Ndeleng Njobo

Loading...

ngolak-ngalik data

Memuat...

Jumat, 30 April 2010

SISTEM PENGAPIAN MAZDA MR 90

SISTEM PENGAPIAN MAZDA MR 90

A. Latar Belakang Masalah.
Suatu mesin dapat menghasilkan tenaga disebabkan di dalam mesin tersebut terjadi pembakaran. Mesin bertenaga panas menghasilkan pembakaran yang di ubah menjadi tenaga mekanik, disebut motor bakar. Motor bakar ada beberapa macam salah satunya adalah motor bensin. Pada motor bensin energi panas diperoleh dari hasil pembakaran campuran bensin dan udara di dalam silinder. Proses pembakaran pada motor bensin dimulai adanya loncatan bunga api.
Beberapa elemen yang sangat penting pada motor bakar yaitu tekanan kompresi. Saat pengapian yang tepat dengan bunga api yang kuat, dapat membakar campuran bahan bakar dan udara dengan baik. Dalam sistem pengapian akan menghasilkan suatu tenaga pada kendaraan yang akan menggerakkan mesin mobil. Sumber tenaga yang dihasilkan oleh mesin yang merupakan alat untuk merubah tenaga panas atau tenaga lainnya menjadi tenaga mekanik. Untuk menghasilkan loncatan bunga api dibutuhkan beberapa komponen, yaitu (1) Baterai, (2) Ignition coil, (3) Distributor, (4) Sentrifugal governor advancer, (5) Vacuum advancer, (6) Rotor, (7) Distributor cap, (8) Busi, yang dapat membakar campuran bahan bakar dan udara didalam ruang bakar. Semua elemen tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi, untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga di peroleh daya yang optimal. Sistem pengapian yang digunakan pada mobil Mazda MR 90 adalah sistem pengapian baterai. Sistem pengapian baterai pada umumnya banyak digunakan pada mobil bensin, karena kontruksi yang sederhana perawatan dan penanganannya yang lebih mudah. Dengan adanya kontruksi yang sederhana kemungkinan terjadi kerusakan pada sistem pengapian, maka penulis mencoba menganalisis dan mengatasi sistem pengapian dengan alasan sebagai berikut:
1. Memahami lebih dalam sistem pengapian pada mesin Mazda MR 90.
2. Sistem pengapian merupakan salah satu dari sistem kelistrikan mesin yang paling utama pada motor bensin.
B. Tujuan Dan Manfaat.
Proyek akhir ini diajukan untuk mempelajari lebih dalam tentang sistem pengapian dan gangguan yang terjadi pada mobil Mazda MR 90 meliputi gangguan pada: busi, kabel tegangan tinggi, ignition advancer, kondensor, ignition coil, breaker point, maka penulis membatasi permasalahan dengan judul Analisa Dan Cara Mengatasi Gangguan Sistem Pengapian Mazda MR 90.
Berdasarkan uraian diatas permasalahan yang perlu diperhatikan dalam sistem pengapian pada mesin Mazda MR 90 adalah sebagai berikut :
a. Kontruksi dan cara kerja sistem pengapian yang digunakan pada mesin Mazda MR 90.
b. Memahami kerusakan yang sering terjadi pada komponen sistem pengapian pada Mazda MR 90 seperti: ignition coil, distributor, busi, platina.
c. Cara mengatasi atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada komponen - komponen pada Mazda MR 90.
1. Tujuan.
Tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam pembahasan sistem pengapian baterai pada mesin Mazda MR 90 yaitu:
a. Dapat memahami prinsip kerja dan mengenal komponen - komponen sistem pengapian pada Mazda MR 90.
b. Dapat melakukan pengamatan komponen - komponen secara langsung dan membongkar serta merakit kenbali komponen yang terdapat pada sistem pengapian baterai pada mesin Mazda MR 90.
c. Dapat mengetahui dan cara mengatasi gangguan kerusakan sistem pengapian pada Mazda MR 90.
2. Manfaat.
Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan sistem pengapian baterai pada Mazda MR 90 yaitu:
a. Dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang sistem pengapian yang digunakan pada Mazda MR 90.
b. Dapat memahami prinsip kerja dan mengenal komponen - komponen sistem pengapian pada Mazda MR 90.
c. Dapat memperbaiki apabila terdapat kerusakan sistem pengapian pada Mazda MR 90.



BAB II
ANALISA DAN CARA MENGATASI GANGGUAN
SISTEM PENGAPIAN PADA MAZDA MR 90

A. Kajian Teori.
1. Pengertian Motor Bensin.
Motor bensin adalah motor pembakaran dalam, yang beroperasi dengan bahan bakar bensin. Temperatur pada ruang bakar kira - kira 4000C, pada saat terbakarnya campuran bahan bakar dan udara. Sementara naiknya temperatur yang terdapat pada motor bensin dikarenakan adanya bunga api listrik yang masuk melalui busi kedalam ruang bakar.
Bunga api yang baik diperlukan agar memperoleh tegangan yang tinggi. Pada saat bahan bakar dan udara dikompresikan di dalam silinder bunga api sulit untuk melewati udara. Karena saat kompresi, udara mempunyai tahanan listrik yang sangat kuat. Maka busi membutuhkan tegangan yang tinggi untuk menghasilkan bunga api yang baik. Sistem pengapian berfungsi untuk membakar campuran bahan bakar dan udara yang sudah dikompresikan di dalam ruang bakar.
Motor bensin 4 (empat) langkah, untuk satu kali usaha memerlukan dua kali putaran poros engkol dan empat kali langkah torak proses yang terjadi pada motor empat langkah terdiri dari langkah hisap, langkah kompresi, langkah usaha dan langkah buang.

Gambar 1. Cara Kerja Mesin Bensin 4 Langkah.
(Toyota Astra Motor New Step 1, 1995 )

a. Langkah hisap.
Pada langkah hisap piston bergerak pada titik mati atas ( TMA ) ke titik mati bawah ( TMB ). Sementara posisi katup masuk membuka dan katup buang menutup, maka bahan bakar dan udara masuk ke ruang bakar karena adanya hisapan dari torak atau kevakuman yang terjadi di dalam silinder oleh gerakan piston.
b. Langkah kompresi.
Pada saat langkah kompresi piston bergerak dari titik mati bawah (TMB) ke titik mati atas (TMA), Posisi katup buang dan katup masuk menutup. Temperatur campuran udara dan bensin menjadi naik karena terjadinya tekanan kompresi di dalam silinder sehingga campuran bahan bakar dan udara mudah terbakar, pada langkah ini poros engkol berputar satu kali.

c. Langkah usaha.
Saat piston mencapai titik mati atas ( TMA ) waktu langkah akhir kompresi busi memercikkan bunga api untuk membakar campuran bahan bakar dan udara yang telah dikompresikan di dalam ruang bakar. Dengan terjadinya pembakaran maka hasil dari kekuatan dari tekanan gas hasil pembakaran yang tinggi mendorong piston ke bawah sampai ke titik mati bawah ( TMB ) usaha ini yang menjadi tenaga mesin.
d. Langkah buang.
Pada saat langkah buang gas sisa pembakaran dibuang dari dalam silinder melalui katup buang. Posisi katup buang terbuka dan piston bergerak dari titik mati bawah ( TMB ) ke titik mati atas ( TMA ) sehinga gas keluar dari dalam silinder karena adanya tekanan atau dorongan dari dalam silinder yang di lakukan oleh piston. Saat piston mencapai titik mati atas ( TMA ) katup masuk mulai membuka kembali untuk melakukan langkah hisap sedangkan katup buang belum menutup dengan rapat kembali, ini di sebut dengan overlap.
2. Prinsip Pembangkit Tegangan Tinggi.
a. Induksi bersama.
Bila dua belah kumparan disusun dalam satu garis dan besarnya arus yang mengalir pada satu kumparan primer di ubah, maka tegangan induksi akan mengalir pada kumparan sekunder. Apabila arus mengalir pada kumparan primer, maka tidak akan terjadi perubahan garis gaya magnet dengan demikian tidak ada tegangan induksi pada kumparean sekunder.

Gambar 2. Induksi Bersama pada saat arus Mengalir Pada Kumparan Primer.
( Toyota astra Motor Elektrikal Group, 1996 )

Pada waktu switch terbuka maka arus pada kumparan primer akan diputuskan oleh garis gaya magnet yang telah terbentuk pada saat itu juga, dengan tiba-tiba menghilang pada kumparan sekunder. Adanya tegangan induksi dengan arah melawan magnet.

Gambar 3. Induksi Bersama saat Arus Diputus.
(Toyota astra Motor Step 2, 1996)



b. Besarnya tegangan induksi.
Besarnya tegangan induksi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu:
1). Besarnya garis gaya magnet.
Semakin besar garis gaya magnet yang tebentuk di dalam kumparan, maka makin besar pula tegangan yang diinduksikan.
2). Jumlah lilitan kumparan.
Makin banyak lilitan pada kumparan maka semakin tinggi tegangan yang diinduksikan. jumlah lilitan pada kumparan primary coil 150 - 300 lilitan. sedangkan pada secondary coil 15000 - 30000 lilitan.
3). Perubahan garis gaya magnet.
Makin cepat perubahan garis gaya magnet yang dibentuk oleh kumparan, semakin tinggi kumparan yang diinduksikan. Selain itu juga memperbesar tegangan pada kumparan sekunder arus yang masuk pada kumparan primer harus besar dan pemutusan arus harus secepat mungkin.
B. Komponen dan Cara Kerja Sistem Pengapian Mazda MR 90.
1. Spesifikasi Sistem Pengapian Mazda MR 90.
a. Baterai : Menggunakan baterai tipe basah yang berkapasitas 60 ampere dan mempunyai tegangan sebesar 12 volt.
b. Ignition coil : Menggunakan ignition coil tipe basah atau berpendingin oli yang mempunyai tegangan masuk sebesar 12 volt pada kumparan primer dengan hambatan gulungan sebesar 3.1 ohm, dan tegangan keluar lebih dari 10.000 volt pada kumparan sekunder dengan hambatan gulungan sebesar 7.2 – 10.8 kilo ohm.
c. Breaker point : Celah breaker point 0,5 ± 0,05 mm, sedangkan sudut dwell-nya 49º - 55º.
d. Kondensor : Ukuran yang digunakan adalah 0,20 – 0,24 mikrofarad.
e. Kabel tegangan tinggi : Tahanan kabel tegangan tinggi
No 1 No 2 No 3 No 4
± 11,4 kΩ ±9,0 kΩ ±8,8 kΩ ±6,4 kΩ

f. Busi : Denso seri W 16EX – U, dengan celah 0,7- 0,8 m.

2. Komponen Sistem Pengapian Mazda MR 90.
a. Baterai.
Baterai adalah pembangkit tenaga listrik. Baterai menghimpun tenaga listrik dalam bentuk tenaga kimia. Bila tenaga listrik berkurang, baterai dapat diisi kembali dengan aliran listrik. Baterai terdiri atas beberapa sel pembangkit tenaga listrik yang dihubungkan secara seri.





Gambar 4. konstruksi baterai.
1. Kotak baterai.
Kotak baterai merupakan tempat penampung elektrolit dan elemen baterai. Pada kotak baterai terdapat ukuran ketinggian elektrolit yaitu tanda lower dan upper.
2. Elemen baterai.
Elemen baterai adalah suatu kesatuan dari plat - plat negatif dan positif, dipasang secara berselang - seling yang di batasi oleh separator dan fiberglas di dalam kotak baterai.
3. Tutup baterai.
Pada tutup lubang baterai terdapat ventilasi, untuk memasukkan elektrolit selain itu juga berguna untuk memisahkan gas (hidrogen) yang tebentuk setelah pengisian dan uap asam sulfat di dalam baterai.
4. Elektrolit.
Elektrolit adalah larutan asam sulfat dan air suling berat jenis elektrolit yang baik bila di ukur dengan hidrometer 1,260 sampai dengan 1,280 pada temperatur 200c. Karena baterai merupakan komponen yang paling penting di dalam sistem kelistrikan mobil, untuk itu kondisi baterai harus di jaga. Apabila baterai tegangannya kurang sebaiknya diisi kembali dan dalam pengisian dibatasi dibawah 0,1 dari capasitas baterai.



b. Ignition coil.
Ignition coil berfungsi mengubah tegangan 12 volt yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi 10.000 volt atau lebih besar lagi, untuk menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada busi. Kumparan primer dan kumparan sekunder digulung pada inti besi. Kumparan - kumparan ini akan menaikkan tegangan yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi dengan cara menginduksikan magnet listrik.

















Gambar 5. Penampang Ignition Coil.

Kontruksi ignition coil terdiri dari core (inti besi) yang di kelilingi oleh kumparan inti besi terbuat dari baja silikon tipis yang di gulung ketat atau dikelilingi oleh kumparan. Sementara bahan dari kumparan terbuat adalah kawat tembaga tipis berdiameter 0,05 - 0,1 mm yang dililitkan pada inti besi kira - kira 15.000 - 30.000 kali lilitan. Sedangkan primary coil (kumparan primer) terbuat dari kawat tembaga yang lebih tebal berdiameter 0,5 – 1,0 mm yang dililitkan 150 - 300 kali lilitan menggelilingi kumparan sekunder.
Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat antara lapisan satu dengan yang lainya dengan cara disekat atau diberi batasan dengan menggunakan insulating paper (kertas yang mempunyai tahanan tinggi). Di dalam case (tabung) ignition coil terdapat minyak atau campuran penyekat untuk menambah daya tahan terhadap panas. Agar ignition coil mampu bertahan lebih lama















c. Distributor

Gambar 6. Komponen Distributor
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)















Gambar 7. Distributor.

Komponen - komponen distributor dibagi menjadi beberapa bagian antara lain :
1). Breaker point (Platina).
Breaker point atau platina adalah camlobe (nok). fungsi breaker point atau platina adalah untuk memutuskan dan menghubungkan arus listrik dari kumparan primer ke massa. Apabila terjadi penginduksian pada sekunder coil maka terjadi pada saat breaker point terputus atau terbuka. Membuka dan menutupnya breaker point karena adanya camlobe. Poros governor digerakkan oleh camshaft dengan kecepatan setengah dari putaran mesin. Cam memiliki camlobe yang sama dengan jumlah silinder.











Gambar 8. Breaker Point.

Sudut dwell pada masing-masing mesin bensin mempunyai spesifikasi yang berbeda - beda. Sudut dwell tersebut adalah sudut putaran distributor (cam) mulai breaker point tertutup oleh breaker arm spring sampai terbuka oleh camlobe berikutnya.
Celah platina sangat berpengaruh pada sudut dwell, celah kontak yang terlalu kecil dapat mengakibatkan dwell angle menjadi besar, dan dwell angle yang terlalu besar dapat berakibat pada breaker point, semakin lama arus yang mengalir lebih besar sehingga akan menaikkan temperatur primary coil serta inti besi akan menurunkan tegangan induksi yang diakibatkan oleh menurunnya kekuatan magnet. Sedangkan celah kontak yang telalu besar dapat menyebabkan dwell angle terlalu kecil akan mengakibatkan menutupnya titik kontak akan lebih singkat, akibatnya arus yang mengalir pada primary coil masih kecil dan tegangan induksi yang diciptakan akan lebih kecil dari 300 Volt. Untuk itu celah kontak pada breaker point harus sesuai dengan spesifikasi pada mesin.
2). Rotor
Rotor berfungsi membagikan tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh secondary coil pada ignition coil dan melalui kabel tegangan tinggi kemudian dialirkan ke busi, pada tiap - tiap silinder sesuai dengan urutan pengapian. Rotor terbuat dari ebonite yang bagian atasnya terdapat besi kuningan. Apabila lengan rotor berputar, arus mengalir melalui elektroda ( ujung rotor yang terbuat dari kuningan ) dan memercikkan bunga api yang melompati celah menuju masing – masing terminal busi.








Gambar 9. Rotor.
3). Kondensor.
Kondensor berfungsi untuk mempercepat pemutusan arus primary coil sehingga mencegah terjadinya loncatan bunga api listrik pada breaker point. Kondensor bekerja pada saat breaker point membuka dan arus disimpan sementara di kondensor. Hal ini mempercepat arus primary coil yang menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil bertambah tinggi. Kapasitas kondensor diukur dalam microfarad.

Gambar 10. Kondensor.
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

4). Ignition Advancer.
Output atau tenaga mesin akan semaksimal mungkin, apabila tekanan pembakaran maksimum tetap berada pada 100 setelah TMA, akan tetapi karena ditentukan oleh perambatan api, maka campuran udara dan bahan bakar harus dibakar sebelum titik mati atas. Saat - saat seperti ini disebut saat pengapian ( ignition timing ). Diperlukan beberapa peralatan untuk memajukan atau mengundurkan saat pengapian sehingga saat pengapian dapat disesuaikan dengan tepat, pada beban mesin dan lain - lain. Komponen - komponen yang di ubah dengan cara memajukan dan mengundurkan pengapian.
a. Sentrifugal advancer.
Berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai putaran mesin, yaitu saat putaran mesin naik maka sentrifugal akan menggeser base plate untuk memajukan saat pengapian.







Gambar 11. Sentrifugal Advancer.

Pemeriksaan komponen pada sentrifugal Advancer dapat dilakukan dengan cara menghidupkan mesin, lepas vacuum hose dan sumbat vacuum hose tersebut, naikkan putaran mesin dan periksa saat pengapian dengan timing light apakah terjadi pemajuan saat pengapian sesuai pertambahan putaran mesin, jika tidak terjadi pemajuan saat pengapian maka lepas distributor dan periksa dan gantilah sentrifugal spring.
b. Vacuum advancer.
Berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai beban mesin, yaitu saat kevakuman dalam karburator naik maka tekanan dalam diafragma bertambah dan menekan spring serta controler rod sehingga akan menggeser base plate untuk memajukan saat pengapian.








Gambar 12. Vacuum Advancer.

Pemeriksaan vacuum advancer dapat dilakukan dengan cara menghidupkan mesin, hubungkan vacuum pump ke nipple dan tambahkan vacuum pada vacuum pump secara bertahap dan periksa apakah terdapat pemajuan saat pengapian sesuai penambahan vacuum pada vacuum pump. Jika tidak terjadi pemajuan saat pengapian kemungkinan besar terjadi gangguan pada diafragma atau pada spring. Untuk kerusakan tersebut lepaskan ditributor dan gantilah komponen yang mengalami gangguan.








Gambar 13. Cara Kerja Vacuum Advancer.
d. Kabel Tegangan Tinggi.
Kabel tegangan tinggi mampu mengalirkan atau menghantarkan arus tegangan tinggi yang dihasilkan secondary coil di dalam ignition coil ke masing - masing busi melalui distributor tanpa adanya kebocoran, oleh sebab itu penghantar (core) dibungkus dengan isolator karet yang tebal seperti tampak pada gambar, gunanya untuk mencegah terjadinya kebocoran arus listrik tegangan tinggi. Isulator karet (rubber insulator) kemudian dilapisi oleh pembungkus (sheath).
Kabel resistive terbuat dari fiberglass yang dipadu dengan karbon dan karet sintetis yang digunakan sebagai core untuk memberikan peregangan yang kuat untuk meredam bunyi pengapian (ignition noise) pada radio. Tanda tahanan dicetak pada permukaan pembungkus sebagai pertanda bahwa inti dari kabel tegangan tinggi adalah kabel tahanan (resistive wire).
Kabel tegangan tinggi yang digunakan pada mobil Mazda MR 90 jumlahnya ada lima, satu kabel tegangan tinggi berada di tengah sebagai penyalur arus kuat listrik dari ignition coil yang selalu berhubungan dengan rotor. Empat kabel tegangan tinggi lainnya berada di pinggir sebagai penerima arus kuat listrik melalui elektroda rotor yang akan disalurkan ke busi sesuai urutan pengapian.












Gambar 14. Kabel Tegangan Tinggi.

Pemeriksaan pada kabel tegangan tinggi meliputi pemeriksaan cap terhadap keretakan dan pemeriksaan tahanan kabel tegangan tinggi. Spesifikasi tahanan kabel tegangan tinggi sistem pengapian konvensional Mazda MR 90 adalah 16.000 ohm per 1 meter.







Gambar 15. Pengukuran Kabel Tegangan Tinggi.
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)



e. Busi.
Tegangan tinggi yang dihasilkan pada kumparan sekunder ignition coil dikeluarkan (discharge) diantara elektroda tengah dan elektroda massa busi. Bagian - bagian busi terdiri dari isolator, casing dan elektroda tengah, fungsi dari isolator keramik adalah untuk memegang elektroda tengah dan sebagai isolator elektroda tengah dengan casing menyangga isolator elektronik dan sebagai mounting busi terhadap mesin.








Gambar 16. Busi

Elektroda tengah terdiri dari sumbu pusat yang berfungsi mengalirkan dan meradiasikan panas yang ditimbulkan oleh elektroda. Seal glass merapatkan centershalf dan isolator keramik, resistor mengurangi suara pengapian, juga sebagai penangkal gangguan frekuensi gelombang radio. Coper core (inti tembaga) merambatkan panas dari elektroda dan ujung isolator agar cepat dingin, sementara itu elektroda tengah membangkitkan loncatan bunga api ke massa. Elektroda massa dibuat sama dengan elektroda tengah dengan nama alur U (U groove) dan alur V (V grove) bentuk khusus elektroda tersebut dengan tujuan memudahakan loncatan bunga api ke massa agar menaikkan kemampuan pengapian, agar sistem kerja busi dapat mencapai suhu yang semaksimal mungkin dan kotoran pada busi tidak terlalu banyak atau karbon yang melekat pada busi dapat terbakar secara maksimal. Cepat tidaknya busi menjadi panas tergantung pada busi panjang pendeknya atau diameter isolator yang diukur dari penyekat bawah. Sementara itu busi terdiri dari dua jenis yaitu busi panas dan busi dingin.

Gambar 17. Kontroksi Busi dingin dan panas
(Toyota Astra Motor Elektrical Group)

Busi panas adalah busi yang bisa meradiasikan panasnya hanya sedikit dikarenakan busi tersebut menahan panas busi, busi ini baik digunakan pada motor yang bekerjanya lebih ringan. Sedangkan busi dingin adalah busi yasng meradiasikan panasnya lebih banyak, busi ini lebih cocok pada motor yang daya kerjanya lebih berat.
Kemampuan meradiasikan panas dituliskan dalam nomor kode pada busi disebut busi tingkat panas. Penulisan tingkat panas masing - masing pabrik mempunyai penulisan kode yang berbeda :
Busi NGK : 2 4 5 6 7 8 9
Busi ND : 9 14 16 20 22 27 27
Busi CHAMPION : 95 92 87 82 78
Busi panas Busi dingin
3. Cara kerja sistem pengapian baterai.
a. Breaker point tertutup.
Saat ignition switch (kontak) dihubungkan arus dari baterai mengalir dari ignition switch (kontak) menuju ke terminal positif primary coil (kumparan primer), negatif terminal coil dan breaker point, selanjutnya ke massa. Akibatnya terbentuk garis gaya magnet di sekeliling kumparan.

Gambar 18. Instalasi Sistem Pengapian pada Saat Breaker Point Tertutup.
( Toyota Astra Motor Elektrikal Group)





b. Breaker point terbuka.
Bila poros engkol memutarkan camshaft sehingga distributor cam membuka breaker point, menyebabkan arus yang mengalir melalui primary
coil tiba - tiba terputus dan arus yang mengalir ke breaker point akan diserap oleh konduktor, akibatnya garis - garis gaya magnet yang terbentuk pada primary coil (kumparan primer) mulai berkurang dikarenakan menginduksi sendiri dan induksi bersama secondary coil (kumparan sekunder) maka akan membentuk induksi tegangan pada tiap - tiap kumparan. Saat penginduksian sendiri pada kumparan mencapai 500 volt sedangkan penginduksian bersama mencapai 30 kilo volt, sehingga mampu membentuk loncatan bunga api pada busi.
















Gambar 19. Instalasi Sistem Pengapian pada Saat Breaker Point Terbuka.
( Toyota Astra Motor Elektrical Group)

Saat platina ( breaker point ) dan fluksi magnet pada primary coil (kumparan primer) mulai bertambah karena terjadinya penginduksian sendiri pada primary coil (kumparan primer) maka gaya magnet listrik akan mencegah penambahan aliran arus secara tiba - tiba dalam primary coil (kumparan primer). Akibatnya arus tidak akan bertambah dengan sendirinya, hanya gaya magnetik listrik menginduksi bersama yang diabaikan pada secondary coil ( kumparan sekunder ).
4. Waktu Pengapian ( Ignition Timing ).
Ignition Timing adalah waktu dimana busi memercikkan bunga api, yaitu 5º sebelum titik mati atas, dan terjadi pembakaran di dalam ruang bakar yaitu 10º setelah titik mati atas. Loncatan bunga api listrik pada elektroda busi bersamaan dengan waktu terbukanya breaker point, yaitu dari rapat ke terbuka yang menyebabkan hubungan positif dan negatif terputus sehingga arus listrik yang tadinya sedang mengalir tiba – tiba terputus dan serentak keluar bunga api listrik kecil di breaker point.











Gambar 20. Grafik Ignition Timing.
5. Analisis dan Cara Menggatasi Gangguan Sistem Pengapian Mazda MR 90.
Sistem pengapian baterai konvensional, banyak mengalami kerusakan pada sistem pengapian. Permasalahan yang terdapat pada sistem pengapian antara lain mesin sulit hidup, idle kasar, tenaga kurang dan knocking. Berikut ini beberapa masalah dan cara mengatasi sistem pengapian pada Mazda MR 90.
a. Mesin sulit hidup.
Mesin sulit hidup dapat diakibatkan karena beberapa faktor diantaranya adalah:
1) Pada sistem penyalaan tidak adanya tegangan.
Sistem penyalaan tidak ada tegangan akan mengakibatkan mesin sulit hidup karena arus yang mengalir dari baterai tidak dapat mengalir ke terminal positif primary coil, terminal negatif primary coil dan breaker point. Sehingga tidak terbentuk medan magnet pada ignition coil, dan menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil tidak ada. Sehingga secondary coil tidak dapat mengalirkan tegangan ke busi sehingga busi tidak dapat memercikkan bunga api.
Masalah ini disebabkan adanya kerusakan pada komponen - komponen sistem pengapian antara lain :
a. Baterai rusak.
Kondisi baterai yang tidak baik dapat mengakibatkan tegangan pada sistem penyalaan menjadi kecil atau tidak bisa. Kerusakan baterai dapat diakibatkan oleh beberapa komponen baterai, kebocoran pada kontak baterai, terminal baterai rusak, terminal baterai kotor, apabila jumlah elektrolitnya kurang maka baterai akan mengganggu sistem kelistrikan yang lain juga.
Cara mengatasi gangguan baterai lemah atau rusak adalah :
Melakukan pemeriksaan secara visual keadaan kontak baterai, apabila kontak baterai rusak maka baterai harus diganti dengan yang baru. Memeriksa elektrolit yaitu jumlah elektrolit dan berat jenis elektrolit pada baterai, apabila jumlah elektrolit kurang maka tambahkan dengan suling dan periksa berat jenis elektrolit dengan menggunakan hidrometer, berat jenis elektrolit yang baik yaitu 1,26 - 1,28.









Gambar 21. Pemeriksaan Berast Jenis Elektrolit
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

Pemeriksaan pada terminal baterai, memeriksa keadaan terminal baterai dari kerusakan, bersihkan kotoran atau kerak yang terdapat pada terminal baterai dengan menggunakan air panas sampai bersih.





















Gambar 22. Pemeriksaan Terminal.
(PDS dan Periode Kainternance)

b. Sekering putus.
Sekering merupakan pengaman kelistrikan yang dapat putus dikarenakan adanya hubungan pendek atau tegangan yang berlebihan pada kabel. Sakering putus akan menyebabkan mesin tidak dapat hidup karena arus dari baterai tidak dapat mengalir atau masuk ke kunci kontak, terminal positif primary coil, terminal negatif primary coil dan breaker point. Sehingga tidak terbentuk medan magnet di dalam ignition coil, dan menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil tidak ada. Secondary coil tidak ada tegangan induksi karena tidak ada pemotongan medan magnet saat breaker point terbuka. Hal ini menyebabkan secondary coil tidak dapat mengalirkan arus ke busi sehingga busi tidak dapat memercikkan bunga api. Busi tidak dapat memercikkan bunga api meyebabkan mesin tidak dapat hidup.
Cara memperbaiki masalah tersebut, langkah pertama memeriksa kondisi kabel dari hubungan pendek, apabila kabel rusak maka kabel harus diganti. Dan apabila sekering dalam keadaan mati maka sekering harus diganti menggunakan yang baru. Ukuran sekering harus sesuai dengan spesifikasi.
c. Longgarnya konektor dari kotoran.
Hubungan konektor dapat terganggu karena adanya kotoran dan getaran mesin sehingga konektor lama kelamaan akan menjadi longgar. Longgarnya konektor akan mengakibatkan arus yang mengalir dari baterai ke kunci kontak, terminal positif primary coil, terminal negatif primary coil dan breaker point terhambat. Hambatan itu akan menyebabkan medan magnet yang terbentuk di dalam ignition coil lemah, saat breaker point terbuka, breaker point akan memotong medan magnet yang lemah, hal ini menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil lemah, sehingga secondary coil mengalirkan tegangan yang lemah ke busi, dan mengakibatkan terjadinya percikan bunga api yang lemah di busi. Percikan bunga api yang lemah di busi menyebabkan mesin sulit hidup. Cara mengatasinya, konektor dilepas dan dibersihkan apabila sudah bersih konektor dihubungkan kembali.
d. Kunci kontak dan rangkaian primer.
Memeriksa dari sumber tenaga dengan menggunakan ohmmeter, langkah pertama kunci kontak pada posisi ON hubungkan probe positif (+) voltmeter ke terminal resistor dan negatif ke massa bodi tegangannya sekitar 12 volt. Apabila tidak ada sumber tenaga berarti salah satu dari kabel terdapat kerusakan maka kabel tersebut harus diganti.
2). Pemeriksaan bagian - bagian distributor.
a. Bagian distributor.
Bagian distributor terdapat rotor dan penutup distributor yang mem bagi-bagikan tegangan tinggi kebusi. Bila tutup distributor, center, kontak piece, rotor atau bagian lain keadannya rusak, hangus, retak ataupun berkarat maka sirkuit sekunder akan terjadi kebocoran. Selain itu kelembapan pada tutup distributor juga dapat mengakibatkan kebocoran sehingga tegangan pada sistem penyalaan kurang maksimal. Cara menggatasinya, bersihkan dahulu komponen komponen yang kotor dan apabila ada komponen yang rusak harus diganti.
b. Breaker point rusak.
Breaker point berfungsi sebagai penghubung dan pemutus tegangan dari ignition coil ke massa. Celah kontak yang tidak sesuai dengan kondisi permukaan yang rusak mengakibatkan pemotongan medan magnet yang terjadi di dalam ignition coil kecil, sehingga tegangan induksi yang terjadi pada secondary coil lemah. Hal ini menyebabkan tegangan yang mengalir ke busi lemah, sehingga percikan bunga api yang terjadi di busi menjadi lemah, dan menyebabkan mesin sulit hidup.


















Gambar 23. Permukaan Titik Kontak.

Cara - cara mengatasi yaitu dengan cara membersihklan permukaan breaker point hingga rata bengan menggunakan amplas. Pasangkan dan ukur celah antara rubbing blok dan cam dengan menggunakan fuller gauge, celah ukuran 0,5 ± 0,05mm.


Gambar 24. Penyetelan Celah Breaker Point.
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

Celah kontak yang terlalu kecil dapat menyebabkan dwell angel menjadi besar dan sebaliknya celah breaker point atau platina yang terlalu besar menyebabkan dwell angle menjadi kecil.
c. Bagian Ignition Advancer.
Apabila sentrifugal advancer tidak bekerja dengan baik maka busi menyala dengan tidak tepat atau tidak teratur sesuai kecepatan dari mesin dan beban mesin juga dapat mempengaruhi. Kondisi seperti ini yang menyebabkan output mesin turun atau menyebabkan gangguan yang lain pada mesin, serta mengakibatkan akselerasi yang tidak baik, karena pada saat akselerasi putaran mesin menjadi tinggi sehingga menyebabkan waktu perambatan api semakin panjang, agar pembakaran maksimum akan tetap berada pada 10º setelah TMA, maka pengapian akan dimajukan oleh sentrifugal advancer. Cara untuk mengatasinya yaitu dengan memeriksa governor advancer, dengan cara memutar rotor dengan berlawanan arah jarum jam, melepas rotor dan lihatlah apakah rotor kembali memutar dengan arah jarum jam, periksa kondisi rotor tidak terlalu longgar.






Gambar 25. Memeriksa Governor Advancer.
(Toyota Astra Motor Elektrikal )

Memeriksa vacum advancer, lepaskan selang dan sambung pompa vakum ke diapragma. Berikan kevakuman dan lihatlah gerakan vakum advancer, apabila kevakuman advancer tidak bekerja dengan baik maka harus diperbaiki dan apabila terlalu parah harus diganti.
3). Kondensor rusak.
Kondensor rusak akan menyebabkan mesin sulit hidup, karena pemutuskan arus primer menjadi lambat, sehingga tegangan yang diinduksikan secondary coil turun. Hal ini menyebabkan tegangan yang keluar dari secondary coil lemah, maka tegangan yang mangalir ke busi menjadi lemah, sehingga percikan bunga api yang keluar dari busi menjadi lemah. Cara memeriksa kondensor dengan menggunakan multitester apabila kondisi kondensor rusak maka kondensor harus diganti.
4). Pemeriksaan ignition coil.
Memeriksa kondisi ignition koil secara visual terhadap kebocoran. Sebelum memeriksa ignition coil, panaskan dulu sampai suhu kerjanya. Periksalah tahanan kumparan primer 3,1 ohm dan periksa tahanan sekunder 7.2 – 10,8 kilo ohm. Periksalah tahanan resistor 1,6 ohm. Apabila tahanan primary coil lebih kecil dari ukuran standartnya maka arus yang mengalir lebih besar sehingga akan terbentuk medan magnet yang kuat di dalam ignition coil, saat breaker point terbuka, secondary coil akan menghasilkan tegangan yang kuat sehingga busi manghasilkan loncatan bunga api yang kuat. Apabila tahanan primary coil lebih besar dari ukuran standartnya maka arus yang mengalir akan kecil sehingga terbentuk medan magnet yang lemah di dalam ignition coil, saat breaker point terbuka, secondary coil akan menghasilkan tegangan yang kecil sehingga busi manghasilkan loncatan bunga api yang lemah. Apabila tahanan secondary coil lebih kecil dari ukuran standarnya maka tegangan yang mengalir ke busi lebih besar sehingga busi akan menghasilkan percikan bunga api yang lebih kuat. Apabila tahanan secondary coil lebih besar dari ukuran standarnya maka tegangan yang mengalir ke busi lebih kecil, sehingga busi akan menghasilkan percikan bunga api yang lemah. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti.



5). Kabel tegangan tinggi.
Ukurlah kabel tegangan tingi dengan menggunakan ohm meter apabila tahanannya 16 kilo ohm per 1 meter maka arus yang mengalir dari secondary coil ke busi terhambat, dan menyebabkan busi tidak dapat menghasilkan percikan bunga api yang kuat di dalam ruang bakar, sehingga menyebabkan mesin sulit hidup. Maka kabel tegangan tinggi harus diganti. Apabila ujung kabel ada yang berkarat maka akan menyebabkan tahanan kontak menjadi naik akan menurunkan tegangan sekunder, kabel tegangan tinggi harus diganti.
6). Busi.
Memeriksa busi satu per satu apabila busi yang isolatornya retak, elektroda kotor, atau celah elektrodanya berlebihan tidak dapat memberikan bunga api yang baik, busi sudah aus, celah elektrooda terlalu kecil dapat menyebabkan pemadaman bunga api. Sehingga tidak menimbulkan pembakaran meskipun busi memercikkan bunga api. Cara untuk mengatasinya adalah bersihkan busi dengan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi. kerusakan ulir busi, kerusakan isolasinya apabila terdapat kerusakan pada busi maka busi harus diganti. Ukuran celah busi yang baik adalah 0,8 mm.


















Gambar 26. Celah Busi
(Manual Workshop Mazda MR, 1990)

b. Tenaga mesin kurang.
Terjadinya tenaga mesin kurang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1). Pengapian kurang tepat.
Pada saat sistem pengapian yang kurang tepat maka kerja mesin akan terasa tidak enak atau kurang baik, terutama pada timming terlalu dimajukan, karena pada saat timming dimajukan tekanan pembakaran maksimum akan tercapai sebelum 10º sesudah titik mati atas, karena tekanan di dalam silinder akan menjadi lebih tinggi dan dapat menyebabkan knocking. Apabila timming terlalu dimundurkan tekanan pembakaran maksimum akan terjadi setelah 10º setelah titik mati atas ( torak telah turun cukup jauh ), hal ini dapat menyebabkan penurunan output pada mesin mobil. Cara untuk mengatasi tersebut dengan melakukan pemeriksaan timming pengapian dengan melepas selang fakum subdiapragma distributor, sumbatlah ujung selang. Putaran mesin pada saat idling 900 rpm pasang timming light, periksalah pengapian pada mesin Cara penyetelan pengapian, kendorkan baut pengikat pada distributor, putar putarlah distributor sampai pengapian benar benar pas kencangkan baut distributor kembali.
2). Kabel tegangan tinggi.
Ukurlah kabel tegangan tinggi dengan menggunakan ohm meter bila tahanannya 16 kilo ohm per meter gantilah kabel, karena kabel tersebut sudah rusak. Dan kabel yang ujungnya sudah berkarat maka tahanan kontak akan naik turun terhadap tegangan sekunder itu juga tidak baik untuk pengapian.
3). Kerusakan pada busi.
Kerusakan yang sering terjadi yaitu isolator keretakan, elektroda kotor atau aus, celah elektrodanya berlebihan sehingga tidak dapat memberikan bunga api yang baik, celah elektroda yang kecil menyebabkan busi bisa padam dengan sendirinya sehingga pembakaran kurang baik. Cara mengatasinya yaitu dengan cara membersihkan busi dengan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi. kerusakan ulir busi, kerusakan isolasinya, bila terdapat kerusakan pada busi maka busi harus diganti. Ukuran celah busi yang baik adalah 0,8 mm.




4). Kondensor rusak.
Kondensor yang rusak atau mati akan menyebabkan pemutusan arus primer menjadi lambat, sehingga tegangan yang diinduksikan secondary coil turun. Hal ini menyebabkan tegangan yang keluar dari secondary coil menjadi lemah. Apabila tegangan yang keluar dari secondary coil lemah, maka tegangan yang mengalir ke busi akan lemah, sehingga percikan bunga api dari busi lemah, dan menyebabkan tenaga mesin kurang. Cara memeriksa kondensor dengan menggunakan alat multitester. Apabila kondisi kondensor rusak atau setengah mati maka kondensor harus diganti dengan yang baru atau yang masih baik.
5). Breaker Point rusak.
Bagian pemutus berfungsi sebagai penghubung dan pemutus tegangan dari coil ke massa. Celah kontak yang tidak sesuai dengan kondisi permukaan yang rusak akan memperkecil permukaan persinggungan titik kontak, hal ini menyebabkan arus yang mengalir kecil, sehingga medan megnet yang terjadi di dalam ignition coil kecil, dan meyebabkan tegangan induksi yang terjadi pada secondary coil kecil, sehingga tegangan secondary coil menjadi lemah. Tegangan secondary coil yang lemah akan menyebabkan tegangan yang dialirkan ke busi akan lemah, sehingga percikan bunga api dari busi lemah, dan menyebabkan tenaga mesin kurang. Cara mengatasinya yaitu membersihkan permukaan breaker point hingga rata dengan menggunakan amplas. Pasang dan ukur celah antara rubbing blok dan cam dengan menggunakan filler gauge. Setel
celah dengan menggunakan ukuran 0,5 ± 0,05 mm. Celah breaker point yang terlalu kecil dapat mengakibatkan platina (dwell angle) menjadi besar dan sebaliknya celah platina (dwell angle) menjadi terlalu kecil.
6). Ignition Advancer.
Apabila advancer tidak bekerja dengan baik maka busi menyala dengan tidak tepat atau tidak teratur saesuai kecepatan dari mesin dan beban mesin juga dapat mempengaruhi. Kondisi seperti ini yang menyebabkan akselerasi yang tidak baik, karena pada waktu akselerasi, putaran mesin menjadi tinggi dan mengakibatkan pembakaran maksimum menjadi terlambat ( torak telah turun cukup jauh ), apabila waktu pengapian tidak dimajukan oleh sentrifugal advancer, maka akan menyebabkan menurunnya output mesin atau menyebabkan gejala yang lain. Cara - cara untuk mengatasinya, periksa governor advancer, memutar rotar dengan berlawanan arah jarum jam, melepaskan rotor dan lihatlah apakah rotor kembali memutar dengan arah jarum jam, periksa kondisi rotor tidak terlalu longgar. Pemeriksaan vakum advancer melepas selang dan sambung pompa vakum ke diavragma. Berikanlah kevakuman dan lihat gerakan vacum advancer, bila vacum advancer tidak bekerja dengan baik maka harus diganti.
7) Ignition coil rusak
Ignition coil rusak, dapat menyebabkan tenaga mesin berkurang, karena ignition coil tidak dapat membangkitkan tegangan sekunder dengan baik yang akan dialirkan ke busi. sehingga percikan bunga api yang dihasilkan oleh busi menjadi lemah. Hal ini dapat menyebabkan tenaga mesin lemah. Periksa kondisi ignition coil secara visual terhadap kebocoran. Periksalah tahanan kumparan primer 3,1 ohm pada saat kondisi panas periksa tahanan sekunder pada saat panas 7,2 – 10,8 kilo ohm. Periksalah tahanan resistor pada saat panas 1,6 ohm. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti.
c. Mesin bisa hidup tetapi pincang.
1). Busi dalam keadaan rusak.
Kerusakan yang sering terjadi pada busi yaitu: isolator retak, elektroda kotor atau sudah aus, celah elektrodanya berlebihan tidak dapat memberikan bunga api yang baik, celah elektroda yang kecil busi bisa padam dengan sendirinya sehingga pembakaran kurang baik. Cara untuk mengatasinya membersihkan busi menggunakan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi. kerusakan ulir busi, kerusakan isolasinya kemungkinan kerusakan pada busi maka busi harus diganti. Ukuran celah busi yang baik adalah 0,8 mm.
2). Bagian distributor mengalami kerusakan.
a. Bagian distributor.
Bagian distributor terdapat rotor dan penutup distributor yang membagi tegangan tinggi ke busi. Bila tutup distributor, center, kontak piece, rotor atau bagian lain rusak, hangus, retak ataupun berkarat maka sirkuit sekunder akan terjadi kebocoran selain itu kelembapan pada tutup distributor juga dapat mengakibatkan kebocoran karena kelembapan itu akan mengakibatkan tutup distributor menjadi basah, sehingga akan membelokkan tegangan yang akan dialirkan dari rotor ke kabel tegangan tinggi, lalu ke busi. Hal ini dapat menyebabkan mesin pincang. Cara cara menggatasinya bersihkan dahulu komponen - komponen yang kotor dan apabila ada komponen yang rusak harus diganti.
b. Breaker point.
Breaker point berfungsi menghubungkan dan memutuskan tegangan dari negatif coil ke massa. Celah kontak yang tidak sesuai dengan kondisi permukaan yang rusak dapat memperkecil permukaan persinggungan titik kontak, dan mengakibatkan arus yang mengalir ke primary coil menjadi kecil, pemutusan arus primary coil yang kecil akan menghasilkan tegangan induksi yang terjadi pada secondary coil kecil, yang berakibat tegangan secondary coil menjadi lemah. Tegangan secondary coil yang lemah akan menyebabkan tegangan yang dialirkan ke busi akan lemah, sehingga percikan bunga api dari busi lemah. Hal ini dapat menyebabkan mesin pincang. Cara mengatasi membersihkan permukaan breaker point hingga rata bengan menggunakan amplas. Pasangkan dan ukur celah antara rubbing blok dan cam dengan menggunakan filler gauge. Setel celah dengan menggunakan ukuran 0,5 ± 0,05 mm. Celah kontak yang terlalu kecil dapat mengakibatkan dwell angle menjadi besar dan sebaliknya celah breaker point yang terlalu besar menyebabkan dwell angle menjadi terlalu kecil.

3). Kondensor mengalami kerusakan.
Kondensor berfungsi mempercepat pemutusan arus primer yang menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil bertambah tinggi. Kondensor rusak dapat menyebabkan tegangan induksi pada secondary coil berkurang karena kondensor tidak dapat memutuskan arus primer dengan cepat yang mengakibatkan tegangan induksi yang dihasilkan secondary coil menurun, sehingga tegangan yang mengalir ke busi lemah, hal ini menyebabkan percikan bunga api yang dihasilkan oleh busi lemah, sehingga dapat membuat mesin menjadi pincang.
Kondensor dapat mengalami kerusakan karena tegangan yang diberikan terlalu besar, elektrolitnya kering, dan sudah lama digunakan sehingga berubah kapasitasnya. Cara memeriksa kondensor dengan menggunakan alat multitester. apabila kondisi kondensor rusak atau setengah mati maka kondensor harus diganti dengan menggunakan kondensor yang baru atau yang masih baik.
4). Ignition coil rusak.
Ignition coil yang rusak juga dapat menyebabkan mesin menjadi pincang, karena ignition coil tidak dapat membangkitkan tegangan tinggi yang akan disalurkan ke busi melalui distributor, rotor, dan kabel tegangan tinggi. Cara memeriksa kondisi ignition coil secara visual terhadap kebocoran. Periksalah tahanan kumparan primer 3,1 ohm pada saat kondisi panas periksa tahanan sekunder pada saat panas 7,2 – 10,8 kilo ohm dengan menggunakan multitester. Cara menggunakan multitester pada jarum penunjuk posisikan pada 0º dan test lead yang berwarna hitam dihubungkan ke negatif coil dan pada test lead yang berwarna merah dihubungkan kepositif coil. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti.
6. Penyetelan Ulang Sistem Pengapian Mazda MR 90.
Penyetelan ulang ini dilakukan agar sistem pengapian dapat bekerja dengan baik, sehingga busi dapat memercikkan bunga api yang kuat guna membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresikan di dalam ruang bakar dan mesin menghasilkan output yang sempurna.
Komponen sistem pengapian yang akan di setel antara lain :
1). Breaker point.
Sebelum melakukan penyetelan breaker point, posisikan torak nomor satu pada akhir langkah kompresi ( TOP I ). Setelah itu lepas breaker point dan bersihkan titik kontaknya dengan menggunakan amplas hingga bersih atau rata, lalu pasang breaker point di dalam distributor dan hubungkan kabel breaker point ke terminal negatif ignition coil. Masukkan feeler diantara titik kontak breaker point, setel sampai diperoleh kerenggangan yang benar sesuai standartnya ( 0,5 ± 0,05 mm ). Kencangkan semua sekrup dan periksa kembali kerenggangannya.
2). Busi.
Lepaskan busi dari mesin, lalu bersihkan busi dari kotoran dan setel kerenggangan busi antara 0,7 – 0,8 mm. Pasang busi dan kencangkan.

3). Distributor ( ignition timing ).
Sebelum melakukan penyetelan, hidupkan mesin terlebih dahulu. Kendurkan baut pengikat rumah distributor, lalu putar perlahan – lahan rumah distributor searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam sampai diperoleh putaran mesin yang rata atau tenaga mesin yang maksimum. Kencangkan kebali baut pengikat distributor.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem pengapian konvensional yang telah diuraikan diatas dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:
1. Komponen sistem pengapian yang terdapat pada mesin Mazda MR 90 antara lain: baterai, ignition coil, distributor, kabel tegangan tinggi, kondensor dan busi.
2. Cara kerja sistem pengapian Mazda MR 90 adalah apabila kunci kontak dihubungkan, arus akan mengalir dari baterai melalui kunci kontak ke primary coil, ke breaker point dan ke masa. Dalam keadaan seperti ini breaker point masih dalam keadaan tertutup, akibatnya arus mengalir pada primary coil sehingga ignition coil terjadi kemagnetan, dan setelah itu karena rotor diputar oleh mesin menyebabkan breaker point membuka yang menyebabkan arus yang mengalir pada primary coil hilang. Hilangnya kemagnetan ini akan mengakibatkan primary coil dan secondary coil timbul tegangan induksi, karena perbedaan kumparan yang lebih banyak pada secondary coil maka tegangan secondary coil lebih tinggi, tegangan tinggi ini disalurkan ke rotor untuk disalurkan ke busi pada tiap silinder yang mengakhiri langkah kompresi, selanjutnya tegangan tinggi pada busi akan diubah menjadi percikan api guna pembakaran gas pada ruang bakar.

3. Pada sistem pengapian konvensional yang sering terjadi kerusakan adalah:
a. Mesin sulit hidup.
Tegangan pada sistem pengapian tidak ada dan komponen yang perlu diperiksa yaitu: kondisi baterai, sekering, ignition coil, celah breaker point, kunci kontak, busi dan kabel tegangan tinggi. Tenaga mesin kurang.
b. Tenaga mesin kurang.
Apabila tenaga mesin kurang kemungkinan tedapat kerusakan pada komponen sistem pengapian antara lain: ignition coil, ignition advancer, breaker point, kondensor, kabel tegangan tinggi dan busi.
c. Mesin dapat hidup tapi pincang.
Hal ini dapat disebabkan terjadinya kerusakan pada komponen sistem pengapian antara lain: ignition advancer, busi, ignition coil, breaker point, kondensor dan kabel tegangan tinggi
Komponen - komponen tersebut sangatlah penting untuk sistem pengapian maka harus diperiksa dan di setel secara rutin, apabila kondisi dari komponen - komponen tersebut terdapat kerusakan maka harus diganti.





B. Saran
Sistem pengapian konvensional membutuhkan perawatan dan pemeriksaan secara berkala, agar sistem pengapian dapat bekerja secara maksimal, sehingga diperoleh pengapian yang kuat dan tepat. Perawatan dan pemeriksaan sistem pengapian itu antara lain:
1. Periksalah baterai secara teratur terutama pada jumlah elektrolit, kotak baterai, dan terminal baterai yang biasanya terdapat kotoran - kotoran atau kerak - kerak yang menempel pada terminal.
2. Memeriksa kabel - kabel sistem kelistrikan untuk mencegah terjadinya arus hubungan pendek.
3. Gantilah kondensor apabila mengalami kerusakan
4. Memeriksa busi kemungkinan ada yang rusak atau sudah aus.
5. Memeriksa celah breaker point kemungkinan terjadi perubahan atau aus.
6. Memeriksa hambatan kabel tegangan tinggi kemungkinan terjadi kebocoran atau sudah mengalami korosi pada ujungnya.

MEKANISME DAN TROUBLE SHOOTING SISTEM BAHAN BAKAR PADA ENGINE TOYOTA KIJANG 5K

MEKANISME DAN TROUBLE SHOOTING
SISTEM BAHAN BAKAR
PADA ENGINE TOYOTA KIJANG 5K

A. Latar Belakang
Kendaraan konvensional roda dua maupun roda empat berbahan bakar bensin dilengkapi dengan berbagai sistem penunjang demi kesempurnaan kerja mesin tersebut, serta kenyamanan dalam berkendaraan. Salah satu dari sistem terpenting adalah sistem bahan bakar. Sistem bahan bakar itu sendiri terdiri dari beberapa komponen dimulai dari tangki bahan bakar sampai karburator. Bahan bakar yang tersimpan dari tangki dikirim oleh pompa bahan bakar ke karburator melalui pipa-pipa dan selang-selang.
Bila ada kotoran maka akan disaring oleh filter bensin. Dalam karburator terjadi pencampuran antara udara dan besin, dengan perbandingan tertentu selanjutnya akan dialirkan melalui intake manifold ke setiap silinder. Dari uraian di atas, maka penulis mengambil judul “Mekanisme dan Trouble Shooting Sistem Bahan Bakar pada engine Toyota kijang 5K” dengan alasan sebagai berikut:
1. Sistem bahan bakar merupaka satu sistem yang vital, tampa adanya sistem bahan bakar mesin tidak akan hidup.
2. Untuk mengetahui lebih banyak tentang komponen dan cara kerja dari sistem bahan bakar pada Toyota kijang 5K.
3. Untuk mengetahui trouble shooting dari sistem bahan bakar pada Toyota kijang 5K.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dipaparkan di dalam latar belakang maka diambil permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana cara kerja sistem bahan bakar Toyota kijang 5K?
2. Komponen-komponen apa saja yang terdapat pada sistem bahan bakar Toyota Kijang 5K?
3. Bagaimana bila terjadi gangguan dan cara mengatasi pada sistem bahan bakar Toyota Kijang 5K?
C. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari pembahasan sistem bahan bakar Toyota Kijang 5K adalah sebagai berikut:
1. Memberi wacana tentang cara kerja dari masing-masing komponen sistem bahan bakar Toyota Kijang 5K.
2. Laporan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih dibidang otomotif terutama sistem bahan bakar pada Toyota Kijang 5K.
3. Bermanfaat bagi masyarakat pengguna mobil Toyota kijang 5K karena jika terjadi gangguan pada sistem ini dapat segera di analisis dan kerusakan dapat segera diatasi.
D. Tujuan.
1. Mengetahui cara kerja sistem bahan bakar Toyota kijang 5K.
2. Mengetahui komponen-komponen sistem bahan bakar Toyota kijang 5K.
3. Mengetahui gangguan yang terjadi pada sistem bahan bakar Toyota kijang 5K
.
BAB II
SISTEM BAHAN BAKAR TOYOTA KIJANG 5K

A. Prinsip Kerja Sistem Bahan Bakar Toyota Kijang 5K
Prinsip kerja sistem bahan bakar pada Toyota kijang 5K yaitu bahan bakar mengalir dari tangki atau tempat penampungan bahan bakar sementara, diteruskan kepompa melalui saluran bahan bakar yang sebelum ke pompa, disaring terlebih dahulu untuk mencegah adanya kotoran dan air yang akan masuk ke karburator. Kemudian bahan bakar dialirkan ke karburator dengan cara dipompa selanjutnya di dalam karburator bahan bakar diatomisasikan dan disalurkan ke masing-masing ruang pembakaran dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan mesin.
Sistem bahan bakar merupakan sistem yang sangat penting pada motor bensin. Adapun pengertian dari sistem bahan bakar itu sendiri adalah sistem yang bertugas menyediakan bahan bakar dan sekaligus memberikan campuran bahan bakar sesuai dengan kebutuhan mesin.
Sistem bahan bakar terdiri dari beberapa komponenen, dimulai dari tangki bahan bakar sampai pada karburator. Bahan bakar disimpan sementara dalam tangki bahan bakar dan pada saat mesin membutuhkan, bahan bakar di alirkan oleh pompa bahan bakar dari tangki menuju karburator melalui saluran bahan bakar. Air, pasir dan kotoran-kotoran lainya dikeluarkan dari bahan bakar. Karburator menyalurkan sejumlah campuran bahan bakar dan udara sesuai denngan kebutuhan mesin. Keseluruhan bagian ini membentuk sebuah sistem yang disebut sistem bahan bakar.
Komponen yang paling terpenting dalam sistem bahan bakar adalah karburator, tetapi selain karburator juga ada komponen penunjang lainya yaitu tangki bahan bakar, saluran bahan bakar, dan pompa bahan bakar.
B. Komponen Sistem Bahan Bakar Pada Toyota Kijang 5K
Komponen-komponen yang terdapat pada sistem bahan bakar Toyota Kijang 5K adalah :
1. Tangki Bahan Bakar
Kontruksi tangki bahan bakar dan fungsinya

Gamabar 01. Tangki Bahan Bakar.
(New Step 1, 1995 :3-45)

Tangki bahan bakar adalah tempat untuk menyimpan sementara bahan bakar sehingga mobil atau motor dapat beroprasi dalam waktu yang cukup lama tampa harus berhenti kerena tidak ada bahan bakar. Biasanya tangki diletakan dibagian bawah kendaraan, sehingga terhindar dari kebakaran bila terjadi benturan dan mengurangi kemungkinan terjadi kebakaran. Pada umumnya tangki bahan bakar terbuat dari plat baja tipis tetapi ada juga yang terbuat dari plastik atau fiber. Tangki yang terbuat dari plat akan dilaposi dengan logam anti karat.


Komponen-komponen pada tangki bahan bakar Toyota Kijang 5K :
1) Separator
Separator berfungsi sebagai pemisah agar saat kendaraan berjalan atau berhenti secara tiba-tiba, bensin tidak akan menimbulkan bunyi dan juga keluar melalui pipa pengisian.
2) Fuel gauge sender unit
Fuel gauge sender unit adalah komponen yang berfungsi sebagai pengidentifikasi bahwa bensin yang terdapat pada tangki masi penuh atau kosong.
3) Saringan
Saringan terletak 2-3 cm di bagian terendah dari tangki. Ujung pipa terpisah dari tangki agar air dan kotoran tidak terhisap kedalam pipa bersama bahan bakar.
4) Lubang masuk
Lubang masuk berfungsi untuk memasukan bahan bakar ke dalam tangki bahan bakar.
5) Saluran utama
Saluran utama menyalurkan bahan bakar ke pompa bahan bakar dan ke karburator.
6) Saluran kembali
Saluran kembali berfungsi untuk memasukan bahan bakar dari karburator atau pompa bahan bakar ke dalam tangki bahan bakar.

Gangguan pada tangki bahan bakar dan gejala yang mungkin terjadi.
a) Tangki bahan bakar bocor
Tangki bahan bakar yang bocor disebabkan karena benturan atau karat di dalam tangki bahan bakar. Bila hal ini dibiarkan, maka akan menimbulkan bahaya yang cukup besar.
b) Tersumbatnya bahan bakar pada saluran keluar
Penyumbatan saluran keluar ini sering terjadi akibat adanya penguapan bahan bakar dan pengembunan udara dalam ruang tangki bahan bakar yang apabila dibiarkan tanpa menguras tangki secara berkala, maka lama-kelamaan menjadi karat, air dan kotoran akan menumpuk di dasar tangki. Hal ini menjadikan tersumbatnya saluran bahan bakar ke karburator.
c) Pengembunan pada tangki bahan bakar
Udara yang terdapat pada tangki bahan bakar akan mengembun pada saat kendaraan dingin dan menempel pada dinding tangki. Butiran-butiran air akan jatuh kedasar tangki, hal ini disebabkan karena berat jinis air lebih besar disbanding bahan bakar. Untuk mengatasi pengembunan dalam tangki, maka tangki bahan bakar tersebut harus dikuras/dibersihkan.
d) Vapor lock (penguapan bahan bakar)
Vapor lock adalah bahan bakar yang tidak berfungsi sebagai mestinya, disebabkan bahan bakar tersebut menguap di dalam saluran bahan bakar saat terjadi panas. Cairan, termasuk bahan bakar, paling mudah menguap pada tekanan rendah, terutama pada saluran bahan bakar antara tangki dan pompa bahan bakar. Hal ini disebabkan terjadinya sebagai vakum oleh pompa. Apabila bahan bakar dalam saluran pipa menguap dan gelembung-gelembung gas terbentuk maka saat pompa bekerja hanya uap yang terbawa ke karburator.
e) Tersumbatnya saluran pernafasan
Tersumbatnya saluran pernafasan mengakibatkan perbedaan tekanan udara luar dengan udara dalam tangki. jika hal ini terjadi, maka bahan bakar akan mengalir secara terus menerus walaupun tanpa adanya isapan dari pompa.
Gejala yang muncul bila terjadi gangguan seperti:
a) Tangki bahan bakar bocor
Gejala yang terjadi bila tangki bahan bakar bocor adalah adanya tetesan bahan bakar dari bagian belakang kendaraan yang berasal dari tangki bahan bakar, habisnya bahan bakar dengan sendirinya meskipun kendaraan diam dan timbul bau bensin yang menyengat disekitar kendaraan tersebut.
b) Tersumbatnya bahan bakar pada saluran keluar
Gejala yang muncul yaitu bensin tidak dapat mengalir denngan lancar ke karburator/suplai bahan bakar kurang. Gejala lain yaitu mesin tidak mau hidup.
c) Pengembunan pada tangki bahan bakar
Gejala yang muncul bila terjadi pengembunan pada tangki yaitu mesin sering tersendat-sendat sehinga putaran mesin menjadi tidak stabil, kendaraan sukar dihidupkan karena terlalu banyaknya genangan air di dasar tangki akibat dari pengembunan tersebut.


d) Vapor lock (penguapan bahan bakar)
Gejala yang mungkin terjadi yaitu idle menjadi lebih kasar karena campuran udara dan bahan bakar lebih kurus, akselerasi kurang baik dan mesin mudah mati.
e) Tersumbatnya saluran pernafasan
Gejalanya yang mungkin terjadi yaitu suplai bahan bakar kekarburator lebih, pada jalan menurun tercium bau bahan bakar dari ruang mesin dan sering banjir pada air horn karburator sehingga mesin susah hidup.
2. Saluran bahan bakar
Kontruksi saluran bahan bakar dan fungsinya.

Gambar 02. Saluran Bahan Bakar
(New Step 1,Training Manual)

Bahan bakar dari tangki menuju ke karburator disalurkan oleh saluran bahan bakar yang terdiri dari saluran utama dan pengembali. Saluran utama berfungsi untuk menyalurkan bahan bakar dari tangki menuju karburator. Sedangkan saluran pengembali berfungsi menyalurkan pengembalian bahan bakar dari pompa atau karburator ketangki. Saluran bahan bakar terbuat dari dua bahan yaitu pipa baja dan karet sintetis.
Saluran bahan bakar dapat dibagi dua bagian yaitu : saluran utama yang menyalurkan bahan bakar dari tangki ke pompa bahan bakar atau sering disebut fuel line dan saluran pembalik yang menyalurkan kembali bahan bakar dari karburator ke tangki atau disebut fuel return line.
Gangguan pada saluaran bahan bakar.
a) Selang retak
Retaknya selang dan pipa bahan bakar biasa disebabkan karena benturan, goresan atau keausan dari pipa dan selang itu sendiri karena umur yang sudah tua.
b) Selang atau pipa kegencet
Slang atau pipa kegencet disebabkan karena terhimpitnya selang dan pipa dengan benda lain disekitar saluran.
Gejala yang mungkin muncul.
a) Selang dan pipa retak
Gejala yang muncul akibat slang dan pipa bahan bakar retak, bila terjadi pada saluran hisap (suction) yaitu jumlah aliran bahan bakar menjadi berkurang, tenaga motor akan menjadi lemah pada saat membutuhkan bahan bakar lebih. Apabila terjadi pada saluran tekan maka akan tercium bau bensin pada ruang mesin dan itu sangat berbahaya
b) Slang atau pipa kegencet
Gejala yang muncul yaitu aliran bahan bakar ke karburator terhambat yang mengakibatkan bahan bakar tidak sampai ke karburator, sehingga engine tidak mau hidup. Bila selang pengembali dari pompa bahan bakar kegencet maka aliran bahan bakar yang ke karburator semakin besar dan akan mengakibatkan karburator menjadi banjir. Slang atau pipa kegencet bisa pula mengakibatkan slang atau pipa tersebut lama kelamaan menjadi retak dan mengakibatkan kebocoran.
3. Saringan Bensin
Kontruksi saringan bahan bakar dan fungsinya

Gamabar 03. Saringan Bahan Bakar
(New Step 1, 1995 : 3 – 47)

Saringan bensin terletak di antara tangki bensin dan pompa bensin.
Saringan ini berfungsi menyaring kotoran-kotoran dan air yang terbawa aliran bensin. Elemen yang terdapat di dalam saringan akan mengurangi kecepatan aliran bensin sehingga apabila ada kotoran atau air akan turun ke bagian dasar saringan.
Terdapat dua jenis saringan bahan bakar yaitu model gelas dan model katrid. Saringan model gelas elemennya dapat diganti dengan membuka rumah kacanya, sedangkan model katrid bila elemennya kotor tidak dapat diganti. Untuk saat ini saringan bahan bakar yang sering digunakan adalah model katrid karena lebih efesien dalam pemakaian dan pemasangan, walaupun di dalam pemakainya terhitung lebih boros di banding dengan model gelas.
Adapun cara membersihkankanya dengan jalan menyemprotkan udara bersih lalu dikocok-kocok dan dibilas hingga bersih. Penggantian saringan bensin yang baik adalah tiap kali pemakaian kendaraan sejauh 20.000 km (per 12 bulan). Sedangkan sebelum waktu tersebut hanya di lakukan pengecekan dan perawatan apabila sudah kotor.
Gangguan pada saringan bahan bakar dan gejala yang mungkin terjadi.
1) Gangguan yang sering terjadi pada saringan bahan bakar adalah tersumbatnya saringan bahan bakar yang disebabkan adanya kotoran-kotoran yang ikut terbawa bersama aliran bahan bakar.
2) Gejala yang sering terjadi yaitu berkurangnya aliran bahan bakar ke karburator.
Tersumbatnya saringan bahan bakar akan menyebabkan tidak lancarnya aliran bahan bakar ke karburator. Hal tersebut akan sangat menggaggu putaran mesin khususnya pada saat tanjakan ataupun pada saat kecepatan tinggi. Disamping itu mesin akan tersendat-sendat pada saat akselerasi karena sangat kurusnya campuran udara dan bahan bakar.






4. Pompa Bahan bakar
Kontruksi pompa bahan bakar dan cara kerjanya

Gambar 04. Pompa Bahan Bakar Mekanik
(New Step 1, 1995 : 3 – 48)
Karena letak tangki yang lebih rendah dari karburator maka bensin tidak dapat mengalir, sehingga diperlukan pompa bahan bakar untuk mengalirkan bahan bakar dari tangki ke karburator. Ada dua jenis pompa bahan bakar, yaitu model mekanik dan model elektrik. Pada Toyota Kijang 5K menggunakan pompa bensin model mekanik.
Pompa model mekanik menggunakan diagrahma dan dua buah katup, yaitu katub masuk dan katub keluar.
Pompa mekanik pada umumnya digerakan oleh nok yang sekaligus dipasang pada pros nok dari motor, pompa ini dipasang di samping blok silinder dekat dengan gerakan yang ditimbulkan oleh angkat dari nok dan pegas penggerak membrane sehinga timbul tekanan bensin yang akan mengalir dan menutup katup masuk maupun katup keluar.

Cara kerja pompa bensin model mekanik pada Toyota Kijang 5K terdapat 3 tahap, yaitu :
1. Penghisapan

Gambar 05. Pompa Bahan Bakar Saat Pengisapan
(New Step 1, 1995 : 3 – 48)

Diagrahma akan tertarik ke bawah saat rocker arm tertekan ke atas oleh nok ruang di atas diagrahma akan menjadi vakum. Saat itulah katup masuk akan membuka dan bahan bakar akan mengalir menuju diagrahma dan katup keluar tertutup Karena tertekan pegas.
2. Penyaluran
Saat nok berputar, maka rocker arm akan kembali ke posisi semula sehingga diagrahma didorong melalui katup keluar dan terus mengalir ke karburator.

Gambar 06. pompa bensin saat penyaluran bahan bakar.
(New Step 1, 1995 : 3-49)
3. Tidak Bekerja

Gamabar 07. Pompa Bahan Bakar Saat Tidak Bekerja
(New Step 1, 1995 3 – 49)
Jika bahan bakar yang tersedia pada karburator sudah cukup maka diagrahma akan tertarik ke bawah dan batang pull rod pada posisi turun. Hal ini disebabkan karena tekanan pegas sama dengan tekanan bahan bakar. Pada saat ini rocker arm tidak bekerja walaupun nok berputar, akibatnya diagrahma diam dan pompa bahan bakar tidak bekerja.
Gangguan yang sering terjadi yaitu :
a) Diagrahma bocor.
Diagrahma bocor, akan berakibat pada saat melakukan langkah hisap pompa tidak bias bekerja dengan efektif sehinga bahan bakar kurang. Hal ini di tandai dengan keluarnya bahan bakar melalui lubang ventilasi badan pompa,
b) Katup isap inlet check valve tidak menutup rapat.
Katup hisap inlet check valve tidak menutup rapat, menyebabkan pada saat langkah tekan bahan bakar masuk di atas membrane, dan pada saaat langkah tekan bahan bakar sebagaian masuk outlet check valve dan sebagian masuk ke inlet chek valve sehinga bahan bakar berkurang.
c) Katup outlet check valve tidak menutup rapat.
Katup outlet check valve tidak menutup rapat menyebabkan pada saat langkah hisap pompa, inlet dan outlet check valve terbuka sehingga bahan bakar yang masuk membran menjadi minimal sekali dan bahan bakar yang dikirimkan ke karburator pada saat langkah tekan juga akan minimal sekali. Gangguan dari inlet atau outlet check valve ini biasanya disebabkan oleh kotoran yang ikut bahan bakar sehingga kotoran tersebut menganjal salah satu atau kedua katup tersebut. Di samping itu bisa disebabkan pula karena keausan dari inlet atau outlet check valve ( sebagian dari inlet check valve maupun outlet check valve pada pompa bahan bakar terbuat dari bahan karet ), ini rentang sekali terhadap bahan bakar dengan kualitas yang kurang baik misalnya bercampur dengan minyak tanah.
d) Oil seal rusak.
Kerusakan oil seal pada pompa menyebabkan sebagian pelumas akan keluar melalui lubang ventilasi. Jika hal tersebut diikuti oleh kerusakan atau kebocoran pada membran maka pada lubang ventilasi keluar bahan bakar bercampur minyak pelumas. Hal tersebut akan lebih berbahaya lagi jika terjadi bahan bakar masuk kedalam ruang mesin sehingga kualitas pelumas akan rusak yang mengakibatkan terganggunya kualitas sistem pelumasan.
e) Kerusakan pada pump lever arm
Keausan pada pump lever arm, menyebabkan pump lever arm tidak terus bersinggungan terhadap cam penggerak pompa sehingga akan menimbulkan suatu bunyi pada pompa bahan bakar pada saat bekerja. Hal tersebut bisa diatasi dengan jalan mengurangi ebonik pada dudukan pompa bensin.
Gejala yang muncul bila terjadi gangguan seperti di atas yaitu :
a) Keluarnya bensin pada lubang ventilasi badan pompa.
b) Kurangnya pasokan bahan bakar ke karburator.
c) Keluarnya minyak pelumas melalui lubang ventilasi.
d) Timbulnya bunyi pada pompa bahan bakar.
5. Karburator
Tenaga motor bensin diperoleh dari pembakaran campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder. Untuk memperoleh campuran udara dan bahan bakar yang sesuai dengan kondisi kerja mesin dipergunakan karburator.

Gamabar 08. Karburator
(Step 2 1994 2 – 11)

Bahan bakar bensin sebelum masuk ke dalanm silinder harus bersifat sangat mudah terbakar agar mesin dapat menghasilkan efesiensi tenaga yang maksimal. Bensin sedikit sulit terbakar bila tidak dirubah ke dalam bentuk gas. Untuk itu bensin harus dicampur degan udara dalam perbandingan yang tepat.
Perbandingan bahan bahan bakar dan udara dinyatakan berdasarkan perbandingan berat. Secara teoritis nilai pencampuran bahan bakar dengan udara adalah 15:1, artinya bagian udara sebanyak 15 bagian dicampur dengan 1 bagian bahan bakar dalam satuan berat. Tetapi pada kenyataanya, mesin menghendaki perbandingan yang berbeda-beda dan tergantung pada temperature sekitar mesin, beban dan kondisi lainya.
Kondisi kerja mesin Perbandingan udar dan bahan bakar
Saat start tempertur rendah (0ºC) 1:1
Saat sart temperatur normal (20º) 5:1
Saat idling 11:1
Saat putaran lambat 12-13 : 1
Saat akselerasi 8 : 1
Saat putaran maksimal (beban penuh) 12-13 : 1
Saat putaran sedang (ekonomis) 16-18 :1
Tabel 1. Perbandingan bahan bakar dan udara sesuai kondisi mesin.
(New step 1, 1995 : 3-51)

Pada kendaraan Toyota Kijang 5K menggunakan karburator jenis double barrel. Untuk memenuhi kebutuhan kerja pada mesin, pada karburator terdapat beberapa sistem, antara lain : a). sistem pelampung, b). sistem stasioner dan kecepatan lambat, c). primary high speed system (sistem utama), d) secondary high speed system, e). secondary Low Speed System, f). sistem tenaga (power system), g). Sistem percepatan (acceleration system), h). sistem cuk, i). Positive Crankcase Ventilation (PCV) System.
a. Sistem Pelampung
Kontruksi sistem pelampung dan cara kerjanya.

Gambar 09. Sistem Pelampung.
(New Step 1, 1995 : 3 – 54)

Akibat mengalirnya udara melalui venturi, maka akan terjadi kevakuman pada venturi, akibatnya bensin keluar dari ruang pelampung melalui nozel utama. Jika terjadi perbedaan tinggi antara bibir nozel dan permukaan bensin berubah, maka jumlah bensin yang di keluarkan oleh nozel berubah pula. Untuk menjaga agar permukaan nozel di dalam ruang pelampung selalu tetap, maka sistem pelampung akan mengaturnya.
Bila bensin mengalir melalui needle valve dan masuk ke ruang pelampung, maka ruang pelampung akan terangkat ke atas, needle valve menutup dan menghentikan aliran bensin. Bila permukaan bensin turun karena dipakai untuk pembakaran maka pelampung dan needle valve terbuka dan bensin akan masuk ke ruang pelampung dengan sendirinya.
Gangguan pada sistem pelampung dan gejala yang munkin terjadi.
1) Gangguan needle valve aus dan penyetelan tinggi pelampung yang tidak tepat.
Ujung needle valve aus dan penyetelan tinggi pelampung yang terlalu tinggi akan menyebabkan bahan bakar terlalu banyak mengalir keruang pelampung akibatnya pda saat akselerasimesin akan tersendat-sendat dan mesin akan suluit untuk dihidupkan karena banjir.
2) Needle valve tersumbat dan katup jarum macet
Needle valve tersumbat, katup jarum macet dan penyetelan tinggi pelampung yang terlalu rendah akan menyebabkan bahan bakar yang mengalir ke ruang pelampung terlalu sedikit. Hal tersebut akan menjadikan putaran idle/stasioner kasar dan mesin juga sulit untuk di hidupkan karena bahan bakar terlalu kurus.
Gejala yang muncul bila terjadi gangguan pada sistem pelampung adalah mesin tersendat-sendat pada saaat akselerasi, putaran idle atau stasioner kasar dan mesin sukar untuk dihidupkan.





b. Sistem stasioner dan kecepatan lambat (primary low speed system)
Kontruksi dan cara kerjanya

Gambar 10. Sistem Stasioner dan Kecepatan Lambat
(New Step 1, 1995 : 3 – 56)

Bila mesin berputar lambat dan throttle valve terbuka sedikit maka jumlah udara yang masuk ke karburator sangat sedikit. Bensin tidak disalurkan nosel utama karena terjadi ke vakuman pada venture kecil. Oleh sebab itu digunakan primary low speed circuit untuk menyalurkan bensin dibawah throttle valve pada saat mesin berputar.
1) Mesin berputar stasioner (idling)
Bila throttle valve ditutup maka kevakuman yang terjadi pada bagian bawah throttle valve besar karena akibat dari langkah hisap torak. Hal ini menyebabkan bensin yang bercampur dengan udara dari air bleeder keluar dari idle port ke intake manifold dan masuk ke dalam silinder.










Gambar 11. Skema aliran bensin dan udara saat throttle valve menutup.
2) Throttle valve dibuka sedikit
Pada keadaan ini jumlah udara yang mengalir bertambah. Hal ini akan menyebabkan kevakuman di bawah throttle valve berkurang, sehingga bahan bakar menjadi kurus. Untuk mencegah hal itu maka pada saat throttle valve dibuka sedikit, slow port mengeluarkan bahan bakar.









Gambar 13. Skema aliran bensin dan udara saaat throttle valve terbuka sedikit.
Adapun komponen karburator yang erat hubugannya dengan sistem primary low speet system antara lain :
a) Sekrup penyetel campuran idle (idle mixture adjusting screw).

Gambar 11. Sekrup Penyetel Campuran Idle.
(New Step 1, 1995 3 – 56)
Campuran udara dan bahan bakar supaya mesin berputar stasioner adalah 11 : Perbandingan udara dan bahan bakar oleh diameter dalam slow jet. Penyetelan perbandingan ini diatur oleh oleh scrup penyetel campuran stasioner dengan jalan memutar skrup tersebut.
b) Slow jet
Jumlah bahan bakar yang disuplai untuk primary untuk low speed circuit dikontrol oleh slow jet. Bahan bakar tersebut dialirkan melalui slow jet melalui skrup penyetel dan masuk ke dalam silinder.
c) Air bleeder
Air bleeder membantu mengatomisasikan bahan bakar untuk bercampur dengan udara. Pada primary low speed circuit terdapat dua bleeder, yaitu air

bleeder no. 1 (primary air bleeder) dan air bleeder no. 2 (secondary air bleeder).
d) Economizer jet
Economizer jet berfungsi menambah kecepatan aliran bahan bakar sehingga diperoleh campuran bahan bakar dari air bleeder 1 dan 2.
e) Katup solenoid
Bila mesin berputar terus menerus setelah ignition switch pada posisi OFF, ini dinamakan “dieseling”, yang disebabkan oleh campuran udara dan bahan bakar yang dibakar oleh pemanas yang berlebihan dari busi katup gas buang. Salah satu cara untuk mencegah dieseling adalah menghentikan bahan suplai bahan bakar ke karburator (idle port) atau memperbanyak udara yang masuk ke intake manifold.

Gambar 12. Katup Selenoid.
(New Step 1, 1995 : 3 – 54)

Cara kerja katup solenoid :
Bila ignition switch pada posisi OFF, ktup solenoid akan menutup saluran bahan bakar yang ke low speed circuit. Bila ignition switch pada posisi ON, bahan bakar mengalir melalui katup solenoid dan katub terbuka sehingga bensin mengalir melalui low speed circuit. Apabila katup solenoid tidak terbuka, maka mesin dapat dihidupkan tetapi tidak dapat berputar saat idling.
1) Gangguan pada primary low speed system dan gejala yang mungkin terjadi.
Putaran idling atau stasioner adalah putaran mesin tanpa beban atau dengan kata lain bahwa mesin bekerja walau tidak /tanpa menginjak pedal gas. Gangguan yang sering terjadi pada sistem ini adalah :
a) Slow jet kotor atau tersumbat.
Slow jet adalah saluaran bahan bakar pada saat katup gas tertutup, sehingga apabila saluran bahan bakar slow jet tersumbat kotor/tersumbat maka akan mengakibatkan putaran mesin kasar karena kekurangan bahan bakar.
b) Setelan idle mixture adjusting screw tidak tepat.
Jumlah campuran udara dan bahan bakar yang masuk ke dalam silinder pada saat putaran idling/stationer, ditentukan oleh idle mixture adjusting scew. Apabila jumlah bahan bakar yang masuk ke dalam silinder terlalu banyak, maka putaran mesin pada saat idling/stationer kasar. Hal ini diakibatkan tidak tepatnya didalam melakukan penyetelan putaran idling/stationer.
c) Penyetelan pelampung tidak tepat.
Bila penyatelan pelampung di dalam ruang pelampung tidak tepat, maka akan mengakibatkan jumlah bahan bakar berlebihan atau kekurusan. Apabila jumlah bahan bakar di dalam ruang pelampung terlalu banyak, maka bahan bakar tersebut akan mengalir dengan sendirinya melalui nosel walaupun katup gas dalam keadaan tertutup. Selanjutnya apabila dibiarkan maka akan mengakibatkan campuran udara dan bahan bakar terlalu gemuk atau kaya yang menyebabkan putaran idling/stasioner menjadi kasar.
d) Packing karburator robek/rusak
Bila packing rusak/robek, maka akan mengakibatkan masuknya udar luar ke dalam karburator. Dengan masuknya udara luar melalui celah-celah packing yang rusak/robek, maka akan mempengaruhi campuran udara dan bahan bakar sehingga mengakibatkan putaran stationer menjadi kasar.
c. Sitem utama (Primary High Speed System)
Kontruksi dan cara kerjanya.

Gambar 13. Sistem Utama.
(New Step 1, 1995 3 – 58)
Primary high speed system berfungsi mensuplai bahan bakar pada saat kendaraan berjalan pada kecepatan sedang dan tinggi. High Speed Circuit dirancang untuk menyediakan campuran udara dan bahan bakar yang ekonomis yaitu ( 16-18 : 1). Untuk mendapatkan output yang tinggi disediakan disediakan tambahan sistem yaitu sistem akselerasi dan sistem tenaga.
Cara kerja Primari High Speed Sistem :
Bila primary throttle valve dibuka maka kecepatan udara yang mengalir pada venturi bertambah, sehingga akan terjadi perbedaan tekanan pada ujung nosel dan ruang pelampung. Tekanan pada ujung nosel akan lebih rendah dari pada ruang pelampung. Akibatnya bahan bakar dari ruang pelampung mengalir dan sebelum keluar melalui nosel terlebih dahu dicampur udara dari main air bleeder. Skema aliran bahan bakar pada Primary High Speed System adalah sebagai berikut :






Gamabar 17. Skema aliran bahan bakar Primary High Speed System
Bila jumlah bahan bakar yang disalurkan oleh nosel utama pada high speed system maka jumlah bahan bakar yang disuplai oleh low speed system berkurang.
Hubungan antara jumlah bahan bakar disuplai pada High Speed System dan low speed system adalah seperti diperlihatkan pada grafik dibawah ini :

Gambar 18. Gravik Hubungan Antara Low Speed dan High Speed System
Adapun komponen karburator yang erat hubungan dengan primary high speed system antara lain :
a) Main jet
Main jet mengontrol jumlah bensin yang disalurkan oleh primary high speed system.
b) Air bleeder
Air bleeder membantu mengatomisasi bahan bakar agar mudah bercampur dengan udara, sebelum dikeluarkan melalui nosel.
Cara kerja air bleeder :
Bila tekanan pada bagian ujung nosel turun, maka udara dan air bleeder masuk dan akan mencampur bahan bakar, sehingga bahan bakar akan menjadi gelembung. Campuran tersebut disemprotkan dari nosel utama dan selanjutnya dicampur lagi dengan udara dari air horn sehingga menjadi gelembung – gelembung yang halus yang berupa campuran udara dan bahan bakar. Gelembung tersebut di akibatkan karena udara yang masuk ke air bleeder bercampur dengan bahan bakar melewati lubang – lubang kecil disisi air bleeder.

Gamabar 19. Air Bleeder.
(New Step 1, 1995 3 – 59)
Gangguan pada primary hig speed system dan gejala yang mungkin terjadi.
a) Tersumbatnya main jet
Tersumbatnya atau kotornya main jet (jet utama) ini disebabkan karena saringan bahan bakar yang sudah jenuh. Melemahnya kemampuan filter dalam menyaring akan menyebabkan masuknya kotoran kedalam ruang pelampung dan juga main jet. Hal ini akan mengakibatkan pasokan bahan bakar yang digunakan pada sistem utama menjadi lebih kurus sehingga primary high speed system menjadi tidak sempurna. Gejala yang timbul yaitu pada putaran sedang berkisar antara 1000-3000 rpm tenaga kurang sekali.
b) Kotornya main air bleeder
Hal ini disebabkan karena udara yang masuk air horn sedikit membawa kotoran, akibatnya atomisasi dari bahan bakar menjadi kurang sempurna. Hal tersebut dikarenakan kondisi filter yang kotor. Gejala yang dapat dilihat yaitu pada saat rpm 2000-3000 pada primary main nozel tidak mengabut dengan baik.
d. Secondari High Speed System .
Kontruksi dan cara kerjanya.
Primary high speed system berfungsi pada saat mesin bekerja pada beban ringan dan jumlah udara yang masuk sedikit. Tetapi apabila pada beban berat atau kecepatan tinggi suplay campuaran udara dan bahan bakar ke silinder oleh Primary High Speed system tidak cukup maka Secondary High Speed System pada saat itu mulai bakerja.
Secondary High Speed System disusun sama seperti Primary High Speed System, tetapi karena Secondary High Speed System direncanakan untuk bekerja bila mesin membutuhkan out put yang besar maka ukuran (dia meter) dari nozel, venturi dan jet dibuat lebih besar.

Gamabar 20. Secondary High Speed System.
(New Step 1, 1995 3 – 61)

Cara kerja Secondary High Speed System :
Bila mesin berputar pada putaran rendah, vacum yang dihasilkan oleh vacum bleeder pada primary masih lemah, sehingga vacum di dalam rumah diagrahma juga masih lemah dan secondary throttle valve belum bisa membuka. Bila putaran mesin semakin tinggi maka vacum bleeder pada primary mampu menyebabkan secondary throttle valve terbuka sedikit, dengan sedikit terbukanya secondary throttle valve akan menyebabkan vacuum pada rumah diagrahma besar dan secondary throttle valve terbuka semakin lebar. Hal ini menyebabkan udara ke secondary dan bahan bakar keluar dari nosel sekunder.
Skema aliran bahan bakar adalah sebagai berikut :






Gambar 21. skema aliran bahan bakar secondary high speed system
Gangguan yang terjadi pada secondary high speed system dan gejala yang mungkin terjadi.
a) Kotornya pada secondary main jet yang akan menyebabkan tidak lancarnya aliaran bahan bakar sehingga pasokan bahan bakar akan berkurang, yang mana pada sistem ini di butuhkan pasukan bahan bakar yang kaya yaitu dengan perbandingan 12-13 : 1. gejala yang dapat dirasakan yaitu pada saat putaran tinggi, di atas 3000 rpm maka tenaga akan sangat kurang sekali.
b) Kotornya secondary main air bleeder.
Hal ini dikarenakan kondisi filter yang kotor, sehingga udara yang masuk air horn sedikit membawa kotoran. Gejala yang dapat di lihat yaitu pada saat putran di atas 3000 rpm pada secondary main nozzle tidak mengabut dengan baik.

e. Secondary Low Speed System
Kontruksi dan cara kerjanya

Gamabar 21. Secondary low speed system.
(Step 2, 1994 2 – 58)

Bila secondary thorottle valve mulai membuka, aliran udara dalam secondary bergerak lambat, sehingga bahan bakar dalam secondary main nozel sangat sedikit. Hal ini akan menyebabkan campuran bahan bakar menjadi kurus, karena udar yang masuk banyak, ini adalah hasil kerja dari secondary yang lambat mengakibatkan mesin menjadi tersendat-sendat selama akselerasi. Untuk mengatasi ini saat katup secondary throttle valve membuka sedikit dan di depan secondary slow port timbul kevakuman sehinga bahan bakar mengalir.
Gangguan yang terjadi pada secondary low speed system dan geja yang mungkin terjadi.
Kotornya secondary slow port akan menyebabkan tidak lancarnya aliran bahan bakar sehingga pasokan bahan bakar akan berkurang. Gejala dapat dirasakan adalah pada saat akselerasi.
f. Sistem Tenaga (power system)

Gambar 22. Sistem Tenaga.
(New Step 1, 1995 : 3 – 61)

Primary high speed system direncanakan untuk pemakaian bahan bakar yang ekonomis, jika mesin harus mengeluarkan tenaga yang besar maka harus ada tambahan bahan bakar ke primary high speed system. Tambahan bahan bakar tersebut disuplai oleh power system sehingga campuran udara dan bahan bakar menjadi kaya 912-13 :1).
Cara kerja power system adalah :
Bila primary throttle valve terbuka sedikit yaitu pada beban ringan maka kevakuman pada intake manifold akan besar, akibatnya power piston akan terisap dan terangkat pada posisi atas. Hal ini akan menyebabkan power valve spring (B) menahan power valve, sehingga power valve tersebut tertutup.
Apabila primary throttle valve dibuka agak lebar yaitu pada kecepatan tinggi atau menanjak, maka kevakuman pada intake manifold berkurang sehinggs pada power piston terdorong kebawah oleh power valve spring (A) sehingga power valve terbuka. Bila hal ini terjadi, maka bahan bakar mengalir dari power jet dan primary main jet ke primary hig speed system sehingga campuran udara dan bahan bakar menjadi kaya.
Di bawah ini diperlihatkan skema alliran bahan bakar dan udara mengalir pada power system :








Gambar 24. Skema aliaran bahan bakar secondary low speed system.
Gangguan yang terjadi pada power system dan gejala yang mungkin terjadi :
a) Macetnya power piston menekan power valve.
Hal ini menyebabkan power jet selalu mentribusi bahn bakar, baik itu pada kecepatan sedang atau tinggi sehingga menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi boros. Gejala yang timbul dapat dilihat pada sisi knolpot yaitu terdapatnya endapan karbon yang kering (jelaga karbon pada knalpot). Hal ini disebabkan karena kebocoran pada power piston sehingga isapan intake manifold melalui saluran vacuum bleeder tidak mampu melawan pegas power piston.
b) Power piston macet pada posisi terangkat.
Power valve yang selalu menutup akan menyebabkan tidak adanya distribusi bahan bakar pada power jet. Hal ini akan mengakibatkan pasokan bahan bakar kurang pada saat power dibutuhkan, sehingga tenaga yang dihasilkanpun jaga sangat kurang. Gejala tersebut juaga bisa terjadi kalau power jet kotor/tersumbat.
g. Sistem Percepatan (Acceleration System )
Kontruksi dan cara kerjanya
Percepatan pada mesin dilakukan saat valve membuka secara tiba-tiba, akibatnya jumlah campuran bahan bakar dan udara yang diperlukan juga lebih cepat dan lebih banyak, akan tetapi karena bahan bakar lebih berat dari pada udara maka bahan bakar akan datang terlambat sehingga campuran akan menjadi kurus, padahal saat akselerasi dibutuhkan campuran yang kaya. Oleh karena itu korburator dilengkapi dengan sistem akselerasi/percepatan. Sistem percepatan menambahkan bahan bakar keruang bakar agar campuran menjdi kaya dan hasil pembakaran menjadi besar. Sistem percepatan sangat berguna sekali pada waktu akselerasi atau mendahului kendaraan lain, pada sistem ini engine butuh campuran yang kaya.


Gamabar 23. Sistem Percepatan.
(New Step 1, 1995 3 – 61)

Acceleration system berfungsi untuk mengatasi terjadinya campuran bahan bakar yang kurus pada saat throtle valve terbuka secara tiba-tiba dengan jalan memberikan sejumlah campuran bahan bakar yang diperlukan untuk akselerasi yaitu 8 :1.
Cara kerja sistem percepatan:
Pada saat pedal gas di injak secar tiba-tiba, plunger pump (pompa plunyer) bergerak turun menekan bensin yang ada pada ruang bawah plunger pump. Akibatnya bensin akan mendorong outlet steel ball dan pemberat kemudian bensin keluar ke primary ventury melalui pump jet setelah melakukan penekanan tersebut, pump plunger kenbali ke posisi semula pada saat deccelerasi dan bahan bakar masuk lagi ke dalam ruang pompa melalui inlet steel ball untuk persiapan saat akselerasi berikutnya. Keluarnya bahan bakar hanya terjadi sekali yaitu saat ada penekanan dari pumpa plunger, banyak sedikitnya bahan bakar yang keluar tergantung dari cepat atau lambatnya pedal akselerasi di injak.
Skema aliran bahan bakar dan udara pada saat sistem akselerasi adalah sebagai berikut :






Gambar 26. Skema aliran bahan bakar Sistem percepatan.
Gangguan yang terjadi pada sistem percepatan dan gejala yang mungkin terjadi.
Komponen utama dalam sistem percepatan yaitu steel ball/bola baja (inlet steel bal dan outlet steel ball), plunger dan pump jet. Pada saat percepatan dibutuhkan campuran bahan bakar yang lebih kurus yaitu 8: 1. Hal ini akan disalurkan melalui sitem percepatan yang komponennya yaitu steel ball inlet yang berhubungan langsung dengan ruang pelampung (one way). Plunger dalam proses expansinya akan menghisap bahan bakar dari ruang pelampung melalui steel ball inlet. Pada saat kompresi akan menutup steel ball inlet dan membuka steel ball outlet sehingga bahan bakar terkirim ke pump jet. Steel ball outlet menutup saluran outlet pada saat pompa plunger expansi sehingga udara tidak masuk ke ruang plunger (diharapkan bahan bakar saja yang masuk dari inlet). Pump jet fungsinya menyemprotkan bahan bakar menuju ke sistem.

Kemumgkinan kerusakan yang bisa terjadi pada sistem ini adalah :
a) Steel ball inlet tidak bisa menutup rapat.
Steel ball inlet tidak bisa menutup rapat akan mengakibatkan keluarnya bahan bakar ke pump jet kurang karena pada saat kompresi plunger, bahan bakar sebagian masuk ke pelampung dan sebagian masuk ke outlet.
b) Steel ball outlet tidak menutup rapat
Hal ini akan mengaklibatkan pada expansi bukan bahan bakar dari ruang pelampung yang dihisap melainkan udara dari saluran outlet yang masuk keruang plunger sehingga pada saat kompresi tidak ada bahan bakar yang masuk ke pump jet.
c) Tersumbatnya pump jet
Tersumbatnya pump jet akan menyebabkan tidak adanya pasokan bahan bakar pada saat akselerasi menjadi lemah.
h. Sistem choke
Krontruksi dan fungsinya
Saat mesin dalam kondisi dingin, bensin tidak akan menguap dengan baik dan sebagian campuran udara yang mengalir akan mengembun pada dinding intake manifold, karena dalam keadaan dingin. Hal ini akan mengakibatkan campuran udara dan bahan bakar menjadi kurus sehingga mesin sukar hidup. Sistem cuk pada karburator ada dua tipe, yaitu manual dan otomatis. Sistem cuk pada Toyota Kijang 5K menggunakan sistem cuk tipe manual.

Gamabar 24. Sistem Choke.
(New Step 1, 1995 3 : 63)

Katup cuk akan tertutup rapat pada saat temperature mencapai 25ºC oleh pegas thermostatic (bimetal). Bila mesin hidup dalam keadaan katup cuk tertutup, maka akan terjadi kevakuman dibawah katup cuk. Hal ini menyebabkan bahan bakar disalurkan oleh primary low dan high speed system seingga campuran menjadi kaya.
Fungsi dari choke breaker adalah memegang dengan paksa katup cuk agar sedikit membuka untuk membiarkan udara masuk secukupnya guna mencegah campuran gemuk ketika katup cuk tertutup penuh. Sedangkan fungsi choke opener adalah untuk membuka penuh ketika knob choke ditarik keluar, walaupun melalui choke breaker, setelah temperatur air pendingin mesin naik di atas angka spesifikasi.




Gangguan pada cuk dan gejala yang mungkin terjadi.
a) Kerusakan pada coil
Kerusakan pada coil akan menyebabkan pembukaan cuk menjadi lambat sehingga pada saat start terjadi kelebihan bahan bakar. Hal ini akan menjadikan mesin mlepek dan mesin sulit untuk dihidupkan.
b) Cuk tidak bisa menutup
Tidak bisa menutupnya cuk kemungkinan diakibatkan oleh kotornya mekanisme. Hal ini akan menyebabkan kurangnya bahan bakar pada start awal, sehingga start bisa terjadi secara berulang-ulang.
i. Positive Crankcase Ventilation (PCV) System
Kontruksi dan cara kerjanya

Gambar 25. Positive Crankcase Ventilation (PCV) System.
(New Step 1, 1995 3: 3 – 63)

Positive crankcase ventilation (PCV) Sistem dirancang untuk mencegah mengalirnya blow by gas (campuran udara dan bahan bakar yang bocor) agar tidak ke adara luar, yang akan mengakibat pengotoran udara. Pencegahan tersebut dilakuakn dengan jalan mengalirkan kembali blow by gas ke intake manifold sesuai dengan kondisi kerja mesin. Sisa gas pembakaran yang masih biasa di bakar didalam ruang poros engkol akan menggangu sistem yang lain dan juga mempengaruhi kualitas pelumasan maka sistem ini sangat penting untuk menjaga agar sistem yang di dalam engine tetap dalam performanya.


Gamabar 26. Cara Kerja Positive Crankcase Ventilation (PCV) System.
(New Step 1, 1995 3 – 630)
a) Pada saat mesin mati atau bila terjadi back fire, dengan adanya pegas, valve akan tertekan ke bawah menutup saluran yang menghubungkan intake manifold dan crankcase.
b) Pada saat putaran idle atau saaat pengurangan kecepatan, kevakuman intake manifold tinggi, sehingga valve akan tertarik ke atas (ke bagian intake manifold) untuk memperkecil luas saluran gas ke intake manifold berkurang.
c) Pada saat mesin bekerja normal, kevakuman pada intake manifold lebih rendah dari pada keadaan (2) diatas, hal ini mengakibatkan valve akan bergerak turun seihingga saluran gas menjadi lebih luas.
d) Pada saat akselerasi atau pada saat beban berat, kevakuman pada intake manifold lebih rendahg lagi sehingga valve akan bergerak lebih turun lagi tetapi belum menutup. Jadi luas saluran gas menjadi maksimum, yang mana blow by gas dapat mengalir ke intake manifold dalam jumlah yang besar. Bila gas yang dihasilkan melebihi kapasitas saluran gas pada valve, gas akan dialirkan ke karburator melalui selang yang dipasang antara silinder dan sarinagan udara.
Gangguan yang terjadi pada (PVC) dan gejala yang mungkin terjadi.
Gangguan yang sering terjadi pada PVC yaitu valve yang ada pada PVC tidak bisa menutup dengan rapat. Hal ini disebabkan karena pegas dalam katup PVC tidak bisa bekerja dengan normal/patah sehingga mengakibatkan tidak sesuainya campurtan bahan bakar yang masuk kesilinder yang menyebabkan putaran mesin menjadi goncang atau tidak stabil.










BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Simpulan yang dapat diambil dari tugas akhir yang berjudul Mekanisme dan Trouble Shooting Sistem Bahan Bakar Toyota Kijang 5K sebagai berikut :
1. Fungsi dari sistem bahan bakar adalah: untuk menyediakan bahan bakar dan sekaligus memberi campuran bahan bakar sesuai dengan kebutuhan mesin.
2. Komponen sistem bahan bakar Toyota Kijang 5K terdiri dari : tangki bahan bakar, saluran bahan bakar, saringan bensin, pompa bensin mekanik, dan karburator.
3. Fungsi karburator untuk mencampur bahan bakar dan udara dalam perbandingan yang tepat sesuai dengan kebutuhan mesin.
4. Prinsip kerja karburator berdasarkan kevakuman yang diakibatkan adanya aliran yang cepat pada venture.
5. Ganggunan yang sering terjadi pada karburator diakibatkan adanya kotoran-kotoran yang terdapat pada saluran-saluran di dalam karburator dan keausan dari tiap-tiap komponen.
B. Saran
Saran yang dapat penulis berikan yaitu ;
1. Melakukan perawatan sistem bahan bakar secara berkala untuk mencegah kerusakan atau gangguan pada komnponen-komponen system bahan bakar di antaranya tangki bahan bakar, pompa bahan bakar, karburator, dan saluran bahan bakar.
2. Mengganti saringan bahan bakar apabila sudah kotor untuk mencegah kotoran masuk kedalam karburator.
3. Melakukan analisa secara urut sehingga akan mempermudah dan mempersingkat waktu dalam melakuakan pengecekan maupun perbaikan.

















DAFTAR PUSTAKA
Anonim . 1995. New Step 1 Training manual : PT. Toyota Astra Motor
Anonim.1994. New Step 2 Training Manual. Jakarta : PT. Toyota Astra Motor
Anonim. 1996. Pedoman Reparasi Mesin 5K. Jakarta PT. Toyota Astra Motor

SISTEM PENDINGIN PADA MESIN MITSUBISHI L 300

SISTEM PENDINGIN PADA MESIN MITSUBISHI L 300

A. Fungsi Pendingin
Sistem pendingin adalah suatu rangkaian untuk mengatasi terjadinya over heating pada mesin agar mesin bekerja dengan optimal. Pada mesin solar energi yang terkandung dalam bahan bakar diubah menjadi energi efektif melalui proses pembakaran. Proses pembakaran akan menghasilkan panas yang kemudian akan diubah menjadi energi mekanis. Dari panas yang dihasilkan hanya sekitar 32 % yang diserap sistem pendingin. Untuk mencegah terjadinya over heating yang akan merusak komponen-komponen mesin.
Secara garis besar fungsi sistem pendingin dibagi menjadi dua, yaitu antara lain :
1. Untuk mengurangi panas yang berlebihan pada mesin.
2. Untuk mempercepat suhu kerja mesin dan mesin bisa bekerja secara optimal setelah suhu kerja mesin tercapai.

B. Jenis Pendingin
Mesin pembakaran dalam adalah suatu mesin panas yang selama beroperasi temperatur gas dalam ruang pembakaran bisa mencapai 2500o. Disekitar ruang pembakaran bahan logam akan mencapai suhu sekitar 600o. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu sistem pendingin mesin.

Cara pendinginan mesin yang dikenal selama ini adalah sebagai berikut :
1. Secara Langsung (Dengan Sistem Pendinginan Udara)
2. Secara Tidak Langsung (Kombinasi Antara Pendinginan Air Dan Udara)
Kedua cara ini dapat menyerap panas sekitar 33 % ke atmosfer (udara luar) melalui atau dengan daya konveksi, yakni udara dihamburkan ke permukaan bahan logam yang panas. Bagaimanapun efisien mesin akan berkurang jika pemindahan panas semakin bertambah. Dan pembahasan kali ini adalah sistem pendingin secara tidak langsung (kombinasi antara pendinginan udara dan air) karena pada mitsubishi L 300 Diesel menggunakan sistem ini.
Tiga cara perpindahan panas, yaitu :
1. Radiasi
Contoh : Panas dari mesin akan memancar disekeliling ruang mesin, jadi perambatan panas secara langsung walaupun tanpa media panas bisa merambat.
2. Konduksi
Contoh : Perpindahan panas dari dinding silinder bagian dalam kedinding silinder bagian luar
3. Konveksi
Contoh : Perpindahan panas dari gas pembakaran kedinding silinder bagian dalam dan perpindahan panas dari dinding silinder bagian luar ke air dalam mantel air.













Gambar 1. Sistem pendingin

C. Prinsip Kerja Sistem Pendingin Mitsubishi L 300
Air pendingin yang masih dingin ditampung didalam radiator, setelah mesin dihidupkan dan suhu naik, air pendingin tersebut dipompa menuju ke cylinder head. Air pendingin yang telah panas sekitar 820C akan membuka katup thermostat, dan mengalirkan air pendingin yang telah panas tersebut ke radiator untuk didinginkan kembali. Pendinginan radiator dibantu oleh isapan angin dari kipas pendinginan yang berputar. Proses pendingin ini akan berlangsung pada saat mesin hidup.
Pompa air yang digunakan adalah tipe centryfugal yang dipasang pada bagian depan blok silinder dan pada poros pompa terdapat puli kipas udara yang digerakkan oleh poros engkol melalui tali kipas udara.

Keterangan:
1. Radiator
2. Thermostat
3. Cylinderhead

Gambar 2. Aliran Air Pendingin

D. Konstruksi Sistem Pendingin Mitsubishi L 300






Gambar 3. Konstruksi Sistem Pendingin

E.Komponen-Komponen Pada Sistem Pendingin
1. Radiator
Radiator berfungsi untuk mendinginkan air yang telah panas dari mesin dengan cara membuang panas dari air melalui sirip-sirip pendingin.






Pada kendaraan bermesin depan, biasanya raditor diletakkan didepan mesin dalam posisi terbuka untuk sirkulasi udara melalui kisi-kisi didepan kendaraan. Bentuk radiator bisa merupakan jenis tegak.
2. Pompa Air
Pompa air mengedarkan air dari mesin ke radiator untuk memastikan aliran yang positif. Pompa jenis sentrifugal digunakan untuk membuat air mengalir secara teratur tanpa memerlukan tenaga yang berlebihan untuk mengendalikannya.

Gambar 5. Pompa air

3. Water Jacket/Kantong Air
Jaket air terdiri dari selubung/pembungkus terluar, silinder, dan ruang pembakaran. Ruangan antara jaket air kiri dengan silinder ruang bakar dan selubung merupakan ruang air tempat panas dikonveksikan. Ruang jaket air diperluas untuk menyebarkan bagian logam yang terpanas dari mesin seperti dudukan katup.

4. Tutup Radiator
Fungsi tutup radiator adalah untuk menaikkan titik didih air pendinginan dengan jalan menahan ekspansi dari air saat air menjadi panas sehingga tekanan air menjadi lebih tinggi dari tekanan udara luar. Semua kendaraan bermotor dipasang dengan menggunakan tutup radiator bertekanan. Sehingga mengakibatkan beberapa hal berikut ini :
a. Radiator yang lebih kecil bisa digunakan
b. Pompa air lebih efisien
c. Pemanasan ditempat dapat dikurangi
d. Kehilangan air melalui evaporasi dapat dikurangi
e. Gelombang air dapat ditekan




Gambar 6 . Tutup Radiator
5. Termostat (Alat Pengatur Panas)
Termostat berfungsi untuk mempercepat suhu kerja mesin mencapai suhu kerja yang ideal.
Keterangan:
1. Bypass valve 4. Piston
2. Cilinder 5. Valve
3. Wax
Cara kerja :
Pada saat air pendingin panas lilin atau Wax Pellet yang ada didalam thermostat akan memuai dan mendorong katup untik membuka (1). Hal ini disebabkan karena pemakaian lilin tersebut mampu menekan tahan pegas (3), thermostat pada saat temperature air pendingin telah dingin, maka lilin didalam thermostat akan menyusut, sehingga pegas didalam thermostat akan mendorong katup thermostat untuk menutup kembali (2).
Keterangan:
1. Katup saat membuka
2. Katup saat menutup
3. Pegas

Gambar 8. Cara Kerja Thermostat
6. Kipas
Kipas pada sistem pendingin berfungsi untuk mengalirkan udara dari inti radiator agar panas yang terdapat pada inti radiator dapat dirambatkan dengan mudah ke udara. Gerakan kipas diperoleh dari poros engkol bersamaan dengan berputarnya pompa. Tujuan pemasangan kipas adalah untuk mempercepat pendingin air didalam radiator dengan jalan memperbanyak udara yang mengalir melalui radiator terutama pada saat mobil berjalan lambat. Pada saat berjalan cepat aliran udara akibat jalannya mobil sudah cukup untuk mendinginkan air didalam radiator.

Keterangan :
1. Kipas
2. Sabuk
3. Pully poros engkol


Gambar 9. Kipas
7. Selang-Selang Karet Dan Penjepit/Klem Selang
Selang karet membuat hubungan yang fleksibel antara mesin dan radiator atau komponen lainnya,seperti pemanas dan AC. Penguat penjepit selang karet digunakan untuk hal-hal berikut ini :
1. Membalut permukaan
2. Menjaga tekanan dalam sistem dengan menahan kelenturannya
3. Menjadi peredam suhu dalam sistem pendinginan
Penggunaan selang ini terdapat pada :
a. Selang Radiator Bagian Atas
1.) Menghubungkan bagian teratas dari radiator ke pengeluar (outlet) ruang pengukur panas
2.) Menyalurkan air panas dari mesin ke radiator
b. Selang Radiator Bawah
1.) Menghubungkan bagian radiator terbawah ke saluran masuk pompa air
2.) Menyalurkan air hangat dari radiator ke mesin
c. Selang By Pass (Ketika Dipasang)
1.) Menghubungkan bagian lebih rendah pada ruang termostat kesisi jalan masuk pompa air
2.) Menyediakan sirkulasi ke pompa ketika termostat tertutup





Gambar 10 . Selang radiator
8. Botol Pelimpah
Botol pelimpah di pasang dalam unit mesin didekat radiator, dihubungkan ke radiator dialirkan oleh selang karet, sering disebut sistem pemulihan pendingin. Botol atau tabung biasanya terbungkus plastik dan mempunyai tanda “ADD & Full”, untuk mengatasi kelebihan atau panas, seperti sistem pendinginan zat pendingin di transfer kembali ke radiator melalui selang.






BAB III
TROUBLE SHOOTING SISTEM PENDINGIN
PADA MITSUBISHI L 300

A. Gangguan Pada Sistem Pendingin Mitsubishi L 300
1. Terjadi Overcooling
Terjadi over cooling dapat diamati pada temperatur air pendingin yang selalu rendah (jatuh di bawah temperatur kerja idealnya). Jika hal ini terjadi berarti overcooling.
Dari neraca panas hal ini berarti terjadi kenaikan kerugian karena pendinginan (cooling loss). Dengan adanya kenaikan cooling loss ini berarti daya mekanis yang dihasilkan sudah pasti berkurang. Tetapi pada mesin tidak terasa betul. Yang lebih terasa adalah adanya kenaikan pemakaian bahan bakarnya. Jadi over cooling sepertinya tidak berakibat menurunnya daya mekanis mesin yang dihasilkan melainkan konsumsi bahan bakar yang diperlukan mesin.
Gejala dan kemungkinan yang terjadi:
a) Thermostat rusak
Sebagai komponen yang berfungsi mengatur masuknya air pendingin yang masuk ke dalam water jacket agar didapatkan suhu mesin yang sesuai dan apabila pada alat ini terjadi kerusakan dapat mengakibatkan mesin menjadi dingin atau sebaliknya. Tes kerja thermostat tersebut tidak bisa bekerja dengan baik apabila thermostat membuka terus, karena alat tersebut tidak bisa menutup saat mesin dingin, ini berarti thermostat rusak.
Cara mengatasinya :
Termostat harus diganti.
b). Udara luar yang terlalu dingin.
Udara dingin menjadikan mesin itu terlalu dingin.
Cara mengatasinya :
Dengan menghindari radiator kontak langsung dengan udara luar dan menutup radiator agar radiator tertutup.
2. Terjadi Overheating
Terjadi overheating dapat diamati pada temperatur air pendingin yang selalu tinggi (jauh diatas temperatur kerja idealnya). Jika hal ini terjadi berarti overheating.
Dari neraca panas hal ini sebetulnya akan menurunkan kerugian panas karena pendinginan (cooling loss). Tetapi dengan kenaikan temperatur mesin yang diamati pada air pendingin ini selanjutnya akan menyebabkan beberapa komponen mesin mengalami perubahan bentuk yang berlebihan akibatnya pemuaiannya seperti piston pada silinder. Akibatnya lanjutnya yang dapat dirasakan adalah adanya kenaikan kerugian akibat gesekan. Secara prinsip penyebab dari overheating adalah aliran dari air pendingin dan udara pada radiator yang mengalami gangguan bisa juga jumlah debit air pendingin yang telah habis. Kemungkinan penyebab dari terganggunya sistem pendingin dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Radiator Bocor
Penyebab terjadinya sistem pendingin bocor bisa karena pemakaian yang lama dan perawatan sistem pendingin yang kurang teratur dapat menyebabkan kebocoran yang mengganggu sirkulasi air pendingin. Untuk mengetahui bocor atau tidaknya sistem pendingin yaitu menggunakan Radiator tester.
Tes tekanan sistem pendingin untuk menemukan tempat yang mengalami kebocoran, dengan memompakan udara pada sistem pendingin melalui radiator akan menyebabkan air menetes pada bagian-bagian yang bocor. Bagian-bagian yang rawan bocor adalah pada sambungan pipa air dan bak penampung.
Cara mengatasinya :
Menambal bagian-bagian yang bocor atau mengelasnya, akan tetapi apabila terjadi kebocoran yang parah maka radiator harus diganti.

Gambar12. Tes Tekanan Sistem Pendingin
(Pedoman Reparasi Mesin Seri 4G, Mitsubishi Motor)

b. Radiator Tersumbat
Penyebab radiator tersumbat adalah pemakaian yang lama, menyebabkan banyak kotoran atau kerak yang menempel atau mengendap yang dapat menyumbat saluran air, sehingga kemampuan membuang panas menjadi menurun. Temperatur yang tinggi akan merusak komponen-komponen mesin. Bagian-bagian radiator yang kemungkinan terjadi kerusakan yaitu:
1). Mulut Pipa-pipa Air.
Pada bagian mulut pipa sering terjadi adanya kerak-kerak yang menempel pada setiap bagian lubang sehingga air tidak dapat masuk melalui pipa yang tersumbat kotoran.
Cara mengatasinya :
Dibersihkan dengan alat penggores atau skrap untuk membersihkan kotoran pada bagian ujung pipa.
2). Pipa-pipa Air
Gangguan pada saluran-saluran yang tersumbat oleh kotoran air atau kerak
Cara mengatasinya :
Dengan memasukkan korok ke dalam pipa-pipa tersebut, sehingga kerak-kerak yang menempel bisa keluar. Perlu diperhatikan bahwa pipa-pipa tersebut dari bahan aluminium jadi mudah rusak.
3). Inti Radiator


Gambar 13 . Inti Radiator
(STEP 2 Mitsubishi Motor)

Bentuk sirip-sirip pada sistem pendingin mesin Mitsubishi L 300 menggunakan sirip dari bahan aluminium bentuk zig-zag, sirip inilah yang mudah terkena kotoran.
Cara mengatasinya :
Untuk membersihkan kotoran pada sirip-sirip radiator dengan cara menyemprotkan udara dari kompresor ke dalam sirip-sirip agar kotoran keluar.
4). Bak Air Atas
Bak bagian atas berfungsi sebagai penampung air panas yang masuk dari selang, penampung atas dilengkapi dengan tutup radiator. Kotoran yang menempel pada dinding bak penampung atas.
Cara mengatasinya :
Dengan menguras radiator, kemudian diisi kembali dengan air dan coolant.

5). Bak Air Bawah
Bak ini berfungsi menampung air yang telah didinginkan oleh sirip-sirip yang menyerupai pipa-pipa kecil sebagai pendingin. Penampung bawah ini dilengkapi kran pembuangan air dan lubang aliran menuju pompa air. Agar bak tetap penuh, maka saluran-saluran pipa-pipa kecil pada sistem pendingin air harus selalu baik dan tidak ada endapan kotoran yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian lainya. Pipa-pipa kecil sangat mudah ditempeli kotoran makin lama makin tebal sehingga dapat mengurangi fungsi pendingin.
Cara mengatasinya :
Dengan menguras radiator, kemudian diisi kembali dengan air dan coolant.
c. Thermostat Tidak Bekerja
Thermostat berfungsi mengatur sirkulasi air agar kerja mesin maksimal pada temperatur yang sesuai. Thermostat yang macet pada saat tertutup dapat menyebabkan mesin menjadi overheating dan thermostat yang macet pada saat terbuka dapat menyebabkan overcooling. Penyebabnya thermostat sudah lama dan tidak mampu bekerja dengan baik karena pegas-pegasnya sudah tidak mampu membuka katub thermostat.

Cara mengatasinya:
Kedua gejala tersebut dapat merusakkan bagian dari mesin dan tenaga yang dihasilkan menjadi turun. Bila pada saat suhu mesin dingin sudah ada sirkulasi air, maka kemungkinan thermostat macet dalam keadaan terbuka. Tetapi bila pada saat temperatur mesin sudah mencapai suhu kerja tetapi tidak ada sirkulasi air, ada kemungkinan thermostat macet pada saat tertutup. Saat temperatur air mencapai 820C, maka katup thermostat akan mulai membuka dan pada 880C katup tersebut terbuka penuh dan kemungkinan air pendingin bersikulasi ke radiator dalam keadaan baik.
Apabila thermostat tidak dapat membuka atau tidak dapat bekerja pada waktunya, maka thermostat harus diganti. Pengujian thermostat perlu dilakukan untuk mengetahui kondisinya, dengan cara:
1). Rendam thermostat ke dalam air.
2). Panaskan air, biarkan panas air konstan, dan hindari pemanasan langsung ke thermostat.
3). Periksa pertama terbukanya katup pada temperatur 820C.
4). Periksa saat terbukanya pada temperatur 880C

Gambar 14 . Memeriksa Thermostat
(STEP 2 Training Manual Toyota )

d. Pompa Air Rusak.
Pompa air berfungsi mensirkulasikan air ke dalam sistem pendingin. Apabila pompa air macet atau tidak berfungsi, maka sirkulasi air pendingin terganggu, sehingga air mengalir dari radiator ke mesin tidak dapat bersirkulasi. Adanya karat di dalam sistem pendingin dapat merusakkan seal pompa yang akhirnya dapat menimbulkan kerusakan pada poros dan bantalan.









Gambar15 . Memeriksa Pompa Air

Apabila terjadi kerusakan pada pompa air dalam sistem pendingin mesin L 300 maka solusi yang direkomendasikan oleh Mitsubishi Motor adalah penggantian satu unit pompa.
e. Water Jacket Tersumbat
Water Jacket (mantel pendingin) terdapat disekeliling silinder mesin dan kepala silinder. Fungsi water Jacket ini adalah untuk mendinginkan bagian-bagian silinder dan ruang bakar. Mantel pendingin pada kepala silinder berhubungan dengan bak penampung bawah radiator.
Aliran air yang melewati mantel pendingin akan meninggalkan kotoran atau karat yang mengendap dan menghambat sirkulasi air pendingin didalam mantel pendingin, jadi akibatnya dari water Jacket tersumbat karena adanya kotoran-kotoran di dalam seperti kotoran yang dibawa oleh air atau kotoran akibat terjadinya korosi.
Cara mengatasinya :
Endapan kotoran harus dibersihkan dengan cara meniupkan udara yang bertekanan dari kompresor ke lubang-lubang yang tersumbat sehingga kotoran diharapkan keluar dari water Jacket.

f. Tutup radiator bocor
Penyebab terjadinya tutup radiator bocor: Salah satu fungsi dari tutup radiator adalah untuk mengurangi tekanan apabila tekanan di dalam sistem berlebihan sehingga dapat mencegah kerusakan-kerusakan bagian sistem. Apabila tidak ada kebocoran di dalam sistem pendingin dan radiator tidak terganggu, tetapi motor mengalami overheating, maka dapat juga disebabkan karena tutup radiator yang kurang baik sehingga didalam sistem terlalu tinggi.
Terjadinya radiator bocor diakibatkan karena tekanan air pada radiator sangat tinggi dan tutup radiator tidak mampu menahan, maka tutup radiator rusak dan akibatnya bocor.

Gambar 16 . Pemeriksaan Tutup Radiator


Cara mengatasinya:
Pemeriksaan tutup radiator untuk mengetahui keadaan katup tekan dan katup hisapnya dengan pompa seperti terlihat pada Gambar 16. dengan alat tersebut dapat diketahui apakah ada kebocoran pada tutup radiator atau tidak. Apabila tutup radiator rusak maka harus diganti.
g. Terdapat bunyi pada sistem pendingin
Penyebab terjadinya bunyi pada sistem pendingin. Gesekan-gesekan dari komponen-komponen sistem pendingin dapat menimbulkan suara. Apabila suara mesin tidak lazim dari biasanya, maka yang harus di periksa sumber bunyi, hal tersebut disebabkan oleh:
1). Pompa air rusak
2). Kipas pendingin.
B. Perawatan Sistem Pendingin Mesin Mitsubishi L 300
Cara mengatasi gangguan pada sistem pendingin mesin Mitsubishi L 300 dapat dilakukan dengan macam perawatan sebagai berikut :
1. Perawatan preventif
Perawatan preventif merupakan perawatan sistem pendingin secara ringan dengan biaya kecil karena dapat dilakukan sendiri dan biasanya dilakukan secara berkala. Pada perawatan ini juga bertujuan mencegah atau menanggulangi secara dini sebelum komponen sistem pendingin mengalami kerusakan yang lebih parah yang tentunya membutuhkan biaya perbaikan yang lebih mahal. Kegiatan yang dilakukan pada perawatan preventif meliputi:
a. Penggantian air radiator apabila air tersebut sudah kelihatan keruh.
b. Membersihkan tutup radiator.
c. Pemeriksaan kebocoran pada selang-selang radiator.
d. Membersihkan mantel pendingin agar sirkulasi air pendingin berjalan lancar.
e. Penambahan Mitsubishi Motor Genuine Coolant pada air pendingin yang dapat merawat komponen-komponen sistem pendingin.

Perawaratan kuratif merupakan yang dilakukan untuk menanggulangi komponen sistem pendingin terjadi kerusakan. Perawatan ini membutuhkan biaya yang relatif besar dan perawatan ini dilakukan secara tiba-tiba tanpa adanya perencanaan. Kegiatan yang biasa dilakukan pada perawatan ini adalah mengganti komponen yang mengalami kerusakan seperti penggantian thermostat, penggantian pompa air , penggantian motor listrik fan pendingin.
Perawatan kuratif pada sistem pendingin mesin Mitsubishi L 300 biasa dilakukan di bengkel resmi, disamping peralatan SST Mitsubishi Motor yang lengkap juga ditangani oleh teknisi-teknisi bersertifikat Mitsubishi Motor.
Gejala dan kemungkinan yang terjadi pada sistem pendingin sebagai berikut :
1. Terlalu panas pada mesin
a. Kekurangan air, dapat diatasi dengan menambahkan air pendingin dan memeriksa kebocorannya.
b. Tali kipas yang kendur, dapat diatasi dengan menyetel kembali tali kipas.
c. Termostat rusak harus diganti.
d. Pompa air tidak bekerja dapat diatasi dengan pompa diperbaiki atau diganti.
e. Saluran pendingin radiator, water jacket yang tersumbat harus dibersihkan.

2. Terlalu dingin pada mesin
a. Termostat rusak, dapat diatasi dengan mengantinya.
b. Jika udara terlalu dingin, radiator harus ditutup agar dapat memperoleh tekanan dan temperatur kerja mesin terpenuhi dengan baik, sehingga sistem kerja mesin tidak terganggu.
3. Kehabisan air
a. Kebocoran pada radiator, dapat diatasi dengan memperbaiki radiator.
b. Selang yang longgar atau rusak, dapat diatasi dengan penghubung selang dipererat atau diganti.
c. Pompa air bocor,dapat diatasi dengan memperbaiki atau menggantinya.
d. Gasket kepala silinder yang bocor, dapat diatasi dengan mengencangkan baut atau mengganti baut.
4. Terdapat bunyi pada sistem pendingin.
a. Bantalan pompa yang longgar atau bengkok, dapat diatasi dengan mengganti rakitan bantalan.
b. Daun kipas pompa yang longgar atau bengkok, dapat diatasi dengan cara daun kipas dipererat, diperbaiki atau diganti.
c. Tali kipas sudah aus atau cacat, dapat diatasi dengan mengganti tali kipas.


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Semua kajian teori, Sistem Pendingin Dan Trouble Shooting Pada Mitsubishi L 300 ini dapat diambil beberapa kesimpulan:
1. Cara kerja pada sistem pendingin adalah air pendingin yang masih dingin disimpan didalam radiator, setelah mesin dihidupkan dan suhu naik, air pendingin dipompa menuju ke silinder head. Setelah suhu mencapai 82˚ C, thermostat akan terbuka dan mengalirkan air pendingin ke radiator untuk didinginkan.
2. Gangguan-gangguan yang sering terjadi pada sistem pendingin air adalah kebocoran, gangguan dari kotoran yang mengendap, sehingga aliran air tidak maksimal.
3. Cara mengatasi gangguan yang ada pada sistem pendingin adalah dengan memeriksa bagian-bagian pada sistem pendingin, seperti termostat, tutup radiator, pompa air, selang, apabila sudah tidak sesuai dengan spesifikasi harus diganti. Apabila radiator tersumbat maka harus dibersihkan dengan cara dikorok dan apabila water jacket tersumbat dibersihkan dengan menyemprotkan udara bertekanan.

B. Saran
Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam sistem pendingin:
1. Pemeriksaan sistem pendingin sebaiknya dilakukan secara periodik.
2. Sistem pendingin termasuk faktor utama yang mempengaruhi kerja mesin, maka perlu mendapat perhatian lebih dalam perawatan.
3. Misalnya untuk sistem pendingin perlu ditambahkan zat anti karat untuk mengurangi cepatnya proses korosi.
4. Kerusakan pada komponen mobil sebaiknya segera diperbaiki dan jangan menunggu kerusakan tersebut bertambah besar.






















DAFTAR PUSTAKA

Fajar Timur, 2004. Servis Sistem Pendingin Mitsubishi Lancer. Semarang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mitsubishi Motor, 1993, Pedoman Reparasi Mesin Seri 4G: PT. Mitsubishi Motor
Mitsubishi Motor, 1995, STEP 2 Training Manual : PT. Mitsubishi Motor
Toyota Astra Motor. 1996. New Step I Training Manual. Jakarta : Astra Motor.































LAMPIRAN-LAMPIRAN


Lampiran 1. Trouble Shooting pada Sistem Pendingin Pada Mitsubishi L 300.


1. Mesin terlalu dingin

No Penyebab Perbaikan
1 Termostat Rusak Mengganti Termostat
2 Udara luar terlalu dingin Menghindari radiator kontak langsung dengan udara luar



2. Mesin terlalu panas

No Kerusakan Penyebab Perbaikan
1 Radiator bocor Pemakaian lama dan kurangnya perawatan Menambal atau mengganti radiator yang telah bocor (kerusakan parah)
2 Radiator tersumbat Terdapat kerak dalam radiator Memberikan tekanan udara yang besar dari kompressor (ditambah zat anti beku)
3 Termostat tidak bekerja (macet) Pegas pendorong lemah ( tidak berfungsi ) Mengganti termostat
4 Pompa air rusak (macet ) Bantalan pompa rusak Mengganti seal yang rusak
5 Water jacket tesumbat Air pendingin yang terlalu lama dan tidak dibersihkan /diganti sehingga kotoran mengendap Meniupkan udara dengan bertekanan dari kompressor dari lubang-lubang yang tersumbat tersebut
6 Tutup radiator bocor Tekanan air pada radiator sangat tinggi dan tutup radiator tidak mampu menahan Mengganti tutup radiator
7 Terdapat bunyi pada sistem pendingin Bantalan pompa rusak dan daun kipas pompa longgar Ganti bantalan pompa dan ganti daun kipas pompa