kotor atau sudah aus, celah elektrodanya berlebihan tidak dapat memberikan bunga api yang baik, celah elektroda yang kecil busi bisa padam dengan sendirinya sehingga pembakaran kurang baik. Cara untuk mengatasinya membersihkan busi menggunakan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi. kerusakan ulir busi, kerusakan isolasinya kemungkinan kerusakan pada busi maka busi harus diganti. Ukuran celah busi yang baik adalah 0,8 mm.
2). Bagian distributor mengalami kerusakan.
a. Bagian distributor.
Bagian distributor terdapat rotor dan penutup distributor yang membagi tegangan tinggi ke busi. Bila tutup distributor, center, kontak piece, rotor atau bagian lain rusak, hangus, retak ataupun berkarat maka sirkuit sekunder akan terjadi kebocoran selain itu kelembapan pada tutup distributor juga dapat mengakibatkan kebocoran karena kelembapan itu akan mengakibatkan tutup distributor menjadi basah, sehingga akan membelokkan tegangan yang akan dialirkan dari rotor ke kabel tegangan tinggi, lalu ke busi. Hal ini dapat menyebabkan mesin pincang. Cara cara menggatasinya bersihkan dahulu komponen - komponen yang kotor dan apabila ada komponen yang rusak harus diganti.
b. Breaker point.
Breaker point berfungsi menghubungkan dan memutuskan tegangan dari negatif coil ke massa. Celah kontak yang tidak sesuai dengan kondisi permukaan yang rusak dapat memperkecil permukaan persinggungan titik kontak, dan mengakibatkan arus yang mengalir ke primary coil menjadi kecil, pemutusan arus primary coil yang kecil akan menghasilkan tegangan induksi yang terjadi pada secondary coil kecil, yang berakibat tegangan secondary coil menjadi lemah. Tegangan secondary coil yang lemah akan menyebabkan tegangan yang dialirkan ke busi akan lemah, sehingga percikan bunga api dari busi lemah. Hal ini dapat menyebabkan mesin pincang. Cara mengatasi membersihkan permukaan breaker point hingga rata bengan menggunakan amplas. Pasangkan dan ukur celah antara rubbing blok dan cam dengan menggunakan filler gauge. Setel celah dengan menggunakan ukuran 0,5 ± 0,05 mm. Celah kontak yang terlalu kecil dapat mengakibatkan dwell angle menjadi besar dan sebaliknya celah breaker point yang terlalu besar menyebabkan dwell angle menjadi terlalu kecil.

3). Kondensor mengalami kerusakan.
Kondensor berfungsi mempercepat pemutusan arus primer yang menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil bertambah tinggi. Kondensor rusak dapat menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil berkurang karena kondensor tidak dapat memutuskan arus primer dengan cepat yang mengakibatkan tegangan induksi yang dihasilkan secondary coil menurun, sehingga tegangan yang mengalir ke busi lemah, hal ini menyebabkan percikan bunga api yang dihasilkan oleh busi lemah, sehingga dapat membuat mesin menjadi pincang.
Kondensor dapat mengalami kerusakan karena tegangan yang diberikan terlalu besar, elektrolitnya kering, dan sudah lama digunakan sehingga berubah kapasitasnya. Cara memeriksa kondensor dengan menggunakan alat multitester. apabila kondisi kondensor rusak atau setengah mati maka kondensor harus diganti dengan menggunakan kondensor yang baru atau yang masih baik.
4). Ignition coil rusak.
Ignition coil yang rusak juga dapat menyebabkan mesin menjadi pincang, karena ignition coil tidak dapat membangkitkan tegangan tinggi yang akan disalurkan ke busi melalui distributor, rotor, dan kabel tegangan tinggi. Cara memeriksa kondisi ignition coil secara visual terhadap kebocoran. Periksalah tahanan kumparan primer 3,1 ohm pada saat kondisi panas periksa tahanan sekunder pada saat panas 7,2 – 10,8 kilo ohm dengan menggunakan multitester. Cara menggunakan multitester pada jarum penunjuk posisikan pada 0º dan test lead yang berwarna hitam dihubungkan ke negatif coil dan pada test lead yang berwarna merah dihubungkan kepositif coil. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti.
6. Penyetelan Ulang Sistem Pengapian Mazda MR 90.
Penyetelan ulang ini dilakukan agar sistem pengapian dapat bekerja dengan baik, sehingga busi dapat memercikkan bunga api yang kuat guna membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresikan di dalam ruang bakar dan mesin menghasilkan output yang sempurna.
Komponen sistem pengapian yang akan di setel antara lain :
1). Breaker point.
Sebelum melakukan penyetelan breaker point, posisikan torak nomor satu pada akhir langkah kompresi ( TOP I ). Setelah itu lepas breaker point dan bersihkan titik kontaknya dengan menggunakan amplas hingga bersih atau rata, lalu pasang breaker point di dalam distributor dan hubungkan kabel breaker point ke terminal negatif ignition coil. Masukkan feeler diantara titik kontak breaker point, setel sampai diperoleh kerenggangan yang benar sesuai standartnya ( 0,5 ± 0,05 mm ). Kencangkan semua sekrup dan periksa kembali kerenggangannya.
2). Busi.
Lepaskan busi dari mesin, lalu bersihkan busi dari kotoran dan setel kerenggangan busi antara 0,7 – 0,8 mm. Pasang busi dan kencangkan.

3). Distributor ( ignition timing ).
Sebelum melakukan penyetelan, hidupkan mesin terlebih dahulu. Kendurkan baut pengikat rumah distributor, lalu putar perlahan – lahan rumah distributor searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam sampai diperoleh putaran mesin yang rata atau tenaga mesin yang maksimum. Kencangkan kebali baut pengikat distributor.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem pengapian konvensional yang telah diuraikan diatas dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:
1. Komponen sistem pengapian yang terdapat pada mesin Mazda MR 90 antara lain: baterai, ignition coil, distributor, kabel tegangan tinggi, kondensor dan busi.
2. Cara kerja sistem pengapian Mazda MR 90 adalah apabila kunci kontak dihubungkan, arus akan mengalir dari baterai melalui kunci kontak ke primary coil, ke breaker point dan ke masa. Dalam keadaan seperti ini breaker point masih dalam keadaan tertutup, akibatnya arus mengalir pada primary coil sehingga ignition coil terjadi kemagnetan, dan setelah itu karena rotor diputar oleh mesin menyebabkan breaker point membuka yang menyebabkan arus yang mengalir pada primary coil hilang. Hilangnya kemagnetan ini akan mengakibatkan primary coil dan secondary coil timbul tegangan induksi, karena perbedaan kumparan yang lebih banyak pada secondary coil maka tegangan secondary coil lebih tinggi, tegangan tinggi ini disalurkan ke rotor untuk disalurkan ke busi pada tiap silinder yang mengakhiri langkah kompresi, selanjutnya tegangan tinggi pada busi akan diubah menjadi percikan api guna pembakaran gas pada ruang bakar.

3. Pada sistem pengapian konvensional yang sering terjadi kerusakan adalah:
a. Mesin sulit hidup.
Tegangan pada sistem pengapian tidak ada dan komponen yang perlu diperiksa yaitu: kondisi baterai, sekering, ignition coil, celah breaker point, kunci kontak, busi dan kabel tegangan tinggi. Tenaga mesin kurang.
b. Tenaga mesin kurang.
Apabila tenaga mesin kurang kemungkinan tedapat kerusakan pada komponen sistem pengapian antara lain: ignition coil, ignition advancer, breaker point, kondensor, kabel tegangan tinggi dan busi.
c. Mesin dapat hidup tapi pincang.
Hal ini dapat disebabkan terjadinya kerusakan pada komponen sistem pengapian antara lain: ignition advancer, busi, ignition coil, breaker point, kondensor dan kabel tegangan tinggi
Komponen - komponen tersebut sangatlah penting untuk sistem pengapian maka harus diperiksa dan di setel secara rutin, apabila kondisi dari komponen - komponen tersebut terdapat kerusakan maka harus diganti.





B. Saran
Sistem pengapian konvensional membutuhkan perawatan dan pemeriksaan secara berkala, agar sistem pengapian dapat bekerja secara maksimal, sehingga diperoleh pengapian yang kuat dan tepat. Perawatan dan pemeriksaan sistem pengapian itu antara lain:
1. Periksalah baterai secara teratur terutama pada jumlah elektrolit, kotak baterai, dan terminal baterai yang biasanya terdapat kotoran - kotoran atau kerak - kerak yang menempel pada terminal.
2. Memeriksa kabel - kabel sistem kelistrikan untuk mencegah terjadinya arus hubungan pendek.
3. Gantilah kondensor apabila mengalami kerusakan
4. Memeriksa busi kemungkinan ada yang rusak atau sudah aus.
5. Memeriksa celah breaker point kemungkinan terjadi perubahan atau aus.
6. Memeriksa hambatan kabel tegangan tinggi kemungkinan terjadi kebocoran atau sudah mengalami korosi pada ujungnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar